Bagi yang Mau Beli atau Investasi, Ini Prediksi Harga Emas ke Depan

Bagi yang Mau Beli atau Investasi, Ini Prediksi Harga Emas ke Depan, naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Harga emas dalam sepekan terakhir bergerak volatil. Pergerakan harga logam kuning itu sensitif terhadap pergerakan dolar greenback yang juga volatil.

Dalam sepekan harga emas dunia di pasar spot turun 2% menjadi US$ 1.932,45/troy ons. Pada periode 28 Agustus - 4 September, harga emas berada di level tertingginya US$ 1.970 pada 1 September dan terendah di US$ 1.930 pada 3 September.

Pergerakan harga emas dipengaruhi oleh dolar AS. Indeks dolar yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang lainnya cenderung menguat meski masih volatil minggu ini.

Gerak emas dan dolar berlawanan arah. Artinya ketika dolar menguat maka harga emas cenderung melemah. Hal ini disebabkan karena emas dibanderol dalam dolar AS, sehingga ketika dolar AS menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain dan bisa menurunkan minat beli.

"Korelasi emas dengan dolar telah meningkat, terutama selama beberapa minggu terakhir dan emas sedang tertekan oleh kenaikan dalam greenback menyusul laporan yang solid, terutama tingkat pengangguran," kata Tai Wong, kepala perdagangan derivatif logam di BMO, melansir Reuters.

Meski indeks dolar masih berada pada tren koreksi, tetapi kenaikan dolar sepekan ini didukung oleh membaiknya rilis data ekonomi AS terutama dari sektor ketenagakerjaan.

Data penciptaan lapangan kerja (non-farm payrolls) menunjukkan adanya peningkatan sebesar 1,371 juta pekerjaan di bulan Agustus. Tingkat pengangguran turun menjadi 8,4% dari 10,2% di bulan Juli.

"Namun, data ini tidak mengubah sikap Federal Reserve AS untuk memompa lebih banyak stimulus ke dalam ekonomi dan mengambil toleransi terhadap tingkat inflasi yang lebih tinggi, menjaga emas tetap menarik dalam jangka panjang," kata Michael Matousek, kepala pedagang di US Global Investor.

Harga emas telah naik 27% sejauh ini, dibantu oleh suku bunga mendekati nol secara global dan kebijakan moneter yang ultra akomodatif, terutama dari The Fed, dan permintaan safe-haven didorong oleh gambaran ekonomi yang suram karena pandemi Covid-19.

Volatilitas emas yang tinggi akhir-akhir ini tidak mencerminkan bahwa harga emas berada dalam tren turun dan seharusnya dimanfaatkan untuk mengambil aksi beli. Hal ini diungkapkan oleh Frank Holmes, CEO dari U.S. Global Investor.

"Volatilitas emas menjadi peluang untuk buy on dip. Anda salah jika tak membeli emas," kata Holmes saat diwawancara oleh Kitco. Holmes memprediksi harga emas akan mencapai US$ 4.000/troy ons dalam waktu 2 sampai 3 tahun ke depan.

Related

Tips 9036441111070565086

Recent

item