Kajian Ilmiah di Balik Konspirasi Penyebab Munculnya LGBT (Bagian 1)

Kajian Ilmiah di Balik Konpirasi Penyebab Munculnya LGBT

Naviri Magazine - Ada desain besar yang harus dipahami oleh semua pihak di balik kampanye LGBT, karena  merupakan salah satu “alat tunggangan” dari agenda besar para elit dunia dalam mengurangi jumlah penduduk (depopulation) di dunia.

LGBT adalah akronim “lesbian, gay, biseksual, dan transgender”. Apakah LGBT salah? Menurut Al-Quran, perilaku itu salah. Menurut Alkitab, perilaku itu juga salah. Menurut hukum alam, perilaku itu juga salah.

Manusia secara alami diciptakan sebagai pria dan wanita, agar mereka dapat berkembang biak secara natural. Bayangkan jika Tuhan menciptakan hanya satu gender, maka Anda tak akan pernah lahir. Sangat simpel.

Bendera atau panji LGBT

Pada Jumat, 26 Juni 2015 lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis di 50 negara bagian.

Jika menurut kitab-kitab suci agama, LGBT adalah perilaku yang jelas-jelas salah, lalu mengapa di banyak negara LGBT dilegalkan?

Pertanyaan itu tidak mudah untuk dijawab. Seharusnya, yang ditanyakan adalah, jika mereka memang beragama, mengapa LGBT dilegalkan oleh mereka? Apakah mereka benar-benar beragama?

Umat beragama pastinya mengikuti apa yang ada di kitab-kitab suci mereka, bukan apa yang diingini oleh kaumnya, yaitu kebebasan tanpa batas. Walau Tuhan memang menciptakan segalanya tanpa batas, namun karena itulah agama diturunkan melalui kitab suci, agar manusia memiliki batasan, dan kitab suci adalah panduan.

Itu artinya Tuhan memberikan hidup kepada manusia di dunia, yang sengaja dipenuhi oleh kebaikan dan keburukan, sebagai ujian terhadap imannya sebelum akhirnya jiwa manusia kembali kepadaNya dengan membawa “catatan” hasil dari tes iman mereka, dari segala jenis hawa nafsu, mulai dari kesombongan hingga kemusyrikan selama di dunia.

Istilah LGBT

Istilah LGBT adalah singkatan dari lesbian (menyukai sesama wanita), gay (menyukai sesama pria), biseksual (menyukai wanita dan juga pria), dan transgender (menyukai sesama jenis, dan mengubah dirinya menjadi lawan jenisnya).

Istilah LGBT digunakan semenjak tahun 1990-an silam, dan menggantikan frasa “komunitas gay”, karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan.

Akronim itu dibuat dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman “budaya yang berdasarkan identitas seksualitas dan gender”. Kadang-kadang, istilah LGBT digunakan untuk semua orang yang tidak heteroseksual, bukan hanya homoseksual, biseksual, atau transgender.

Maka dari itu, seringkali huruf Q ditambahkan, agar queer dan orang-orang yang masih mempertanyakan identitas seksual mereka juga terwakili, contohnya: “LGBTQ” atau “GLBTQ“, tercatat semenjak tahun 1996.

Huruf lain yang dapat ditambahkan adalah “U” untuk “unsure” (tidak pasti); “C” untuk “curious” (ingin tahu); “I” untuk interseks; “T” lain untuk “transeksual” atau “transvestit”; “T”, “TS”, atau “2” untuk “Two-Spirit”; “A” atau “SA” untuk “straight allies” (orang heteroseksual yang mendukung pergerakan LGBT); atau “A” untuk “aseksual”.

Ada pula yang menambahkan “P” untuk panseksualitas atau “polyamorous,” dan “O” untuk “other” (lainnya). Istilah panseksual, omniseksual, fluid, dan queer, dianggap masuk ke dalam “biseksual”. Demikian pula, bagi beberapa orang, istilah transeksual dan interseks masuk ke dalam “transgender”, meskipun banyak transeksual dan interseks yang menolaknya.

Ada pula istilah “SGL” (“same gender loving“, pecinta sesama jenis), kadang-kadang digunakan orang Afrika-Amerika untuk memisahkan diri dari komunitas LGBT yang menurut mereka didominasi orang kulit putih.

Ada pula istilah “MSM” (“men who have sex with men“, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki), secara sinis dipakai untuk mendeskripsikan laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki lain, tanpa merujuk pada orientasi seksual mereka.

