Bruce Lee, Master Kungfu Paling Legendaris di Dunia (Bagian 2)

Bruce Lee, Master Kungfu Paling Legendaris di Dunia

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Bruce Lee, Master Kungfu Paling Legendaris di Dunia - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Tahun 1964, dalam suatu turnamen karate, Bruce mendemonstrasikan jurus pukulan satu inci yang legendaris. Seorang produser acara televisi sangat terkesan dengan penampilan Bruce yang penuh intensitas dan konsentrasi. Lalu ia melakukan pendekatan pada Bruce Lee.

Setelah melalui screening test, akhirnya Bruce mendapat peran sebagai kato dalam film Green Hornet. Kato hanyalah peran pembantu dalam film itu, namun popularitasnya mengalahkan peran utama, terlebih di Hong Kong.

Van Williams, bintang utama Green Hornet, menceritakan banyaknya stuntman terluka karena gerakan Bruce, akibatnya sukar mencari stuntman yang bersedia bekerja dengan Bruce. Bruce juga memiliki gerakan yang amat cepat untuk ditangkap kamera, sehingga Bruce terpaksa memperlambat gerakannya.

Setelah proyek "Green Hornet" usai, Bruce membuka sekolah kungfu lagi yang baru, bernama "Lee Jun Fan, Gung Fu Institute". Di tempat inilah Bruce Lee belajar menggunakan senjata nunchaku.

Para pesohor pun belajar kungfu di tempat ini, seperti Kareem Abdul-Jabbar, James Coburn, dan Steve McQueen. Popularitas Bruce pun meningkat, dan ini menaikkan nilai seorang Bruce Lee. Untuk satu sesi latihan selama satu jam, harga yang ditetapkan 300 dolar.

Di sekolah yang baru itu pulalah, Bruce menciptakan teknik Jeet Kune Do, teknik memotong serangan. Bruce berpendapat, memotong serangan lebih baik dan lebih cepat daripada menahan lalu melakukan serangan.

Tahun 1967, Bruce membintangi "A Man Called Ironside", sebagai seorang master martial art. Bruce sering melakukan adegan berbahaya sendiri tanpa stuntman. Karir filmnya terus berlanjut, sampai akhirnya ia bisa memenuhi cita-cita, yaitu dibayar lebih mahal daripada Steve McQueen per film.

Dengan pertimbangan tertentu, Bruce memutuskan melanjutkan karir filmnya di Hong Kong. Beberapa film dibintanginya, dan Bruce sudah dianggap sebagai pahlawan nasional. Tidak puas dengan itu semua, dia membuka perusahaan sendiri, karena ingin menulis skenario, menyutradarai, sekaligus membintangi film selanjutnya. Lagi-lagi Bruce berhasil, beberapa film produksi perusahaannya laris di pasaran.

Setelah berbagai film dibuat dan berbagai kesuksesan diraih, pada 10 Mei 1973 Bruce tiba-tiba pingsan selama setengah jam, saat mengisi dubbing untuk film "Enter The Dragon". Dokter memberinya resep Manatol, obat untuk mengatasi gejala brain swelling (pengembangan otak).

Pada 20 Juli 1973, Bruce berencana akan bertemu Raymond Chow dan Betty Ting Pei, yang akan menjadi salah satu bintang dalam film "Game of Death".

Di rumah Betty, Bruce mengeluh sakit kepala, kemudian meminum Aguagesic, obat sakit kepala yang biasa dikonsumsi Betty. Lalu Bruce merebahkan diri. Saat tertidur, ternyata serangan brain swelling datang kembali. Akhirnya Bruce meninggal di ruang gawat darurat RS Queen Elizabeth.

Related

Figures 127889170445207588
item