Menjual Ginjal Demi Beli iPhone, dan Menyesal Selamanya

Menjual Ginjal Demi Beli iPhone, dan Menyesal Selamanya

Naviri Magazine - Di kalangan teman-teman saya ada gurauan terkait ginjal. Biasanya, kalau kami lagi ingin punya sesuatu tapi tidak sanggup membeli, kami akan melontarkan gurauan agar menjual ginjal. Misalnya, “Apa aku harus jual ginjal, biar bisa punya itu, ya?”

Selama ini, saya mengira “menjual ginjal” hanya ada dalam gurauan antar teman. Lagian saya pikir, apa mungkin ada orang yang mau menjual ginjalnya demi suatu barang?

Tubuh kita memang punya dua atau sepasang ginjal. Jadi kalau yang satu dijual, tubuh kita bisa dibilang masih dapat berfungsi, meski dengan hanya satu ginjal. Tapi sekali lagi, saya pikir tidak ada orang yang mau menjual ginjalnya, apalagi demi suatu barang yang sifatnya duniawi.

Ternyata perkiraan saya salah. Ternyata di dunia ini memang ada orang yang memutuskan untuk menjual ginjalnya demi bisa membeli sesuatu.

Kisahnya, ada cowok yang ngebet ingin punya iPhone. Mungkin (ya sebenarnya bukan mungkin lagi) karena tidak punya duit, dia nekat menjual satu ginjalnya, hingga akhirnya bisa membeli iPhone impian. Si pembeli ginjal tentu orang yang kebetulan membutuhkan donor ginjal.

Mestinya kisah ini berakhir happy ending ya. Cowok itu dapat benda impiannya, dan orang yang membeli ginjal cowok itu juga bisa terselamatkan hidupnya. Tapi sayangnya tidak. Meski cowok itu berhasil membeli sesuatu yang ia impikan, yaitu iPhone, tapi belakangan dia menghadapi masalah yang mengenaskan. Cowok itu kemudian menderita gagal ginjal!

Gara-gara hal itu, si cowok hanya bisa berbaring di kasur, dan setiap hari harus menjalani proses cuci darah, karena ginjalnya kini tak bisa bekerja menghilangkan racun-racun di tubuhnya. Yang lebih mengenaskan, cowok itu akan menghadapi kondisi semacam itu sampai seumur hidup, kecuali kalau dia mendapat donor ginjal! Lhaaaah...

Apa sekarang si cowok harus menjual iPhone miliknya, agar bisa membeli ginjal yang baru? Sayangnya tak semudah itu, Ferguso! Umpama dia menjual iPhone itu pun, tetap saja dia tidak akan mampu membeli ginjal baru, karena harga ginjal (di pasaran gelap) sudah naik berkali-kali lipat. Itu pun kalau kebetulan ada orang lain yang mau menjual ginjalnya.

Membaca berita itu, saya merasa ngeri. Ya terus terang saya juga ingin punya iPhone. Ingin punya mobil juga. Ingin punya rumah. Ingin punya banyak barang duniawi lainnya. Tapi kalau harus menjual ginjal, rasanya kok ngeri.

Kalau harus diminta memilih antara punya ginjal yang sehat atau punya iPhone, saya tentu akan memilih punya ginjal sekaligus punya iPhone (dan punya mobil dan punya rumah dan punya yang lain). Tapi hidup tidak selalu semudah itu. Ada kalanya kita harus memilih satu di antara beberapa hal yang sama-sama kita inginkan.

Dalam hal itu, saya memilih yang wajar saja lah, yaitu tetap punya ginjal yang sehat dan utuh, meski mungkin tidak bisa memiliki semua yang saya inginkan, semisal iPhone.

Setidaknya, saya pikir, kalau kita sehat, dengan organ tubuh yang lengkap, kita masih bisa bekerja dan mengusahakan untuk punya barang-barang yang kita inginkan. Tapi kalau kita sakit, barang-barang yang kita miliki belum tentu bisa menyehatkan kita.

Jadi buat siapa pun yang mungkin sedang terpikir untuk menjual ginjal miliknya, ada baiknya untuk berpikir-pikir lagi. Apalagi jika alasan menjual ginjal hanya untuk benda-benda duniawi yang masih bisa kita usahakan untuk dimiliki, meski tanpa harus menjual ginjal. Karena harta paling berharga bukan iPhone atau gadget mahal lainnya, tapi kesehatan. Kata dokter sih begitu, dan saya percaya.

Sejak membaca berita itu pula (berita yang saya sebut di atas), saya jadi tidak berani bergurau soal itu lagi dengan teman-teman. Sebelumnya, saya mengira menjual ginjal (dan kehilangan salah satu ginjal) tidak menimbulkan masalah gawat, bahkan bisa ditertawakan bersama-sama. Tapi ternyata perkiraan kami keliru. Cowok dalam berita itu bisa menjadi contoh nyata.

Kehilangan ginjal bahkan mungkin lebih ngeri dibanding kehilangan pacar. Setidaknya, kehilangan pacar masih bisa berharap mendapat pengganti yang lebih baik.

Related

World's Fact 1765586859527545822

Recent

item