Hal-hal yang Perlu Dipikirkan Sebelum Memutuskan untuk Menikah

Hal-hal yang Perlu Dipikirkan Sebelum Memutuskan untuk Menikah

Naviri Magazine - Ingin menikah? Tentu setiap orang menginginkannya. Namun, cara untuk bisa menggapainya tak jarang diiringi tantangan dan rintangan. Tak jarang, faktor finansial menjadi halangan bagi sebagian orang yang akan segera menikah, sehingga ada yang menunda menikah.

Tentu alasan seseorang menunda menikah bukan sekadar karena masalah finansial, tetapi kadang ada alasan lain, entah karena ingin fokus pada cita-cita dulu, atau belum menemukan calon pasangan hidup yang cocok. Namun, kebanyakan orang yang menunda menikah rata-rata karena faktor finansial.

Faktor finansial sering menjadi keluhan bagi sebagian orang yang ingin segera menikah, lebih khusus bagi sebagian orang ingin melaksanakan pernikahan secara sederhana dan tak ingin mengeluarkan banyak biaya.

Di banyak tempat, orang-orang yang menikah sering kali mengeluarkan banyak biaya, mulai dari administrasi pernikahan, biaya untuk konsumsi tamu, riasan pengantin, dekorasi ruangan, mahar pernikahan, bawaan buat istri, hiburan, dan lain sebagainya. Cukup banyak pernak-pernik yang dikeluarkan untuk melaksanakan pernikahan, tak jarang hal itu membuat nyali sebagian orang ciut untuk segera melaksanakan pernikahan.

Sebenarnya, melaksanakan pernikahan bisa sederhana, yang penting ada kedua mempelai, wali nikah, saksi, dan mahar. Namun, dalam realita tak seperti itu. Tak jarang, karena adat dan kebiasaan di masyarakat, pernikahan harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit hingga menghabiskan saldo tabungan yang dimiliki.

Melihat realita yang ada di masyarakat, apakah menikah secara sederhana bisa dilakukan? Jawabannya bisa ya dan tidak.

Menikah secara sederhana mungkin saja dilakukan, namun kemungkinannya tidak besar. Lagi-lagi faktor adat dan kebiasaan yang mempengaruhi. Mungkin kita ingin menikah secara sederhana, tapi apakah keluarga kita menyetujuinya? Nyatanya, pikiran setiap orang tak selalu sama, sehingga terkadang susah untuk disatukan, hingga ujung-ujungnya melaksanakan pernikahan sesuai adat dan kebiasaan di masyarakat.

Tak jarang, orang memotivasi seseorang untuk menikah. Motivasi tersebut tentunya jangan ditelan mentah-mentah begitu saja, tetapi cermati dengan baik dan sesuaikan dengan kehidupan yang sedang kita jalani, karena bisa saja informasi tersebut hanya cocok bagi sebagian orang.

Jangan sampai semangat yang menggebu-gebu untuk segera menikah lupa akan realita hidup sendiri. Misal nekat melamar orang yang dicintai, dan meminta kepada orang tuanya untuk dinikahkan, sedangkan dia sendiri masih kuliah, belum memiliki pekerjaan tetap, dan penghasilannya tak menentu. Jelas, ini merupakan kenekatan yang keliru.

Meski memang soal rezeki itu Tuhan yang mengatur, tetapi menikah bukan sekadar nekat memutuskan dan hanya karena dorongan nafsu dan keinginan belaka. Menikah adalah hubungan jangka panjang, dan pikiran yang realistis harus dimiliki oleh setiap orang yang menikah.

Hidup yang kita jalani bukan cerita dongeng yang penuh keindahan dan selalu berakhir bahagia. Kehidupan yang kita jalani jelas jauh berbeda, karena selalu ada hal baik dan buruk di dalamnya.

Dari pada terus mengeluhkan biaya nikah yang tinggi, mengapa tak coba memperbaiki penghasilan dan memperbaiki diri saja? Tak perlu iri dengan mereka yang sudah menikah, toh semua hal pasti ada prosesnya masing-masing, cepat ataupun lambat.

Jangan terlalu mengharapkan pernikahan yang sederhana di tengah realitas masyarakat yang seringkali menghabiskan banyak biaya. Siapkan saja biaya pernikahan yang cukup, meskipun tak mewah, tapi bisa membekas di hati. Jika punya keinginan jangan malas dan teruslah bekerja dengan giat.

Menikahlah jika kita yakin menjalaninya, apalagi kalau sudah punya rumah dan kendaraan serta pekerjaan yang layak. Jika belum yakin untuk menikah, maka pertimbangkan ulang, jangan sampai hasrat dan keinginan mengalahkan segalanya tanpa memandang realita yang ada.

Related

Relationship 1121480868920001887

Recent

item