Penggemar Harry Potter Gempar, Severus Snape Ternyata Perempuan (Bagian 2)

Penggemar Harry Potter Gempar, Severus Snape Ternyata Perempuan naviri.org, Naviri Magazine, naviri

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Penggemar Harry Potter Gempar, Severus Snape Ternyata Perempuan - Bagian 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Bagi Ensnapingthesenses, Fatuma dan Maltese, Snape mengisi peran tersebut dalam kehidupan Harry.

"Hubungan Harry dan Snape mengingatkan saya akan interaksi seorang anak remaja perempuan dengan Ibunya, dimana keduanya memiliki isu temperamen tinggi, karena mereka saling menularkan sifat ini," tulis Ensnapingthesenses.

Masih ada banyak contoh tekstual lainnya yang mendukung teori trans Snape menurut Ensnapingthesenses—hal-hal kecil seperti flashback di The Deathly Hallows, ketika Snape muda terlihat mengenakan blus Ibunya, Eileen.

Di The Half-Blood Prince, Harry dan Hermione memeriksa tulisan tangan Snape di sebuah kopi buku Advanced Potion Making, tidak menyadari bahwa "Half-Blood Prince" sesungguhnya adalah Snape dan "prince" merupakan referensi terhadap nama tengah Ibunya.

Ketika sedang membaca buku Advanced Potion-Making, Harry menemukan sebuah halaman yang tidak ada hubungannya dengan pembuatan ramuan. Di halaman tersebut ada semacam instruksi mantera yang tampaknya diciptakan oleh Prince sendiri.

Harry mengira Prince sudah pasti adalah seorang lelaki, tapi Hermione memotong dan mengatakan bisa saja dia adalah seorang perempuan karena tulisan tangannya lebih mirip tulisan tangan perempuan.

Bagi Ensnapingthesenses, praktik tradisi ilmu sihir yang diasosiasikan dengan feminitas, dan tulisan tangan Snape yang cenderung feminin, merupakan indikasi dari "seorang perempuan muda yang berusaha mengekspresikan gendernya secara diam-diam."

Ketika remaja, Snape merupakan seorang outsider, sementara teman-teman lelakinya—Remus Lupin, Peter Pettigrew, Sirius Black, dan James Potter—tergabung dalam geng pembuat onar Gryffindor. Di bab 28 The Order of the Phoenix, Marauders, nama geng pembuat onar ini, mempermalukan Snape di depan umum dengan cara mengangkat tubuh Snape ke udara, menyebabkan celana dalamnya tersingkap.

Hobi Lupin menggoda orang lain terus berlanjut hingga dewasa: di Prisoner of Azkaban, ketika dia menjadi profesor Defense Against the Dark Arts di Hogwarts, dia mengajarkan murid-muridnya tentang sebuah makhluk yang disebut boggart, yang tinggal di dalam kegelapan dan ruang sempit. (Lupin menyimpan boggart-nya di dalam kloset.)

Boggart dapat bertransformasi menjadi apa pun yang menjadi ketakutan utama orang yang melihatnya, dan hanya bisa dikalahkan dengan mantera Riddikulus yang membuat Boggart menjadi sosok yang humoris.

Bagi Neville Longbottom, boggart mengambil sosok Severus Snape, dan ketika dia melepas mantera Riddikulus, sosok Snape berubah menjadi Snape mengenakan pakaian perempuan dan mengundang gelak tawa satu kelas.

Bagi Ensnapingthesenses, "Penghinaan Lupin dalam bentuk Snape-boggart yang sangat pribadi (yang keluar dari sebuah kloset!)" merupakan contoh yang kuat bahwa Snape dipermalukan karena dianggap feminin.

"Saya merasa bahkan diam-diam Snape menderita dari semua prasangka buruk di sekitarnya," kata Esnapingthesenses. "Semua insiden yang terjadi terhadap Snape menjadi masuk akal begitu Anda menyadari fakta tentang identitas sesungguhnya. Teori Snape adalah perempuan transgender adalah konsep yang tidak membutuhkan bukti solid—tapi nyatanya semua bukti itu ada."

