Apakah Otak Kita Tahu Saat Kita Sedang Berbohong? (Bagian 2)

Apakah Otak Kita Tahu Saat Kita Sedang Berbohong?

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Apakah Otak Kita Tahu Saat Kita Sedang Berbohong? - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Tingkat akurasi

Semua ini memberikan kesan tes BEOS, dan tes Farwell, telah dipikirkan secara matang sebelum digunakan untuk tujuan penegakan hukum. Mukundan mengatakan, jika dilakukan dengan benar, tes BEOS dapat mengetahui apakah terduga pelaku memiliki pengetahuan langsung suatu kejadian atau mendapatkan informasi lewat sumber kedua. Dia mengatakan tingkat ketepatannya sebesar 95%. Farwell mengatakan tesnya hampir benar 100%.

Polisi dunia teryakinkan. Polisi Singapura membeli teknologi sidik jari otak pada tahun 2013. Polisi Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, menandatangani kontrak penggunaan pada tahun 2014. Pejabat antiterorisme Australia saat ini sedang mengkaji penggunaan sidik jari otak untuk memastikan apakah seseorang yang kembali dari medan perang terlibat kegiatan ilegal dalam konflik saat mereka mengaku melakukan kerja kemanusiaan.

Tetapi tidak semua orang menyambut positif. Ahli syaraf terkemuka secara terbuka mengecam kurangnya penerbitan ilmiah dalam jurnal yang diedit sesama ilmuwan, untuk mendukung pernyataan Munkundan dan Farwell.

Sebagian orang khawatir, sama seperti poligraf, hasil sidik jari otak didapat lewat tes yang sangat bergantung pada cara dilakukannya tes itu. Yang diperlukan adalah protokol yang diakui dunia, kata Bergstrom.

Hal ini akan membantu untuk memastikan para jaksa tidak merekayasa tes, secara sengaja atau tidak, untuk meningkatkan kemungkinan menemukan respons otak yang dapat dipakai dalam proses peradilan. "Bergantung pada cara Anda memilih informasi, Anda akan menemukan apa yang Anda inginkan," katanya.

Apakah semakin banyak pengadilan dunia yang akan segera menerima teknologi ini?
Ada lagi hal lain yang tidak diketahui. Pendukung teknologi menegaskan pola kegiatan otak, seperti P300, adalah respons otomatis, sesuatu yang tidak bisa dikuasai terduga pelaku. Tetapi apakah ini suatu kebenaran?

Hal ini mengingatkan kita pada kejahatan buatan di Universitas Northwestern. Bergstrom dan koleganya mengkaji P300. Mereka ingin mengetahui apakah seorang yang bersalah dapat menipu tes sidik jari otak yang menggunakan sinyal dengan secara sengaja menutupinya sesuai dengan sinyal tingkat arti pentingnya.

Dalam sebuah kajian pendahuluan, mereka menanyakan subjeknya untuk melihat sejumlah foto kejahatan pada layar komputer, dan membayangkan mereka melakukannya, sebelum secara sengaja berusaha melupakan kejahatan ini selama tes sidik jari otak. Para peneliti menemukan sebagian orang dapat melakukan hal ini.

Bukti pendukung

Kejahatan palsu adalah tahap selanjutnya dari penelitian. Apakah seseorang dapat menipu tes jika mereka secara fisik melakukannya? Hasil pendahuluan mengisyaratkan bahwa mereka dapat melakukannya. "Kami menemukan sebagian orang sangat ahli dalam mengendalikan kegiatan otak, menekan sejumlah hal, bahkan ingatan tentang diri sendiri," kata Bergstrom.

Apakah kejahatan buatan dapat menjadi pembanding ingatan emosional mendalam saat terlibat kejahatan kekerasan sebenarnya memang masih bisa dipertanyakan. Sejumlah psikolog meyakini menanyakan sukarelawan untuk melakukan kejahatan dalam keadaan maya kemungkinan dapat memberikan cara untuk memeriksa apakah seorang yang bersalah dapat secara sengaja menipu tes.

Tetapi Bergstorm yakin, bahkan dengan apa yang sudah dia ketahui sampai sejauh ini, sidik jari otak seharusnya juga meneliti kegiatan otak yang akan mengungkap apakah seseorang secara sengaja menekan ingatannya.

"Memang benar, kemungkinan ada sebagian orang yang berhasil melupakan, apakah secara langsung atau tidak," kata Mukundan. "Kami memiliki sejumlah kasus di mana seseorang dapat menceritakan ingatan yang menyakitkan dari masa lalu, tetapi mereka sepertinya tidak mampu mengingatnya. Tetapi karena itulah sekarang BEOS hanya bisa dipakai sebagai bukti pendukung di pengadilan, di samping bukti utama."

Pada tahun 2008, koran Hindu melaporkan dewan nasional lima ahli syaraf mengajukan laporan mendorong sistem peradilan dan kebijakan India untuk tidak menggunakan teknologi itu, karena keefektifannya sebagai barang bukti terlalu terbatas. Tetapi usulan tersebut tidak diperhatikan.

Sidik jari otak dapat diterima sebagai bukti hanya di pengadilan India, tetapi banyak ahli hukum meyakini hal ini akan diubah.

"Hakim seperti biasa akan berpandangan ke belakang, lebih konservatif dan menuntut bukti kuat," kata Gary Gibson dari California Western School of Law. “Mereka ingin tahu, apakah hasilnya akan sama setelah dilakukan 1.000 tes? Apakah kita bisa yakin tes tidak bisa direkayasa? Tetapi bagaimanapun, cepat atau lambat, Anda akan menemukan hakim yang akan mengakui, kemungkinan dalam kasus perdata, karena risikonya lebih rendah. Tetapi ini akan mendobrak batasan pada kasus pidana."

Harapannya, hal ini terjadi setelah kita mengetahui cukup banyak tentang kemungkinan kelemahan teknologi dalam mengkaji temuan.

Related

Science 7302966079721727687

Recent

item