Tradisi Menculik Pengantin di Kyrgyzstan Kini Dilarang, karena Rentan Kejahatan

Tradisi Menculik Pengantin di Kyrgyzstan Kini Dilarang, karena Rentan Kejahatan, naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Perempuan di setiap negara memiliki tradisi tersendiri untuk melaksanakan pernikahan. Di Indonesia, ada beberapa tradisi pernikahan yang terkenal. Mulai dari pingitan yang melarang calon pengantin perempuan bertemu dengan calon pengantin pria, hingga tradisi malam bainai yang menandai detik-detik terakhir kebebasan perempuan sebelum menjadi istri orang.

Beda negara, beda pula tradisi pernikahan yang dilakukan. Di Kyrgyzstan, terdapat sebuah tradisi bernama bride kidnapping. Sebuah tradisi penculikan pengantin yang disebut dengan kyz ala kachuu yang dalam Bahasa Inggris berarti ‘To take a young woman and runaway’.

Dalam Bahasa Indonesia, Ala kachuu berarti mengambil perempuan muda dan membawanya lari atau singkatnya menculik pengantin.

Praktik ini diyakini menjadi tradisi sejak Kyrgyzstan dipimpin oleh Uni Soviet. Penculikan pengantin ini biasanya dilakukan oleh pria muda secara paksa atau dengan rayuan. Tak bekerja sendiri, mereka dibantu oleh sahabat atau keluarga untuk menculik seorang perempuan yang ingin dijadikan istri.

Si pria kemudian akan membawa perempuan tersebut pulang ke rumah dan disembunyikan di dalam sebuah ruangan, sampai pihak keluarga perempuan berhasil meyakinkannya untuk mau mengenakan shawl, sebagai tanda penerimaan tawaran menikah dari si pria.

Terkadang, jika sang perempuan tak mau dengan segala persuasi dan ingin pulang, ia tetap akan dipaksa oleh pihak keluarganya untuk menyetujui pernikahan tersebut.

Awalnya, banyak yang menganggap praktik bride kidnapping ini hanyalah sebuah formalitas. Bahkan dulu ada sebagian perempuan yang datang dengan sukarela untuk diculik sesuai persetujuan dengan kedua pihak keluarga.

Beberapa pihak juga mempercayai bahwa dulu praktik yang lebih dianggap sebagai kawin lari ini menjadi sebuah kehormatan tersendiri bagi seorang perempuan. Sebab tindakan tersebut menunjukkan bahwa mereka sudah layak dijadikan seorang istri.

Namun sayangnya, seiring perubahan zaman, praktik tersebut disalahartikan. Kyz ala kachuu berubah menjadi praktik penculikan perempuan yang justru melibatkan kekerasan dan paksaan yang merenggut hak-hak perempuan.

Penculikan pengantin dianggap praktik kekerasan 

Menurut laporan VOA News, penculikan pengantin perempuan juga terjadi di negara-negara seperti Armenia, Ethiopia dan Kazakhstan. Di era modern, praktik penculikan pengantin ini justru dilakukan dengan cara yang kasar. Misalnya perempuan tiba-tiba diculik saat sedang berjalan di pinggir jalan kemudian dipaksa untuk menikah.

Melansir National Geographic, salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi karena runtuhnya kepemimpinan Uni Soviet di Kyrgyzstan pada 1990-an.

Krisis ekonomi yang terjadi membuat banyak pria muda kehilangan pekerjaan dan kesulitan memenuhi mahar saat ingin menikahi seorang perempuan. Oleh karena itu, segerombolan pria Kyrgyzstan kemudian memutuskan untuk menculik perempuan dengan cara paksa, supaya mau menikah dengan mereka.

Setelah diculik, perempuan tersebut akan diberi penjagaan oleh keluarga pria, supaya tidak terjadi hubungan seksual sebelum menikah. Jika perempuan tersebut melawan atau tidak bersedia, mereka akan dikurung di dalam ruangan, atau dijepit di sudut sofa, serta ditutupi dengan tirai.

Tak hanya pria yang melakukan praktik tersebut, para tetua perempuan dari pihak pria juga suka menjalankan praktik penculikan pengantin ini untuk anak atau cucu pria mereka. Bekerja sama dengan keluarganya, para tetua tersebut akan memaksa perempuan yang diculik untuk memakai syal putih di kepalanya sebagai tanda persetujuan pernikahan.

“Saya merobek syal tersebut dan melawan mereka. Ibu dan bibi pria itu sangat agresif. Saya bahkan menendang seorang perempuan tua yang menggertak saya,” ungkap Smailova, salah satu korban penculikan pengantin, seperti dikutip dari National Geographic.

Setelah terjebak selama lima jam, orang tua Smailova berhasil menyelamatkannya. Ia salah satu perempuan yang beruntung. Dalam banyak kasus, bahkan jika perempuan yang diculik melarikan diri, mereka akan mendapatkan stigma buruk. Keluarga sang perempuan seringkali tidak mau menerima lagi anak perempuannya, karena dianggap sudah menjadi aib keluarga setelah diculik.

Kemudian di tahun 2000-an, ketika para peneliti dan aktivis membongkar praktik kejahatan tersebut, Kyrgyzstan mendapat julukan The Capital of Bride Kidnapping, atau pusat terjadinya penculikan pengantin.

Karena adanya banyak kasus yang membuat perempuan menjadi korban kekerasan, praktik penculikan pengantin ini mulai dilarang oleh pihak berwenang di Kyrgyzstan pada 2013. Pihak berwenang mengakui bahwa praktik tersebut dapat menyebabkan perkosaan dalam pernikahan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan trauma psikologis pada perempuan.

Kini, perempuan Kyrgyzstan sudah secara terbuka melakukan penolakan terhadap penculikan pengantin. Mereka membuat gerakan dan kampanye untuk menolak terjadinya praktik tersebut, baik untuk perempuan di desa terpencil maupun yang di tengah kota sekalipun.

Related

World's Fact 2085336193407358813

Recent

item