Biografi Lengkap Affandi, Maestro Seni Lukis Indonesia (Bagian 2)

 Biografi Lengkap Affandi, Maestro Seni Lukis Indonesia naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Biografi Joseph Broz Tito, Pemimpin Terhebat Yugoslavia - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat suatu kali, saat Affandi merasa bingung ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan teori lukisannya. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan corak baru aliran ekspresionisme. Tapi ketika itu, justru Affandi balik bertanya, “Aliran apa itu?”

Hingga saat tuanya, Affandi membutakan diri dengan teori-teori. Bahkan ia dikenal sebagai pelukis yang tidak suka membaca. Baginya, huruf-huruf yang kecil dan renik dianggapnya momok besar.

Bahkan, dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa dirinya adalah pelukis kerbau, julukan yang diakunya karena dia merasa sebagai pelukis bodoh. Mungkin karena kerbau adalah binatang yang dianggap dungu dan bodoh.

Sikap sang maestro yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Bahkan terhadap bidang yang dipilihnya, dia tidak overacting.

Misalnya jawaban Affandi setiap kali ditanya kenapa dia melukis. Dengan enteng, dia menjawab, “Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan.” Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Dia melukis seperti orang lapar. Sampai pada kesan elitis soal sebutan pelukis, dia hanya ingin disebut sebagai tukang gambar.

Lebih jauh, ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar untuk disebut seniman, dan ia tidak meletakkan kesenian di atas kepentingan keluarga. “Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti melukis,” ucapnya.

Sampai ajal menjemputnya pada 23 Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia dimakamkan tidak jauh dari museum yang didirikannya.

Museum Affandi

Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu, dalam sejarahnya pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia, Dr. Mahathir Mohammad, pada Juni 1988, kala keduanya masih berkuasa. Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya.

Saat ini, terdapat sekitar 1.000-an lukisan di Museum Affandi, dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi. Lukisan-lukisan Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif yang punya nilai kesejarahan, mulai dari awal kariernya hingga selesai, sehingga tidak dijual.

Sedangkan galeri II adalah lukisan teman-teman Affandi, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, seperti Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Hendra, Rusli, Fajar Sidik, dan lain-lain. Adapun galeri III berisi lukisan-lukisan keluarga Affandi.

Di dalam galeri III yang selesai dibangun tahun 1997, saat ini terpajang lukisan-lukisan terbaru Kartika Affandi yang dibuat pada 1999. Lukisan itu antara lain "Apa yang Harus Kuperbuat" (Januari 99), "Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi" (Februari 99), "Tidak Adil" (Juni 99), "Kembali Pada Realita Kehidupan, Semuanya Kuserahkan KepadaNya" (Juli 99), dan lain-lain. Ada pula lukisan Maryati, Rukmini Yusuf, serta Juki Affandi.

Affandi di mata dunia

Affandi memang hanya salah satu pelukis besar Indonesia bersama pelukis besar lainnya, seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah, dan lain-lain. Namun karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karya-karyanya, para pengagumnya sampai menganugerahinya berbagai sebutan dan julukan membanggakan, antara lain julukan Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, bahkan julukan Maestro.

Koran International Herald Tribune menjulukinya sebagai Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, sementara di Florence, Italia, dia telah diberi gelar Grand Maestro.

Berbagai penghargaan dan hadiah membanjiri perjalanan hidup pria yang hampir seluruh hidupnya tercurah pada dunia seni lukis ini. Di antaranya, pada 1977, ia mendapat Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia, mengangkatnya menjadi anggota Akademi Hak-Hak Asasi Manusia.

Dari dalam negeri, tidak kalah banyak penghargaan yang telah diterimanya, di antaranya penghargaan "Bintang Jasa Utama" yang dianugrahkan Pemerintah Republik Indonesia pada 1978.

Sejak 1986, ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Bahkan seorang penyair Angkatan ’45, Chairil Anwar, pun pernah menghadiahkan sebuah sajak khusus untuknya, berjudul "Kepada Pelukis Affandi".

Untuk mendekatkan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada para pecinta seni lukis, Affandi sering mengadakan pameran di berbagai tempat. Di negara India, dia telah mengadakan pameran keliling ke berbagai kota. Demikian juga di berbagai negara di Eropa, Amerika, serta Australia.

Di Eropa, ia telah mengadakan pameran antara lain di London, Amsterdam, Brussels, Paris, dan Roma. Begitu juga di negara-negara benua Amerika seperti di Brasil, Venezia, San Paulo, dan Amerika Serikat.

Hal demikian juga yang membuat namanya dikenal di berbagai belahan dunia. Bahkan kurator terkenal asal Magelang, Oei Hong Djien, pernah memburu lukisan Affandi sampai ke Rio de Janeiro.

Penghargaan:

   1. Piagam Anugerah Seni, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1969
   2. Doktor Honoris Causa dari University of Singapore, 1974
   3. Dag Hammarskjöld, International Peace Prize (Florence, Italia, 1997)
   4. Bintang Jasa Utama, tahun 1978
   5. Julukan Pelukis Ekspresionis Baru Indonesia oleh Koran International Herald Tribune
   6. Gelar Grand Maestro di Florence, Italia

Pameran:

   1. Museum of Modern Art (Rio de Janeiro, Brazil, 1966)
   2. East-West Center (Honolulu, 1988)
   3. Festival of Indonesia (AS, 1990-1992)
   4. Gate Foundation (Amsterdam, Belanda, 1993)
   5. Singapore Art Museum (1994)
   6. Centre for Strategic and International Studies (Jakarta, 1996)
   7. Indonesia-Japan Friendship Festival (Morioka, Tokyo, 1997)
   8. ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998)
   9. Pameran keliling di berbagai kota di India.
  10. Pameran di Eropa al: London, Amsterdam, Brussels, Paris, Roma
  11. Pameran di benua Amerika al: Brazilia, Venezia, São Paulo, Amerika Serikat
  12. Pameran di Australia

Buku tentang Affandi

Buku kenang-kenangan tentang Affandi, Prix International Dag Hammarskjöld, 1976, 189 halaman. Ditulis dalam empat bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Belanda, Perancis, dan Indonesia.

Nugraha Sumaatmadja, buku tentang Affandi, Penerbitan Yayasan Kanisius, 1975

Ajip Rosidi, Zaini, Sudarmadji, Affandi 70 Tahun, Dewan Kesenian Jakarta, 1978. Diterbitkan dalam rangka memperingati ulang tahun ketujuh puluh.

Raka Sumichan dan Umar Kayam, buku tentang Affandi, Yayasan Bina Lestari Budaya Jakarta, 1987, 222 halaman. Diterbitkan dalam rangka memperingati 80 tahun Affandi, dalam dua bahasa, yakni Bahasa Inggris dan Indonesia.

Related

Indonesia 3125414820959494940

Recent

item