Mengapa Hampir Semua Makhluk Hidup Berhubungan Seks (Bagian 1)

Mengapa Hampir Semua Makhluk Hidup Berhubungan Seks

Naviri Magazine - Burung, lebah, simpanse, manusia, kita semua melakukannya. Tetapi hanya sebagian dari kita yang menyadari bahwa reproduksi seksual sebenarnya pertama kali mengalami perubahan pada makhluk yang sangat berbeda dengan kita.

Jadik siapa mereka dan bagaimana semua hal ini bermula? Apa cerita sebenarnya di balik seks?

Kelahiran reproduksi seksual selalu menjadi teka-teki bagi ilmuwan. Di bumi terdapat 99% makhluk banyak sel, organisme besar yang dapat kita lihat, yang berkembang baik secara seksual. Mereka semua memiliki mekanisme unik masing-masing, tetapi mengapa proses ini berubah, sebenarnya masih tetap misteri besar.

Banyak spesies yang sangat terpaku pada seks, dan akan melakukan banyak hal untuk mendapatkan pasangan.

Bowerbird jantan membuat sarang canggih untuk mempesona betina; ekor glow-worm betina menjadi biru untuk menarik perhatian jantan; bahkan wewangian bunga adalah cara untuk mempesona serangga yang akan membawa serbuk ke tanaman tetangga dan membuahinya.

Menggabungkan DNA

Bahkan dengan keragaman besar ini, semua organisme yang berkembang biak secara seksual memiliki cara dasar yang sama untuk mendapatkan keturunan, dua anggota spesies yang sama menggabungkan DNA mereka untuk menghasilkan genom baru.

Sebelum seks berevolusi, semua pengembangbiakan dilakukan tidak secara seksual, yang pada dasarnya adalah pemisahan sel, sebuah organisme membagi diri menjadi dua bagian.

Mekanismenya sederhana, mengkopi-dan-memisahkan, dan ini adalah sesuatu yang semua bakteri, sebagian besar tanaman dan bahkan sejumlah binatang lakukan, paling tidak untuk sementara waktu.

Mekanisme reproduksi aseksual lebih efisien dan tidak serepot reproduksi seksual. Spesies aseksual tidak meluangkan waktu dan tenaga untuk mencari dan mempesona pasangan, mereka berkembang dan memisahkan diri menjadi dua bagian.

Bandingkan itu dengan proses bermasalah dan berbahaya saat menarik perhatian pasangan reproduksi seksual. Dan terdapat juga biaya seks yang begitu jelas. Menyatukan dua genom terpisah memerlukan proses yang berbeda, sebuah telur harus dibuahi.

Ini juga berarti masing-masing orang tua mewarisi setengah gen mereka ke keturunannya. Orang tua aseksual menghasilkan keturunan yang sama persis dengan diri mereka, yang sepertinya pendekatan yang lebih baik bagi dunia yang menginginkan keberlangsungannya.

Jadi dengan memperhatikan semua hal ini, mengapa begitu banyak spesies yang melakukan langkah panjang dan berliku reproduksi seksual, sementara terdapat jalan langsung?

Seks mestinya memberikan sejumlah keuntungan evolusi yang mengalahkan kekurangannya.

Di tahun 1886, ahli biologi evolusi Jerman, August Weismann, mengatakan reproduksi seksual mengacak gen untuk menciptakan 'perbedaan individual' dasar seleksi alam.

Himpun sumber daya

Seks adalah kesempatan bagi dua organisme spesies yang sama, untuk menghimpun sumber daya. Sebagian keturunan mereka akan membawa campuran gen baik yang menguntungkan dari kedua orang tua, yang berarti mereka akan lebih baik bereaksi terhadap tekanan lingkungan yang berbahaya bagi spesies aseksual.

Seks bahkan mempercepat tingkat evolusi, yang jelas merupakan suatu keuntungan keadaan lingkungan juga berubah dengan cepat.

Bukti keuntungan seks didapat dari kajian speses aseksual yang didorong untuk menjadi seksual. Organisme satu sel primitif puas dengan reproduksi aseksual, tetapi karena tekanan lingkungan mereka menjadi spesies seksual.

Asal reproduksi seksual sejak lama menjadi misteri karena kita mengamati dunia seperti apa adanya sekarang, dimana banyak organisme aseksual hidup dan sejumlah organisme dapat berkembang biak dalam cara keduanya, tetapi sepertinya lebih menyukai reproduksi aseksual.

Sebagian organisme ini adalah ragi, keong, starfish dan aphids. Tetapi sebenarnya metode reproduksi yang mereka pilih bergantung pada keadaan lingkungan sekitar, sebagian besar berkembang biak secara seksual hanya saat bermasalah, dan bereproduksi aseksual pada sebagian besar hidupnya.

Tetapi dunia masa lalu adalah tempat yang lebih sulit didiami, karena lingkungan yang berubah dengan cepat. Dalam situasi ini, tingkat mutasi yang tinggi memaksa organisme aseksual menjadi seksual.

Mengapa perlu jantan?

Catatan fosil di dalam batu dapat memberitahu lebih banyak tentang asal reproduksi seksual, tetapi fosil jarang dan sulit ditemukan sehingga tidak mudah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Chris Adami dari Michigan State University mengkaji proses ini secara teoritis. Adami menjelaskan, Anda dapat melihat evolusi berdasarkan informasi, hal yang Anda perlukan untuk bertahan hidup. Evolusi adalah “pemeliharaan dan penguasaan informasi; semakin banyak pengetahuan, semakin baik Anda,” katanya.

Jadi ini adalah sebuah proses 'belajar', sebuah organisme 'belajar' informasi baru, terutama dalam lingkungan yang berubah, dan organisme meneruskan pelajaran tersebut (pada DNA-nya) kepada generasi berikutnya, untuk membantu mereka bertahan hidup.

Seks memungkinkan ini terjadi secara efisien, memberikan cara lebih mudah bagi spesies untuk 'mengingat' informasi berguna, dalam kode di gen. Karena proses ini melibatkan pemilihan pasangan yang mencapai kematangan seksual lewat pemilihan yang baik.

Seks berarti pemilihan pasangan yang baik, yang berarti masa depan yang lebih baik bagi keturunan Anda. "Penguasaan dan pemeliharaan informasi diperlukan agar evolusi bekerja, mengingat masa lalu dan membayangkan masa depan.”

Faktor pemilihan membantu menjelaskan teka-teki selanjutnya, mengapa kita memerlukan jantan? Jika hanya setengah dari keturunan, betina, yang akan menghasilkan keturunan, mengapa evolusi memerlukan anak laki-laki? Mengapa tidak membuat semua keturunan yang dapat menghasilkan anak?

Baca lanjutannya: Mengapa Hampir Semua Makhluk Hidup Berhubungan Seks (Bagian 2)

Related

Sexology 8910836849257574736

Recent

item