Ini Peluang Investasi yang Menguntungkan Saat Ekonomi Lesu Akibat Corona

Ini Peluang Investasi yang Menguntungkan Saat Ekonomi Lesu Akibat Corona, naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Bukan rahasia lagi, pandemi covid-19 membuat perekonomian baik global maupun dalam negeri lesu. Tengok saja, pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2020 hanya sebesar 2,97 persen, atau yang terendah secara kuartal sejak 2001.

Tak berhenti di situ, pertumbuhan ekonomi diprediksi makin terpuruk pada tiga bulan berikutnya hingga mencapai minus 3,8 persen. Sepanjang tahun ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya berada di rentang minus 0,4 persen sampai 1 persen.

Menimbang kondisi tersebut, banyak milenial yang menunda investasi. Mereka cenderung nyaman memegang uang tunai atau menempatkan dananya di bank. Maklum, tidak ada seorang pun yang bisa meramal kapan pandemi covid-19 ini berakhir.

Namun, perencana keuangan Safir Senduk punya pandangan lain terkait investasi bagi milenial di kala pandemi. Menurutnya, generasi milenial masih bisa berinvestasi meskipun ekonomi lesu akibat pandemi. Dengan syarat, instrumen investasi yang dipilih mampu memberikan pendapatan tetap lantaran dinilai lebih aman.

"Nah, kalau bicara milenial yang umumnya dana terbatas, maka mereka bisa masuk kepada produk investasi yang sudah bisa dimasuki hanya dengan dana terbatas. Contohnya, reksa dana, saham, emas, dan obligasi," ujarnya.

Untuk investasi saham, ia menyarankan agar milenial memilih saham perusahaan yang masih bisa mengantongi pendapatan meskipun ekonomi sedang tertekan, salah satunya saham-saham di sektor konsumer. Selain itu, ia menyarankan agar calon investor milenial fokus untuk meraih dividen, alih-alih keuntungan dari naik turunnya harga saham.

"Saat ini, investasi di saham menarik karena harga sedang seperti ini, lihat positifnya saja bahwa saham sedang murah sekarang," ucapnya.

Selain saham, ia juga menganjurkan milenial berinvestasi pada emas. Menurutnya, tidak masalah untuk menempatkan investasi pada logam meskipun saat ini harganya sudah terbilang tinggi yakni Rp910 ribu per gram. Sebab, harga emas sangat jarang mengalami koreksi.

"Pengalaman di masa lalu, setiap ada ketidakpastian dunia, baik politik, ekonomi, maupun sosial permintaan emas akan meningkat," tuturnya.

Lalu, ia juga menyarankan milenial berinvestasi pada obligasi atau surat utang, khususnya surat utang negara. Ia memberikan contoh Obligasi Negara Ritel (ORI) seri 017 yang sedang ditawarkan pemerintah saat ini. ORI017 menawarkan kupon sebesar 6,4 persen setiap tahunnya dan bersifat tetap (fixed rate) hingga jatuh tempo pada 15 Juli 2023 mendatang.

"Selama uang kita belum balik, maka kita mendapatkan pendapatan tetap dari pembayaran bunga," jelasnya.

Namun, ia menuturkan terdapat dua hal yang harus diperhatikan investor milenial sebelum berinvestasi. Pertama, milenial harus memberikan jangka waktu investasi paling tidak satu hingga dua tahun. Kedua, ia menyarankan penempatan variasi instrumen investasi.

"Jangan semuanya ditaruh satu tempat, paling tidak dua tempat," katanya.

Senada, perencana keuangan dari Finansial Consulting Eko Endarto menilai kondisi ini justru menjadi peluang emas untuk memulai investasi bagi milenial. Alasannya sederhana, tidak ada sesuatu yang terus menerus turun atau sebaliknya, selalu menanjak.

"Kalau sesuatu itu naik terus maka dia akan turun, sebaliknya kalau turun maka dia akan segera naik. Maka, ketika turun itu seharusnya waktu untuk persiapan diri ketika ekonomi akan naik lagi," ujarnya.

Untuk memulai investasi, kata dia, calon investor perlu membedakan tujuan investasinya untuk jangka pendek atau panjang. Investasi jangka pendek berlaku untuk jangka waktu 1-3 tahun, sedangkan jangka panjang hingga 10 tahun.

Setelah calon investor memiliki tujuan investasi, barulah dia bisa menentukan instrumen investasi yang dipilih sesuai dengan jangka waktu investasinya.

Untuk jangka pendek, ia menyarankan investor menempatkan dananya pada Surat Berharga Negara (SBN) maupun deposito. Instrumen ini bersifat risiko rendah (low risk), namun menawarkan imbal hasil (return) yang lebih rendah (low return) ketimbang investasi risiko tinggi (high risk).

"Untuk jangka pendek beberapa produk, SBN ritel ORI017 bisa jadi pilihan karena pokoknya terjamin tidak akan berkurang dan dia bisa menjual di tengah-tengah," paparnya.

Sedangkan untuk pilihan instrumen jangka panjang, ia menyarankan penempatan dana pada instrumen saham maupun reksa dana saham. Ia menuturkan saham maupun reksa dana saham mempunyai risiko investasi tinggi lantaran pergerakannya fluktuatif bergantung pada sentimen di pasar.

Namun, instrumen ini juga menawarkan imbal hasil yang tinggi.

"Nah, investasi jangka waktu panjang itu bisa mengurangi risikonya," ucapnya.

Sebagai gambaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di posisi 4.903 hingga jeda perdagangan siang hari ini. Di sisi lain, sejumlah analis meramal indeks saham bisa tembus ke level 5.000an akhir tahun ini, salah satunya Mandiri Sekuritas yakni di level 5.540.

Itu berarti masih terdapat potensi kenaikan (up side) hingga 12,99 persen. Untuk jangka panjang, ia menyarankan investor untuk mengevaluasi imbal hasil yang didapatkan secara berkala setiap tahunnya.

"Perusahaan itu tidak ada namanya target turun, target itu tiap tahun selalu naik. Berarti, ketika target naik, nilai perusahaan juga naik, maka harga saham ikut naik," katanya.

Dalam memilih saham, ia memberikan tiga kata kunci sederhana kepada investor pemula. Meliputi, saham perusahaan yang bisa dilihat, dikenal, dan dipegang oleh investor.

Sebagai contoh, bank yang kantor cabangnya mudah ditemui dimana-mana. Lalu, nama bank tersebut familiar oleh masyarakat, selain itu masyarakat bisa mengakses dengan mudah fasilitas bank tersebut.

"Pegang itu saja sebagai salah satu dasar untuk mencari produk saham yang sasaran investasi dalam jangka panjang, pasti harga saham akan naik dengan syarat tadi perusahaan yang bisa lihat, dikenal, dan dipegang," tuturnya.

Related

Money 3873210709500577315

Recent

item