Kebiasaan Traveling Bikin Generasi Milenial Kesulitan Beli Rumah

Kebiasaan Traveling Bikin Generasi Milenial Kesulitan Beli Rumah, naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Menurut survei yang dilakukan Rumah123, generasi milenial diprediksi sulit memiliki rumah dalam beberapa tahun mendatang. Diperkirakan, hanya 5% dari generasi milenial yang bisa memiliki rumah di Jakarta, sisanya entah tinggal di mana.

Menurut Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung, ada 2 faktor mengapa hal itu terjadi. Pertama, harga rumah yang melambung tinggi, rata-rata kenaikan harga rumah per tahun paling kecil mencapai 17%. Kedua, penghasilan kaum milenial yang masih rendah.

Namun, selain kedua faktor tersebut, ada faktor lain, yakni kebiasaan atau gaya hidup kaum milenial yang cenderung boros. Mereka terbiasa dengan barang-barang yang selalu up to date, seperti smartphone.

Merka juga lebih mementingkan liburan atau travelling memenuhi keinginan untuk berselfi ria di tempat yang indah, ketimbang memenuhi kebutuhan hidup utama seperti membeli rumah.

"Travelling sebenarnya tidak masalah, hanya saja harus tahu prioritasnya. Kalau bisa ditunda kenapa enggak. Travelling bisa ditunda, harga tiket tidak naik tinggi. Tapi kalau beli rumah ditunda, semakin lama semakin tidak mampu. Pernah kenaikan harga rumah sampai 100% per tahun," tuturnya.

Lantara mengedepankan gaya hidup, generasi milenial cenderung merasa tidak masalah jika harus tinggal di hunian sewa. Padahal tinggal di hunian sewa jauh lebih mahal.

"Kalau yang punya mau jual atau tidak mau perpanjang, berarti harus pindah lagi. Padahal biaya pindahan itu mahal," imbuhnya.

Lalu, bagi generasi milenial yang memiliki orang tua berkecukupan, juga diprediksi tidak jauh berbeda. Mereka mungkin bisa mendapatkan rumah dengan hasil warisan dari orang tuanya. Namun jika kehidupannya terbiasa dimanja, dan penghasilannya tidak sebaik orang tuanya, maka ada kemungkinan rumah warisannya dijual.

Survei Rumah123 mengambil contoh, saat ini harga rumah berukuran 70 meter persegi di Sumarecon Bekasi sudah mencapai Rp 1,2 miliar. Sementara untuk ukuran yang sama di Tambun, Bekasi, sudah mencapai Rp 600 jutaan.

"Menurut data di situs kami, rumah seharga Rp 300 jutaan juga sudah hampir tidak ada. Rata-rata sudah di atas Rp 1 miliar, untuk rumah second," imbuhnya.

Berdasarkan house price to annual income ratio atau rasio harga rumah berbanding pendapatan per tahun, harga rumah yang sebaiknya dibeli maksimal 3 kali dari penghasilan tahunan (12 kali gaji, bonus dan THR). Jika diambil contoh rumah seharga Rp 600 juta, maka generasi milenial harus memiliki penghasilan per tahun Rp 200 juta atau per bulan Rp 16 jutaan.

Menurut survei Rumah123, hanya 4% lebih kaum generasi milenial yang memiliki gaji per bulan sebesar itu. Jadi sebenarnya pemasukan generasi milenial saat ini terbilang biasa-biasa saja.

Lalu, jika saja rumah seharga Rp 600 jutaan dibeli dengan cara dicicil, maka asumsinya harus menyediakan DP 15%, sekitar Rp 90 juta. Sisanya, Rp 510 juta, diangsur.

Misalnya jangka waktu cicilan selama 15 tahun, maka cicilan rumah per bulan adalah sekitar Rp 6 jutaan per bulan. Berdasarkan perencana keuangan, cicilan rumah yang baik adalah 30% dari penghasilan per bulan. Itu artinya harus memiliki gaji di atas Rp 18 juta per bulan.

Related

Property 7475189426983669825

Recent

item