Menjadi Cewek Cantik Ternyata Tidak Seenak yang Kita Bayangkan

Menjadi Cewek Cantik Ternyata Tidak Seenak yang Kita Bayangkan, naviri.org, Naviri Magazine, naviri

Naviri Magazine - Para perempuan ingin punya wajah cantik, dan keinginan itulah yang membawa mereka pada upaya perawatan diri, baik di rumah maupun di salon. Aneka produk perawatan kecantikan pun digunakan, demi tujuan memiliki wajah cantik dan rupawan. Dalam bayangan mereka, mungkin, memiliki wajah cantik akan memungkinkan mereka menikmati hidup yang lebih indah. Namun apakah benar begitu?

Billi Gordon, ahli syaraf dan ahli psikologi di University of California, Los Angeles, Amerika Serikat, menulis artikel di Huffington Post, berjudul "11 Alasan Jadi Sangat Cantik itu Problematis".

Mengutip testimoni dari beberapa perempuan cantik yang ia tuangkan di Psychology Today, di luar privilise serta anggapan masalah hidup akan lebih enteng, perempuan cantik juga menghadapi risiko pelabelan-pelabelan atas dasar generalisasi. Beberapa di antaranya berasal dari rasa iri perempuan lain.

Serupa dengan yang dialami lelaki ganteng, perempuan cantik turut dilabeli "modal tampang saja." Gordon menulis jika mereka dianggap "bodoh dan kosong." Lagi-lagi, penilaian kualitas diri mereka oleh orang lain sebatas penampilan luar belaka. Beberapa narasumber mengaku muak dengan pandangan ini.

Perempuan yang terlalu cantik, di satu sisi, membuat minder laki-laki biasa yang tidak ganteng, atau ganteng tapi belum mencapai level kecantikan si perempuan.

Tapi di sisi lain, mereka susah mengekspresikan diri di luar melalui pakaian atau riasan. Perempuan normal tidak memiliki masalah ini, tulis Gordon, mengutip pengalaman salah seorang narasumber.

Poin-poin yang Gordon sampaikan dalam artikel tersebut menyoroti bagaimana laki-laki memperlakukan perempuan cantik sebagai aksesori. Dengan demikian, perempuan cantik disamakan dengan pakaian formal atau mobil mahal.

Narasumber itu juga bilang bahwa perlakuan yang sama juga datang dari perempuan yang dekat dengannya, yang tipikal gampang merasa canggung. Teman narasumber perempuan cantik tersebut memanfaatkan si narasumber hanya untuk menaiki tangga status sosial dan untuk membesarkan rasa percaya dirinya.

Status perempuan cantik dipandang lebih tinggi, sehingga laki-laki kerap menganalogikannya sebagai trofi. Perempuan ini dijadikan buruan demi rasa bangga jika bisa memilikinya. Dan jika sudah memilikinya, layaknya barang mahal atau langka lain, mereka kerap dipamerkan ke orang-orang terdekat si pasangan.

Perempuan cantik juga lebih rentan menjadi korban pelecehan seksual. Seluruh narasumber rata-rata punya cerita pernah diikuti oleh pria asing yang terobsesi dengan mereka. Pria ini mengikuti kemana pun mereka pergi. Salah satunya bahkan ada yang masuk ke rumah dan mencuri pakaian dalam mereka.

Terakhir, kecantikan juga membuat hubungan si perempuan dengan perempuan lain menjadi problematis. Perempuan normal merasa terintimidasi, apalagi jika level kecantikannya terlalu senjang. Kepercayaan diri mereka anjlok, dan ujung-ujungnya membuat si perempuan yang kelewat cantik susah menjaga hubungan dengan teman perempuan mereka.

Related

Psychology 7893489442491448019

Recent

item