Memahami Hakikat Doa: Tidak Sekadar Berharap Pertolongan Allah

Memahami Hakikat Doa: Tidak Sekadar Berharap Pertolongan Allah, naviri.org, Naviri Magazine, naviri

Naviri Magazine - Ketika menghadapi suatu masalah atau memiliki hajat tertentu, kita melakukan ikhtiar-ikhtiar manusiawi, termasuk salah satunya berdoa kepada Allah SWT. Celakanya, kita menganggap ikhtiar atau doa sebagai sebab atas pemenuhan hajat atau keberhasilan dalam melewati masalah tersebut.

Hal ini tentu kekeliruan cara pandang kita terhadap ikhtiar manusiawi, termasuk doa dalam kaitannya dengan pertolongan Allah, di mana hubungan doa dan pertolongan Allah merupakan relasi sebab akibat atau kausalitas. Kekeliruan cara pandang ini kiranya perlu diluruskan, sebagaimana disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini:

“Jangan maknai permintaanmu sebagai sebab atas pemberian Allah, yang menunjukkan kekurangpengertianmu terhadap-Nya. Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah pernyataan kehambaan, dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan.”

Menurut Syekh Ibnu Athaillah, kausalitas doa dan pemberian Allah lazimnya dipahami oleh mereka yang makrifatullah-nya belum sempurna, sehingga Allah dipahami secara mekanis, bahwa doa merupakan sebab atas pemberian-Nya. Hal ini berbeda dengan ahli makrifat yang memandang doa sebagai manifestasi dari kehambaan mereka dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan.

Hikmah Syekh Ibnu Athaillah diulas lebih lanjut oleh Syekh Syarqawi. Menurutnya, segala bentuk ibadah dan amal saleh termasuk doa yang dapat dipahami sebagai bentuk tawajuh seorang hamba kepada Allah, jangan diniatkan sebagai sebab atas anugerah-Nya. Niatkan itu semua sebagai bentuk pengabdian manusia kepada Allah SWT.

Mengapa hubungan kausalitas doa dan anugerah Allah sebagai kekeliruan yang mengandung bahaya? Anggapan keduanya sebagai hubungan kausalitas itu berbuntut panjang. Ada konsekuensi logis dari cara pandang kausalitas tersebut.

Syekh Ahmad Zarruq mengulas masalah ini lebih jauh. Menurutnya, hubungan kausalitas itu dapat mempengaruhi rasa syukur dan ridha kita terhadap Allah. Celakanya, kalau kita terjebak dan masuk ke dalam kelompok orang-orang yang kufur nikmat, dan tidak ridha atas putusan-Nya, sebagaimana penjelasan Syekh Ahmad Zarruq berikut ini:

“Letak ketidakpahaman terhadap-Nya karena logika kausalitas adalah bahwa jika diberi, mereka tidak bersyukur. Kalau pun bersyukur, rasa syukurnya kendur karena memperhatikan sebab atas pemenuhan hajat mereka, karena manusia biasanya lebih bahagia atas pemberian Allah tanpa memakai sebab dibanding pemberian-Nya dengan memakai sebab tertentu.

“Kalau tidak diberi, mereka tidak ridha. Kalau pun ridha karena tidak diberi, mereka tidak melihat pilihan Allah, tetapi melihat kelalaian diri mereka sebagai hamba Allah. Pandangan mereka seperti ini tidak sempurna. Tetapi yang dituntut dari mereka adalah seperti yang dikatakan oleh Syekh Ibnu Athaillah, yaitu ‘Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah wujud pernyataan kehambaan dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan’.” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 141).

Hikmah Syekh Ibnu Athaillah bukan sama sekali menyarankan kita untuk berhenti atau tidak berdoa. Hikmah ini membuka pandangan kita terhadap doa sebagai ikhtiar yang sama statusnya dengan bentuk ikhtiar manusiawi lainnya. Hikmah ini hanya mengingatkan kita untuk menggeser cara pandang kita terhadap doa.

Hikmah ini mengajak kita untuk menyadari siapa diri kita di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, hikmah ini mendorong kita untuk tetap berdoa kepada Allah dalam kondisi apa pun, baik dalam menghadapi masalah yang signifikan maupun tidak, dalam kondisi berhajat maupun dalam kondisi cukup, sebagai bentuk kehambaan kita sebagai makhluk-Nya. Wallahu a‘lam.

Related

Moslem World 3849109118647754794

Recent

item