Inilah 7 Layanan Streaming Film Terbesar dan Paling Populer di Indonesia

Inilah 7 Layanan Streaming Film Terbesar dan Paling Populer di Indonesia, naviri.org, Naviri Magazine, naviri

Naviri Magazine - Survei terbaru YouGov mengungkap kebiasaan warganet dalam mengonsumsi film. Ternyata, 63% warganet di Indonesia menonton situs web streaming atau situs torrent. Sebagian besar menonton situs IndoXXI.

Seakan tahu akan diburu oleh pemerintah, IndoXXI pun mengibarkan bendera putih. Setelah selama ini main kucing-kucingan dengan gonta-ganti alamat situs, kali ini sepertinya IndoXXI sudah lelah. Per 1 Januari 2020, tidak ada lagi penayangan film di situs tersebut.

Kemenkominfo juga mengajak penikmat sinema untuk mulai beralih memanfaatkan situs resmi yang mayoritas berbayar, dengan tetap mendorong kepada situs berbayar tersebut untuk mulai membayar pajak yang selama ini masih nihil.

Pun, tak banyak yang paham bahwa tidak sedikit situs streaming video dan film resmi tersebut menawarkan jasa berbayar yang tidak mahal kepada penggunanya, atau bahkan banyak 'gratisannya'.

Berikut beberapa di antaranya yang terkenal dengan layanan over the top (OTT), atau layanan streaming video yang dapat dinikmati penonton melalui internet, yang tidak lagi membutuhkan sambungan kabel, penyiaran, dan televisi satelit.

Viu

Viu adalah situs website yang sudah dilengkapi aplikasi untuk ponsel pintar, yang siap memanjakan pecinta film Asia, khususnya film drama asal Korea Selatan (Korsel) atau biasa disebut 'Drakor'. Selain film Korsel, Viu juga menawarkan drama negara Asia lain seperti Jepang, Thailand, India, dan Hong Kong.

Karena fokus di drakor dan film Asia, Viu tidak memiliki portofolio pada serial TV Hollywood, sepak bola, anime, dokumenter, dan film terbaru.

Dengan layanan standar yang gratis tetapi disisipi iklan, Viu juga menawarkan layanan berbayar yang paling terjangkau di antara penyedia streaming lain, yaitu Rp 30.000/bulan untuk lima gawai sekaligus dalam waktu bersamaan.

iflix

iflix adalah layanan televisi dan video interaktif (video on demand, VOD) yang memungkinkan penggunanya untuk mengontrol dan memilih sendiri tontonan yang ingin dinikmati.

Berkantor di Malaysia, iflix mulai diluncurkan di Indonesia mulai Juni 2016, dengan diawali masuknya Grup Elang Mahkota Teknologi (Emtek) sebagai salah satu penyokong pendanaan. Selain Indonesia, iflix sudah memiliki jaringan di 13 negara Asia.

Aplikasi tersebut dapat didapatkan secara gratis, jika kita berlangganan internet indiHome atau beberapa operator lain, seperti Indosat Ooredoo dan XL Axiata, karena sudah memasukkan iflix sebagai bagian dari paket langganan.

Satu hal yang kurang dari iflix yaitu ketersediaan film terbaru yang sedang diputar di bioskop. Bagi yang ingin berlangganan, per bulan pelanggan diharuskan membayar Rp 39.000 untuk dua gawai yang memungkinkan kualitas gambar HD.

Catchplay

Layanan VOD Catchplay memungkinkan penikmat film untuk menyewa atau menonton sinema asal Mandarin maupun Hollywood. Karena berbasis di Taiwan sejak 2006, referensi film Mandarin yang ditawarkan Catchplay dikenal lebih melimpah dibanding penyedia streaming video lain.

Sejak memulai bisnis distribusi film, saat ini Catchplay memiliki titel sebagai distributor hak atas judul DVD terbesar di dunia, dengan lebih dari 2.200 judul film.

Meskipun memiliki banyak keunggulan, Catchplay tidak menayangkan serial TV Hollywood, drakor, film India, sepakbola, anime, dan dokumenter.

Di Indonesia, tersedia layanan yang gratis, dan untuk tarif niriklan dikenakan tarif Rp 45.000/bulan.

