Bekerja di Kantor Open Space ternyata Membuat Karyawan Tersiksa

Bekerja di Kantor Open Space ternyata Membuat Karyawan Tersiksa, naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Menurut penelitian, 80 persen kantor di Amerika Serikat berkonsep open space. The Guardian melaporkan bahwa Inggris punya dua kali lipat kantor open space dari rata-rata kantor open space di dunia.

WeWork—yang terus mewujudkan misinya untuk mengisi tiap bangunan kantor yang kosong dengan furnitur dari abad pertengahan—adalah perusahaan berkonsep open space yang sepenuhnya percaya bahwa konsep macam ini bisa menggenjot produktivitas dan meningkatkan kolaborasi.

Apa benar begitu? Tidak. Kerja di kantor berkonsep open space membuat kita lebih mudah terdistraksi. Rasanya seperti sedang menonton acara TV yang sangat ditunggu-tunggu, tetapi adikmu melakukan hal konyol. Ujung-ujungnya kamu menengok ke arahnya untuk melihat apa yang dia lakukan.

Vice pernah menerbitkan artikel yang membuktikan pengalaman bekerja di kantor seperti ini sangat mengganggu, tidak nyaman, bahkan meningkatkan stres (penelitian tentang stres di ruang kantor terbuka menunjukkan bahwa karyawan yang mudah cemas jarang mengubah posisi/postur, yang berpotensi menyebabkan gangguan muskuloskeletal).

Konsep open office turut meningkatkan risiko penyebaran kuman. Akibatnya, karyawan sering izin tidak masuk kerja karena sakit, dan jika ada yang flu pasti gampang menular.

Konsep open space juga tidak meningkatkan produktivitas. Penelitian dari Harvard membuktikan bahwa desain kantor terbuka justru menurunkan produktivitas karyawan.

Orang introvert tidak bisa bekerja dengan baik di kantor open space, begitu pula yang bukan introvert. Mereka akan sensitif terhadap setiap rangsangan, suara, gerakan, dan suhu AC. Konsentrasi mudah pecah, dan akhirnya tidak fokus kerja.

Cara bekerja kita sudah lama berubah. Kita sekarang bisa bekerja dari laptop, secara remote atau lepas, dan mementingkan portofolio. Akan tetapi, kita tetap harus pergi ke kantor yang posisi duduknya berdempetan.

Generasi tua mungkin menciptakan desain ruang kantor terbuka sebagai reaksi dari kantor berbilik yang ada pada zaman mereka dulu. Sayangnya, mereka tidak mempertimbangkan hal-hal yang mungkin menghambat rencana mereka dalam meningkatkan produktivitas karyawan.

Misalnya, bagaimana kita bisa berkonsentrasi kalau rekan kerja sering kirim chat lewat GChat, Slack, email, Whatsapp, Messenger, atau aplikasi lain yang digunakan kantor?

Kantor berkonsep open space katanya bisa membangun kerja sama antar karyawan. Tujuannya memang bagus, tetapi kenyataannya tidak sesuai harapan. Profesor Cal Newport, mengutip co-founder Twitter Jack Dorsey dalam buku Deep Work, "Kami mendorong orang untuk bekerja di tempat terbuka karena kami percaya pada kebetulan—dan mereka bisa berinteraksi dan saling mengajarkan hal baru dengan orang lain."

Para peneliti Harvard menemukan bahwa "konsep open space memicu respons alami manusia untuk menjauhkan diri dari rekan kerja, dan membuat mereka lebih suka berinteraksi lewat email dan IM."

Selain itu, data yang dirilis oleh peneliti dari Auckland University of Technology, yang diambil dari 1.000 responden, menunjukkan bahwa hubungan pertemanan karyawan yang bekerja di kantor open space lebih buruk daripada mereka yang bekerja di kantor berbilik dan secara remote.

Hal ini tidak mengherankan, karena konsep kantor seperti ini jarang memberikan batasan, kontrol, dan rasa hormat. Berbagai divisi sering ditempatkan dalam satu ruangan.

Beberapa orang butuh ketenangan supaya bisa fokus, ada juga yang butuh keheningan saat menelepon klien. Kamu terpaksa menyaksikan dan mendengar segala hal yang terjadi di ruangan, dan merasa sebal sendiri dengan rekan kerja yang suka ngomong keras-keras.

Kita tidak menginginkan jenis kantor seperti ini. Menurut penelitian terbaru dari Oxford Economics, generasi millennial lebih "suka tempat kerja yang tidak bising" dan "fokus bekerja tanpa gangguan apa pun." Sayangnya, banyak anak muda terjebak bekerja di kantor berkonsep open space.

Kebanyakan kantor tidak mengizinkan karyawannya kerja jarak jauh, walau sebagian orang terbukti bisa tetap bekerja dengan baik tanpa harus hadir secara fisik. Satu-satunya ide saat ini untuk menggantikan konsep open space adalah bekerja tanpa meja. Makin konyol saja, ya?

Related

Psychology 5577227719245169081

Recent

item