Salah satu rahasia terdalam Snape adalah mantera Patronus—sebuah mantera perlindungan kuat yang mengambil bentuk binatang sebagai representasi sisi spiritual penggunanya. Baik Snape dan Lily sama-sama memiliki patronus rusa betina, dan ini diinterpretasikan sebagai lambang cinta sejati Snape bagi Lily. Namun teori ini pastinya akan lebih ribet kalau benar Snape itu perempuan.

Komunitas Trans Snape meyakini bahwa Patronus Snape merupakan bukti lain bahwa Snape memainkan peran Ibu bagi Harry Potter—namun yang lebih penting, rusa betina ini dianggap sebagai proyeksi harfiah identitas gender perempuan Snape.

Fakta bahwa Patronus Lily juga berbentuk rusa betina berhubungan dengan fakta bahwa Snape menggantikan Lily sebagai Ibu. Selain mencintai Lily, Snape juga mungkin ingin menjadi seorang perempuan seperti Lily.

Kalau kita pikirkan baik-baik, interpretasi ini jauh lebih masuk akal dibanding terus-terusan mencintai gebetan masa kecil, beberapa dekade setelah mereka meninggal. "Hubungan Snape dengan Lily, dalam banyak hal, mengingatkan saya akan hubungan yang saya miliki dengan perempuan cis ketika saya masih remaja," ujar seorang perempuan trans bernama Lilyana.

Fakta bahwa "Patronus Snape dan Lily sama bentuknya bukan sekadar lambang cinta romantis... bahwa penjelmaan jiwa Snape dalam bentuk fisik dan sihir sama-sama berbentuk sosok feminin seperti Lily bisa menjadi indikasi bahwa Snape memang faktanya adalah seorang perempuan trans."

Snape bagi pendukung teori ini, tak terbantahkan lagi statusnya sebagai transperempuan.

Memiliki patronus yang sama dengan Lily membuat Snape unik di dalam dunia penyihir—dan jangan lupa, bahwa penampakan rusa betina Snape yang membuat Harry menemukan Pedang Griffindor. Maltese menulis bahwa adegan inilah, dari seluruh seri, yang memastikan bahwa Snape itu perempuan.

"Di Harry Potter and the Deathly Hallows, Snape menampilkan sosok perempuannya, ketika dia diam-diam mengarahkan Harry ke Pedang Gryffindor lewat penggunaan Patronusnya," kata Maltese. "Di adegan ini, Snape bak memainkan peran The Lady of the Lake," sebuah figur sastra yang kerap muncul di buku-buku King Arthur.

The Lady of the Lake memberikan pedang Excalibur ke Arthur, sama seperti Snape memberikan Pedang Gryffindor ke Harry.

Jangan lupakan juga proses kematian Snape ketika dia mengorbankan diri demi kebaikan Hogwarts: Snape dengan mulia berpartisipasi dalam plot terencana dengan Dumbledore, dimana dia pura-pura membunuh sang kepala sekolah dan meyakinkan murid-murid dan rekan-rekannya percaya bahwa dia adalah anak buah Lord Voldemort. Barulah setelah meninggal, semua orang memahami pengorbanan dan jasa Snape.

Secara umum, dalam sejarah ada banyak sekali usaha untuk membuat tokoh jahat queer di cerita fiksi, problematika yang disadari oleh banyak anggota komunitas Snape. Namun menurut mereka, Snape berhasil lolos dari jebakan peran ini.

"Snape sengaja ditulis sebagai queer agar tampak jahat," kata Fatuma. "Biasanya ketika penulis menggunakan formula 'oh tapi mereka sebetulnya orang baik kok', karakternya kehilangan elemen queer, dan kembali menjadi orang cis dan straight. Tapi tidak untuk Snape, yang berhasil meninggalkan kesan bagi pembaca serial Harry Potter, sebagai salah satu tokoh antagonis yang ternyata bersifat baik dan queer."

Related

Entertaintment 5878451593884037809

Recent

item