Ajaib, Bocah SMP Ini Bisa Mendeteksi Penyakit Tanpa Alat Bantu

 Ajaib, Bocah SMP Ini Bisa Mendeteksi Penyakit Tanpa Alat Bantu

Naviri Magazine - Sri Daren (13), pelajar kelas I SMP, meraih rekor Muri setelah menunjukkan kemampuannya mendeteksi penyakit dan permasalahan pada organ-organ tubuh manusia, tanpa menggunakan alat bantu, dan menerapinya.

Kelebihan yang dimiliki Dharen itu ditunjukkannya di kantor Museum Rekor Indonesia (Muri), Jalan Perintis Kemerdekaan Semarang, dengan memeriksa penyakit dan menerapi sejumlah orang yang hadir.

Beberapa karyawan PT Jamu Jago, yang terletak satu kompleks dengan Muri, memanfaatkan kesempatan itu untuk mendeteksi penyakitnya, di samping satu-dua pasien yang memang memiliki penyakit kronis.

Menurut Kanna Dasan (49), ayah Dharen, kemampuan anaknya itu diketahuinya secara tak sengaja beberapa tahun lalu, ketika sedang makan bersama keluarga, tiba-tiba anaknya menyampaikan sesuatu hal.

"Ketika itu, Dharen baru berusia sembilan tahun. Dharen tiba-tiba bilang kalau bisa melihat isi perut saya. 'Bentuk kantong nasi ayah kok tidak sama seperti perut ibu. Agak lonjong'," katanya.

Ketika itu, lanjut dia, dikatakan perutnya juga berisi busa-busa seperti asam. Daren kemudian meminta izin untuk memegang perut ayahnya. Setelah itu, Kanna langsung muntah dan terasa lebih baik.

"Kebetulan, saya pernah periksa endoskopi, yang hasilnya ternyata sama dengan apa yang dia (Dharen) bilang. Setelah kejadian itu, saya kemudian cerita teman yang menderita batu ginjal," kisahnya.

Ternyata, ujar dia, penyakit batu ginjal kawannya sembuh setelah lima hari diterapi Dharen, kemudian makin lama semakin banyak pasien dengan berbagai penyakit mendatangi kediamannya untuk berobat.

"Kami tidak meminta biaya pengobatan. Namun, saya batasi waktunya menerima pasien, karena Dharen kan juga harus sekolah," ungkap warga Perumahan Gading Serpong-Kluster Michelia MI 3 Nomor 6, Tangerang itu.

Putra kedua pasangan Kanna Dasan (49) dan Wani Sri (38) itu melayani pasien di kediamannya, setiap Senin sampai Jumat, pukul 17.00 hingga 19.00 WIB, hari Sabtu mulai pukul 10.00 sampai 14.00 WIB, sementara hari Minggu libur.

Pasien remaja kelahiran Semarang itu berdatangan dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri, yang diobatinya secara langsung maupun dengan media foto atau video yang dikirimkan.

"Kalau pasien tidak bisa datang, bisa mengirimkan foto atau video. Tetapi waktu pengambilannya tidak boleh lebih dari dua jam. Sampai saat ini, sudah ada sekitar 7.000 pasien yang datang ke Dharen," terangnya.

Demi mendukung kemampuan anaknya, Kanna maupun istrinya selalu menyempatkan membaca buku-buku kedokteran untuk mengetahui sedikit tentang ilmu medis, di samping Dharen yang juga rajin membaca buku.

Sementara itu, Daren mengaku bahwa kemampuannya melihat organ dalam manusia itu dimilikinya secara tiba-tiba, sehingga kemudian membandingkan bentuk organ-organ yang dimiliki setiap orang untuk mendeteksi kelainan.

"Saya ditemani ayah saat menerima pasien, tetapi kadang juga sendiri. Kalau di sekolah, ya tidak (menerapi), tidak boleh sama ayah. Harus di rumah," kata remaja yang bercita-cita jadi dokter itu.

Pada kesempatan itu, siswa SMP Atisa Dipamkara Karawaci itu dianugerahi rekor Muri sebagai "Terapis yang Mampu Mendeteksi Penyakit dan Organ Tubuh Tanpa Alat Bantu" dengan nomor rekor 6013/R.MURI/VI/2013.

Related

World's Fact 3261400780978231775

Recent

item