Kisah Boris Pasternak dan Novel Dr. Zhivago yang Legendaris (Bagian 1)

Kisah Boris Pasternak dan Novel Dr. Zhivago yang Legendaris

Naviri Magazine - Boris Leonidovich Pasternak lahir di Moscow, Kekaisaran Rusia, pada 10 Februari 1890.

Dia seorang penyair dan penulis Rusia yang terkenal di dunia Barat, karena novel epiknya, Dr. Zhivago, sebuah tragedi yang peristiwanya di seputar masa terakhir Kekaisaran Rusia dan hari-hari awal Uni Soviet, dan pertama kali diterbitkan di Italia pada 1957. Namun, sebagai penulislah ia banyak diperingati di Rusia.

Kehidupan awal

Boris Pasternak lahir di Moskow dari sebuah keluarga Yahudi. Ayahnya, Leonid, adalah seorang profesor di Sekolah Melukis Moskow, dan ilustrator karya-karya Leo Tolstoy. Ibunya, Rosa Kaufman, adalah pianis konser terkenal.

Orang tuanya banyak menerima kunjungan dari para penulis, seniman, dan intelektual Moskwa terkemuka, termasuk komponis Sergei Rachmaninoff dan Alexander Scriabin, penyair dan dramawan Alexander Blok, penulis Andrei Bely, dan penyair Rainer Maria Rilke, yang tulisan-tulisannya akan banyak memengaruhi Pasternak.

Cinta pertama Pasternak ialah botani, dan kedua ialah musik. Diilhami oleh Scriabin, Pasternak mempelajari komposisi selama 6 tahun, yang darinya 3 lagu piano telah diselesaikan.

Pasternak memasuki Konservatorium Moskow, namun keluar pada 1910 karena kurang percaya diri dalam kecakapan teknis. Ia memasuki Fakultas Hukum di Universitas Moskow, dan kemudian belajar filsafat di Universitas Marburg, Jerman. Akhirnya ia mendapat karier akademik, kembali ke Kekaisaran Rusia pada 1913, untuk meneruskan puisinya. Ia tidak berhasil dalam 10 tahun berikutnya.

Tidak bisa berdinas dalam militer karena terjatuh dari kuda yang membuat sebelah kakinya lebih pendek, Pasternak melewatkan masa Perang Dunia I dengan bekerja sebagai juru tulis di pabrik kimia, jauh di timur Moskow.

Karier

Debut puisi Pasternak adalah “Kembar dalam Awan” (1913), diterbitkan oleh Lirika, sebuah perusahaan penerbitan kooperatif yang dibentuknya bersama 7 penyair. Saat Lirikia bubar, Pasternak bergabung dengan kelompok futuris Tsentrifuga, yang membuang tradisi demi inovasi dalam gaya dan persoalan dengan para penyair seperti Sergei Bobrov dan Vladimir Mayakovsky.

Meski dipengaruhi unsur-unsur kota, simbolis, dan futuris, puisi-puisi awal Pasternak berbeda karena aliterasi, rima, irama, dan penggunaan metafora.

Ia menulis 2 buku pada 1917, “Saudariku, Hidup” serta “Tema dan Variasi”. Revolusi Bolshevik dan PD I menunda kemunculannya selama 5 tahun, saat ia menerjemahkan drama-drama Heinrich von Kleist dan Ben Johnson serta syair-syari karya para ekspresionis Jerman.

Saat diterbitkan pada 1922, “Saudariku, Hidup” memperoleh tempat di antara penulis utama masa itu. Bahasa tamsil dan idiomatiknya yang subur bertolak belakang dengan bentuk quatrinnya yang disiplin.

Di tahun yang sama, Pasternak menikahi mahasiswi Lembaga Seni, Evgeniya Lurye, dan membawanya ke Berlin untuk tinggal dengan keluarganya, yang akan tetap menampung mereka.

Inilah terakhir kali Pasternak melihatnya, karena lamaran izin berkunjungnya yang berulang-ulang ditolak. Pada 1923, pasangan ini dikaruniai anak lelaki bernama Evgenii. Pasternak menerbitkan “Tema dan Variasi” di tahun yang sama.

Masa Uni Soviet

Meski awalnya Pasternak menyambut baik Revolusi Bolshevik, kebrutalan pemerintahan baru itu membuatnya takut, sebuah pembalikan yang dinyatakan dalam kumpulan puisinya, “Jalan Udara” (1924), yang menunjukkan sikap tak acuhnya pada politik sebagai manusia utama dan perhatian seniman.

Pemerintahan Uni Soviet yang baru itu di bawah Vladimir Lenin, menyatakan bahwa seni harus memotivasi perubahan politik. Sedangkan Pasternak berpendapat bahwa seni berfokus pada kebenaran abadi daripada perhatian historis atau sosial. Atas sikapnya, ia menjadi pahlawan di antara para intelektual Uni Soviet.

Tinggal di rumah susun yang hiruk pikuk di Moskva, ia terus menulis puisi pendek, namun penyair dan seniman tidak memiliki tempat yang pasti di masyarakat. Selama 1920-an, puisinya berubah dari lirik ke bentuk naratif dan epik, menyebutkan Revolusi Rusia 1905 di “Penyakit Agung” (1924), “Letnan Schmidt” (1927), dan “Tahun 1905” (1927).

Gebrakan pertama Pasternak ke dalam prosa, “Spektorsky” (1931), menunjukkan pandangan dari kehidupan seorang penyair muda, yang menerima pasifitas dan fatalisme historis penulisnya sendiri dalam menghadapi Revolusi.

Saat banyak penulis dan seniman patah semangat dan tergoda untuk bunuh diri, Pasternak percaya bahwa para penyair harus terus berkarya saat seni dan spiritualisme tak lama bertahan. Ia menunjukkan teori ini melalui metafora "kelahiran kedua", judul kumpulan puisinya tahun 1932.

Baca lanjutannya: Kisah Boris Pasternak dan Novel Dr. Zhivago yang Legendaris (Bagian 2)

Related

Figures 9139927107298631122

Recent

item