Ada pula frase “MSGI” (“minority sexual and gender identities“, identitas seksual dan gender minoritas) yang diperkenalkan pada tahun 2000-an, digunakan untuk merangkum semua huruf dan akronim, namun masih belum banyak digunakan.

Majalah Anything That Moves menciptakan akronim FABGLITTER (Fetish, seperti komunitas gaya hidup BDSM [merupakan kegiatan alternatif seksual yang melibatkan suatu roleplay atau permainan peran], Allies atau poly-Amorous, Biseksual, Gay, Lesbian, Interseks, Transgender, Transsexual Engendering Revolution (Revolusi Kelahiran Transeksual) atau inter-Racial attraction (ketertarikan antar ras), tetapi istilah ini juga tidak banyak digunakan.

Akronim lain yang mulai menyebar pengunaannya adalah QUILTBAG (Queer/Questioning, Undecided [belum ditentukan], Interseks, Lesbian, Trans, Biseksual, Aseksual, Gay). Akan tetapi, istilah ini juga belum umum.

LGBT memasuki agama dan kepercayaan

Pada masa kini, mereka kembali dan sudah memasuki semua agama dan kepercayaan, juga nyaris semua negara, ras atau suku, serta golongan di seluruh dunia

Istilah-istilah dan singkatan di atas perlu disebutkan, supaya Anda dapat mengetahui untuk dapat mendeteksi keberadaan mereka, atau kelompok mereka, yang biasanya disembunyikan (secret societies), terutama di negara-negara yang tak mengakui mereka, untuk dapat melebarkan pengaruhnya atau menyebarkan paham mereka kepada lainnya, serta agar mereka tak berusaha memberikan pengaruh kepada yang lain, baik di tengah masyarakat di Indonesia ataupun di dunia.

Kelainan ketertarikan seksual yang sejak zaman nabi Luth ini telah ditegur keras, kini kembali, dan pada masa kini mereka sudah memasuki semua agama dan kepercayaan, juga nyaris semua negara, ras atau suku, serta golongan di seluruh dunia.

Agenda besar para elit dunia

Kaum LGBT pada masa kini telah masuk ke dalam lintas agama, sosial, suku, ras, budaya, negara, politik, dan antar golongan. Dan sepertinya hanya Korea Utara yang masyarakatnya tak mengenal LGBT.

Hal ini terbukti dalam program National Geographic Channel: Inside North Korea, di mana masyarakat di negara itu tak tahu apa itu lesbian, juga apa itu gay (homoseksual). Masyarakat yang ditanya secara acak atau random hanya mengerutkan kening sambil berpikir, dan balik bertanya, “Apa itu?”

Bahkan di Korea Utara, yang dianggap komunis dan memiliki pemimpin diktator serta negaranya begitu tertutup oleh informasi, terbukti tidak ditemui adanya kasus atau korban HIV apalagi AIDS, alias nol.

Berbeda di Korea Utara, berbeda pula di negara lain. Kini, kaum LGBT mulai terang-terangan berusaha mengajak masyarakat untuk mengubah orientasi seksnya, dari normal ke arah LGBT di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Bahkan, mereka berani meminta supaya LGBT diakui sebagai kenormalan.

Ada desain besar yang harus dipahami oleh semua pihak di balik kampanye LGBT, karena merupakan salah satu “alat tunggangan” dari agenda besar para elit dunia dalam mengurangi jumlah penduduk (depopulation) di suatu negeri.

Dengan menikah atau berhubungan sesama jenis, maka tidak akan menghasilkan keturunan, dan itu rawan terkena berbagai macam penyakit berat, misalnya jika terjadi pendemik AIDS, sehingga menyebabkan pertumbuhan penduduk menjadi negatif. Bahkan secara statistik, LGBT mampu mengerem dan menurunkan pertumbuhan suatu negeri.

Karena itu, pemerintah tetap perlu memberikan hak-haknya bagi siapa saja yang mengalami masalah LGBT yang ingin menjadi normal. Tetapi, jika mereka mengkampanyekan LGBT apalagi menularkan kepada orang lain yang normal, maka negara harus turun tangan untuk menyelesaikannya.

Karena jika tidak, selain memangkas penduduk, anak-anak hasil adopsi kaum ini akan dikontrol pikirannya oleh orang tua mereka, untuk menjadi kaum yang sama seperi orang tuanya, dan begitu seterusnya.

Baca lanjutannya: Kajian Ilmiah di Balik Konspirasi Penyebab Munculnya LGBT (Bagian 2)

Related

Science 855646517129733242

Recent

item