Pramoedya Ananta Toer, Penulis dan Pengarsip Paling Tekun di Indonesia

Pramoedya Ananta Toer, Penulis dan Pengarsip Paling Tekun di Indonesia, naviri.org, Naviri Magazine, naviri

Naviri Magazine - Sebagian besar orang mungkin mengenal mendiang Pramoedya Ananta Toer sebagai seorang sastrawan dengan deretan penghargaan internasional, yang kerap mengkritik pemerintah yang sedang berkuasa.

Pameran Namaku Pram: Catatan dan Arsip menampilkan sisi lain lelaki kelahiran Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada 1925 itu sebagai seorang pengarsip.

Pameran ini diadakan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation dan Titimangsa Foundation, sekaligus menjadi acara ketiga yang mereka gelar untuk mengenang sang sastrawan yang akrab dipanggil Pram itu.

Pada 2016 dan 2017, dua lembaga tersebut pernah menggelar pementasan Bunga Penutup Abad, yang merupakan adaptasi dua novel karangan Pram berjudul Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Kali ini, Bakti Budaya dan Titimangsa berkolaborasi dengan Dia.Lo.Gue Artspace untuk menggelar pameran Namaku Pram: Catatan dan Arsip.

Pendiri Titimangsa, Happy Salma, mengatakan pameran Namaku Pram merupakan pembuktian dari janjinya saat membuat Bunga Penutup Abad.

"Dua tahun yang lalu, saya mempunyai nazar bahwa apabila pementasan Bunga Penutup Abad sukses, saya ingin membuat sebuah pameran yang berfokus pada Pram," ungkap Happy dalam acara pembukaan pameran yang berlangsung di Galeri Indonesia Kaya, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

Berbagai barang-barang yang dipakai sang sastrawan diperlihatkan dalam pameran, terutama yang berhubungan dengan kegiatannya yang senang mencatat apa saja. Lelaki yang meninggal pada 2006 ini memang seorang pengarsip sejati. Itu terlihat dari caranya dalam menyimpan barang, yang sudah dibuktikan oleh Happy.

Awal 2000-an, Happy berkenalan dengan keluarga si penulis, berawal dari kekagumannya pada sosok Pram. "Secara tidak langsung, ia menjadi guru hidup saya," ujar Happy. Pada 2004, ia bertemu Pram untuk pertama kali di rumahnya, daerah Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Happy terkagum-kagum dengan perpustakaan Pram yang berisi banyak arsip dan catatan. Saat itu pulpen Happy ketinggalan. Beberapa waktu berselang, Happy berkesempatan menemui sastrawan yang dikenal melalui tetralogi Pulau Buru itu. Dia terkejut begitu melihat pulpennya masih tersimpan di perpustakaan Pram.

"Pulpen saya masih disimpan dengan baik, (ada tulisan) 'Milik Happy Salma, tahun 2004'," kenang Happy. Tentu saja yang disimpan dan diarsipkan Pram tak hanya barang remeh seperti pena saja. Ia juga meninggalkan sejarah berupa kesan kehidupan melalui tulisan-tulisannya.

"Harta bisa hilang, tapi memori tidak akan pernah bisa hilang. Pram bisa mencatat semua memori yang ada di pikiran dan perasaan di dalam dokumentasi yang menjadi harta selama-lamanya," ucap Happy. Itulah yang ingin ia perlihatkan dalam pameran.

"Indonesia pernah mempunyai seorang penulis yang tidak hanya unggul dalam karya, tetapi juga merupakan seorang pencatat yang rajin dan konsisten dalam mendokumentasikan berbagai peristiwa dari seluruh pelosok Tanah Air," tambah Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Untuk menambah sisi personal sang penulis, keluarga Pram juga dilibatkan dalam pameran, salah satunya adalah sang putri, Astuti Ananta Toer. "Seluruh keluarga terlibat, mereka harus tahu bagaimana cara kerja opanya," ujar Astuti.

Selain melibatkan keluarga, sederet pelaku seni juga terlibat dalam pameran, seperti Studio Dasar, LeBoye, Table Six, Riop, Visual Journal, dan Serrum.

"Pameran ini merupakan kolaborasi dari berbagai lintas bidang seni, seperti desain grafis, arsitektur, teater, dan video art," ujar Engel Tanzil, pemilik Dia.Lo.Gue Artspace.

Related

Figures 3348019931504822742

Recent

item