Apakah Otak Kita Tahu Saat Kita Sedang Berbohong? (Bagian 1)

Apakah Otak Kita Tahu Saat Kita Sedang Berbohong?

Naviri Magazine - Gelombang di otak tidak pernah berbohong. Atau paling tidak, itulah cerita yang diyakini oleh semakin banyak polisi dan pengadilan hukum di dunia, tetapi kebenaran sebenarnya lebih rumit dari itu.

Di Universitas Northwestern, Illinois, Amerika Serikat, sekelompok psikolog mengajar mahasiswa bagaimana melakukan kejahatan yang sempurna.

Mereka diajar bagaimana membobol sebuah kantor kecil kampus universitas, diberitahu tempat barang berharga, termasuk sebuah cincin perak, dan diberitahu waktu yang tepat untuk merampok agar terhindar dari penangkapan. Pada hari itu, masing-masing mahasiswa menjadi seorang pencuri.

Tentu saja 'kejahatan' ini dibuat-buat. Yang menarik perhatian para psikolog adalah bagaimana manusia mengontrol ingatan aksi kejahatan dan sampai sejauh mana hal ini bisa disembunyikan. Skenario kejahatan buatan dapat membantu dan temuannya akan membantu mengatasi kejahatan yang ditangani saat ini.

"Selama bertahun-tahun orang beranggapan ketika seorang penjahat diingatkan akan tindakannya, otak akan segera mengakuinya," kata Zara Bergstrom, psikolog Universitas Kent yang terlibat dalam kajian itu. "Tetapi tidak seorang pun ditanya apakah ini memang benar terjadi. Apakah orang dapat menghentikan otaknya mengingat sesuatu yang tidak ingin mereka pikirkan. Dan jika memang bisa, bagaimana hal ini bisa terjadi?"

Apakah kejahatan tertulis dalam gelombang otak?

Kenyataan bahwa persoalan ini masih perlu diteliti, dapat dipandang sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan. Dalam sepuluh tahun terakhir, ilmu syaraf pindah dari laboratorium ke sistem penegakan hukum dan pengadilan di dunia.

Dan meskipun telah diketahui bahwa tes kebohongan tradisional, poligraf tidak dapat dipercaya, asumsinya adalah generasi baru tes berdasarkan pemindaian otak, lebih kecil kemungkinan melakukan kesalahan. Kepercayaan terhadap teknologi begitu tinggi, sehingga hal ini telah memisahkan pihak yang bersalah dari yang tidak, terutama di India.

Tahun 2008, mahasiswa bisnis, Aditi Sharma, 24 tahun, dipenjara seumur hidup karena meracuni mantan tunangannya, Udit Bharati, dengan permen arsenikum. Bharati marah karena Sharma memutuskan pertunangan agar dapat bersama laki-laki lain.

Sementara bukti lainnya menunjukkan dirinya bersalah, Hakim Shalini Pransalkar Joshi di sidang menjelaskan bahwa pemindaian otak Sharma menunjukkan dia memiliki "pengetahuan berdasarkan pengalaman" terkait arsenikum, pembunuhan itu sendiri, dan cara Bharati dibunuh.

Pendekatan ini melibatkan interogasi terhadap terduga pelaku yang duduk diam di sebuah kamar kecil tanpa jendela, mendengarkan serangkaian pernyataan, sebagian terkait dengan kejahatan yang dilakukan. Sebuah topi dengan 30 elektroda mengikuti kegiatan otak dan memberikan informasi ke mesin electro-encephalograph (EEG).

Sejumlah ahli syaraf meyakini hal ini mengungkapkan apakah orang itu telah mengetahui hal tertentu, seperti alat yang dipakai untuk membunuh, atau luka yang dialami korban.

Salah satu tes sidik jari otak yang paling umum adalah mencari signal elektrik khusus otak, yang diberi nama P300. Signal ini menjadi besar ketika seseorang menerima informasi perkataan atau gambar terkait objek, orang atau lokasi yang berhubungan dengan ingatan yang sangat jelas atau emosional.

Hubungan P300 dengan ingatan pertama kali ditemukan ahli syaraf pada pertengahan tahun 60-an. Mereka menemukan peningkatan kegiatan elektrik yang konsisten di otak. Hal ini terjadi sekitar 300 milidetik setelah informasi, seperti melihat foto anggota keluarga. Tetapi diperlukan 30 tahun lagi sebelum seseorang berusaha menggunakan P300 untuk membongkar kejahatan.

Pendukungnya memandang tes ini dapat mengungkapkan apakah terduga pelaku mengetahui langsung suatu kejadian atau mendapatkan informasi dari sumber kedua.

Larry Farwell, mantan peneliti psikologi biologi di Harvard, adalah orang pertama yang mengembangkan teknik sidik jari otak dengan menggunakan P300. Dalam sebuah kasus penting, teknik ini terbukti sangat penting dalam mengumpulkan bukti terkait pembunuh berantai Amerika, JB Grinder, sampai akhirnya dia dihukum pada tahun 1999.

Tetapi P300 bukanlah satu-satunya gelombang otak yang dipakai teknologi sidik jari otak. Pada tahun 1997, ahli syaraf India Champadi Raman Mukundan, mengembangkan teknologi tes Brain Electrical Oscillatory Signature (BEOS) yang mengukur kehadiran ingatan melalui sejumlah perubahan halus data kegiatan otak. Tes BEOS sekarang digunakan di India.

"Proses memformulasikan informasi sangat memakan waktu," kata Mukundan. "Kami menggunakan informasi dari kejadian yang tidak berhubungan, yang kami ketahui terjadi dalam kehidupan mereka untuk menguji sistem kami, di samping informasi versi mereka terkait kejadian yang berhubungan dengan kejahatan, dan teori penyidik polisi."

Pendekatan ini terutama berupa menanyakan terduga pelaku untuk duduk diam di sebuah ruang kecil tanpa jendela, mendengarkan sebuah rekaman serangkaian pernyataan.

Jika tes memperlihatkan sinyal penting, hal itu akan diulang untuk memastikan kebenaran respons, kata Mukundan. Tes BEOS memerlukan kesediaan terduga pelaku untuk berpartisipasi dan adalah penting untuk memastikan sinyal apapun diungkapkan dalam cara yang tidak menuduh orang tersebut, katanya. "Kadang-kadang diperlukan pembicaraan pra-uji coba agar mereka berada di situasi kejiwaan yang tepat, agar mereka tidak terganggu saat tes berjalan."

Baca lanjutannya: Apakah Otak Kita Tahu Saat Kita Sedang Berbohong? (Bagian 2)

Related

Science 8017329861589499559

Recent

item