Kisah Boris Pasternak dan Novel Dr. Zhivago yang Legendaris (Bagian 2)

Kisah Boris Pasternak dan Novel Dr. Zhivago yang Legendaris

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Boris Pasternak dan Kelahiran Novel Dr. Zhivago yang Legendaris - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Pasternak dikritik karena keberpusatan pada diri sendiri, sebuah sentimen yang diwujudkan dalam perkataan populer, "Segalanya berubah di bawah zodiak kita, hanya Pasternak yang tetap Pasternak."

Syair cinta “Kelahiran Kedua” juga menunjukkan perubahan dalam kehidupan pribadi Pasternak: ia jatuh cinta kepada Zinaida Neigauz, istri komponis Jerman, Genrikh Neigauz. Akhirnya ia meninggalkan Evgeniya, dan menikahi Zinaida.

Sementara puisi-puisi itu mengekspresikan optimisme yang baru ditemukan dan rekonsiliasi unsur lirik dan sosial, kelahiran kembali kesenimanannya berumur pendek. “Kelahiran Kedua” dan otobiografinya, “Tindakan Penyelamatan” (1931) menjadi karya asli terakhir Pasternak sebelum negara melarangnya untuk menerbitkan, menganggap karya-karyanya tidak sesuai dengan tujuan komunisme.

Pasternak terpaksa menjadi penerjemah sebagai mata pencahariannya yang lebih aman, bergelut dengan karya-karya klasik Johann Wolfgang von Goethe, Rilke, William Shakespeare, dan Paul Verlaine.

Berhasil dan imbang, ia bisa membeli rumah di sebuah desa, tepat di luar Moskow, pada 1936, yang akan menjadi rumah utamanya selama sisa hidupnya. Di akhir 1940-an, ia juga menerjemahkan tragedi utama Shakespeare, dan ini tetap menjadi versi standar yang digunakan di Rusia.

Selama PD II, saat pasukan Hitler berbaris ke Uni Soviet, Pasternak menerbitkan 2 kumpulan puisi baru, “Pada Awalnya” (1942) dan “Bumi yang Luas” (1945).

Pada 1945, putranya dengan Zinaida, Adrian, meninggal, sebuah kehilangan yang membuatnya sangat kehilangan. Di tahun berikutnya, Pasternak jatuh cinta dengan Olga Ivinskaya, yang sejak itu menjadi istri de facto-nya, meski ia tetap tinggal seatap dengan Zinaida. Olga mengilhami puisi-puisi cintanya kelak, dan menjadi prototipe Lara di Dr. Zhivago.

Pasternak adalah salah satu penyair yang kurang terkenal semasa hidupnya.

Selama perang, surat-surat yang diterimanya dari garis depan mengingatkannya pada pencapaian yang telah dicapai suaranya. Ia tidak ingin kehilangan kontak ini dengan massa. Maka, Pasternak mulai mengerjakan novel yang memuja kebebasan, kemerdekaan, dan kembali ke agama Kristen, yang akan menjadi Dr. Zhivago.

Mendasarkan ceritanya pada pengalaman sendiri di masa perang dan revolusi, Pasternak menggunakan Yuri Zhivago sebagai corong kepercayaan filsafat dan artistiknya. Ia menampilkan ketidakmampuan Zhivago untuk memengaruhi nasibnya sebagai suatu kesalahan, namun sebagai tanda bahwa ia diperuntukkan menjadi saksi artistik atas tragedi di usianya.

Himpitan ideologi pemerintahan pascaperang memaksa Pasternak mengerjakan karyanya diam-diam. Ditolak di Uni Soviet, Dr. Zhivago diselundupkan ke dunia Barat pada 1957 dan pertama kali terbit dalam bahasa Italia, dan kemudian dalam bahasa Inggris pada 1958.

Novel epik tentang kehidupan dan cinta seorang dokter dan penyair Yuri Zhivago selama pergolakan politik di Rusia pada abad ke-20 itu dinyatakan sebagai gabungan gaya lirik, deskriptif, dan dramatik epik yang berhasil. Buku itu, yang berakhir dengan sebuah siklus puisi Zhivago, diterjemahkan ke dalam 18 bahasa.

Penghargaan Nobel 

Pada Oktober 1958, Pasternak dianugerahi Hadiah Nobel dalam Sastra, "untuk pencapaian pentingnya dalam puisi lirik kontemporer dan di bidang tradisi epik Rusia."

Pemerintah Uni Soviet, yang tak senang dengan penggambaran kehidupan yang keras di bawah komunisme, memaksanya menolak Penghargaan Nobel Sastra, dan mengeluarkannya dari Persatuan Penulis Uni Soviet.

Meski tak dikirim ke pembuangan atau penahanan, semua terbitan terjemahannya tertunda, dan ia jatuh miskin.

Tahun-tahun terakhir

Ia menulis buku lengkap terakhirnya, “Saat Udara Cerah”, pada 1959. Di musim panas itu, ia memulai “Kecantikan yang Buta”, sebuah drama tentang seorang seniman yang diperbudak selama masa perbudakan di Rusia, namun jatuh sakit akibat kanker paru-paru sebelum ia menyelesaikannya.

Pasternak meninggal di rumahnya di Peredelkino, pada malam 30 Mei 1960, dalam usia 70 tahun. Saat mendengar kematiannya, ribuan orang berdatangan dari Moskow untuk menghadiri pemakannya. Bagi orang Rusia, ia tetap menjadi lambang perlawanan terhadap teror dan penindasan.

Pada 1988, Persatuan Penulis Soviet mendudukkan Pasternak kembali secara anumerta, membuat penerbitan Dr. Zhivago di Uni Soviet menjadi mungkin. Putra Pasternak, Evgenii, menerima medali Penghargaan Nobel atas peringatan ayahnya di Stockholm, pada 1989.

Related

Figures 8953259425131475228

Recent

item