Genflix

Karya anak bangsa ini dinaungi PT Festival Citra Lestari. Karena statusnya perusahaan domestik, Genflix memiliki lebih banyak pilihan pembayaran bagi penggunanya.

Konten lokalnya yang bejibun juga menjadi daya tarik tersendiri, selain film Hollywood dan film negara lain. Karena itu, portofolio film Genflix tidak sebanyak situs lainnya.

Sayangnya, Genflix terkenal tidak menyediakan drakor, tidak ada pertandingan sepakbola, dokumenter, serta film terbaru. Saat ini, Genflix ditawarkan dengan biaya berlangganan Rp 49.000/bulan untuk sekaligus sebanyak tiga gawai.

Hooq

Aplikasi Hooq memungkinkan pengguna menikmati film, baik dari Hollywood maupun lokal dan regional, kapan pun dan dimana pun, dengan keleluasaan untuk menonton streaming maupun mengunduh setiap film yang ingin ditonton.

Perusahaan ini adalah usaha patungan antara Sony Pictures, Warner Bros, dan Singtel, yang berdomisili di Singapura.

Layanan yang tidak ada dalam daftar Hooq adalah sepakbola, anime, dan dokumenter. Selain menawarkan paket per pekan, biaya berlangganan Hooq adalah Rp 69.000/bulan dengan tambahan adanya promo gratis selama 30 hari.

Meskipun tidak ada layanan gratis, tetapi ada masa promosi yang diberikan Hooq, yaitu 7 hari dan 30 hari untuk periode 'coba-coba'. Layanan ride-hailing Grab juga diketahui memberikan langganan Hooq gratis selama 3 bulan kepada pelanggan premiumnya sejak awal tahun ini.

Amazon Prime Video

Situs streaming VOD ini dimiliki oleh perusahaan multinasional Amazon yang berkantor pusat di Seattle (AS). Dulunya, perusahaan diluncurkan pada 2006 sebagai Amazon Unbox, sekarang perusahaan sudah berkembang dan memberikan layanan di lebih dari 200 negara.

Platform ini menawarkan perpustakaan yang menarik dari acara TV dan film. Koleksinya memang lebih terbatas dari beberapa pesaingnya, tetapi Prime Video mengimbangi kekurangan tersebut dengan menjaga kualitas produk asli.

Bagi pelanggan baru Amazon Prime Video, layanannya dibanderol promo 6 bulan pertama US$ 2,99/bulan atau Rp 40.000/bulan untuk tiga gawai sekaligus dalam satu waktu bersamaan. Memasuki bulan ke-7, pelanggan akan dikenakan biaya US$ 5,99/bulan atau Rp 80.000/bulan.

Netflix

Inilah pelopor bisnis VOD di dunia. Didirikan sejak 1997, Netflix sudah merambah produksi film sendiri yang diputar di platformnya. Di seluruh dunia, pelanggan berbayar Netflix sudah mencapai 148 juta orang lebih.

Dua hal yang tidak ada di dalam daftar layanan Netflix adalah sepakbola dan film terbaru, meskipun diimbangi dengan banyaknya serial dan film yang diproduksi internal atau didistribusikan secara eksklusif dan menjadi hits, seperti 6 Underground, Mindhunters, Glow, dan Black Mirror.

Dengan keunggulan tersebut, tidak heran harga langganan Netflix yang dipatok di Indonesia lumayan termahal.

Paketnya ditawarkan Rp 109.000/bulan untuk satu gawai (paket basic), Rp 139.000/bulan per dua gadget (paket standard), hingga Rp 169.000/bulan untuk digunakan empat piranti dalam satu waktu yang bersamaan (paket premium).

Secara umum, biaya berlangganan layanan Netflix dan kawan-kawannya juga harus diantisipasi ketika mereka akan dikenakan pajak yang selama ini belum dibayarkan kepada pemerintah, dan baru akan digiatkan.

Logika sederhananya adalah biaya tersebut dapat naik sewaktu-waktu, karena perusahaan akan berbagi biaya dengan pelanggan untuk memenuhi beban pajak tersebut.

Related

Lifestyle 6327587236238840737

Recent

item