Mengapa Menkes Terawan Jarang Muncul Selama Pandemi Corona? (Bagian 1)

Mengapa Menkes Terawan Jarang Muncul Selama Pandemi Corona?

Naviri Magazine - Dari cerita orang-orang yang mengenalnya secara pribadi, Terawan Agus Putranto dikenal sebagai orang baik. Ia murah senyum dan melayani. Sebagian pasiennya saat masih berdinas di RS Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto berasal dari kalangan pejabat tinggi militer dan sipil - termasuk almarhumah Ibu Presiden Joko Widodo, Sujiatmi Notowihardjo.

Sebagai kepala RSPAD, Terawan mulai banyak jadi sorotan setelah terapi "cuci otak"-nya diklaim manjur untuk pasien stroke. Terapi ini membuahkan rekomendasi skorsing dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran IDI tahun 2018 karena dianggap belum terbukti secara ilmiah, tetapi sudah diterapkan pada pasien.

Bukan membuat karirnya redup, rekomendasi ini bisa dikatakan mengatrol kemujuran Terawan. Presiden Joko Widodo menjadikan Terawan sebagai pejabat medis tertinggi di Indonesia, bergeming dari berbagai peringatan termasuk dari MKEK IDI.

Kemujuran itu kini sedang diuji. Enam bulan digerus pandemi, posisi Terawan terus-menerus dipersoalkan. Tak cuma dianggap gagal membawa Kementrian Kesehatan mengatasi pandemi, ia juga dikritik menyepelekan covid, menyebar hoax dan bahkan anti-sains.

Menkes jarang merespons tuduhan-tuduhan itu. Terawan jarang tampil di muka umum, meski dalam situasi pandemi.

Upaya media menanyakan keberadaannya tak ditanggapi Biro Komunikasi Publik Kementerian. Permintaan informasi tentang kegiatannya direspons Kepala Biro Komunikasi Kementerian dengan jawaban singkat "Kami TL", alias janji akan ditindaklanjuti. Pertanyaan yang dikirim pada ajudannya tak berbalas, begitu pun dengan yang dikirim ke nomor pribadi Pak Menteri.

Ainun Najib, pendiri KawalCovid19 dan salah satu pengusul pemberhentian Terawan, mempertanyakan bagaimana mengharapkan kepemimpinan dengan kehadiran Menkes yang demikian langka. Najib juga rajin memberi kritik pada kebijakan pandemi pemerintahan Presiden Jokowi dan konsisten mendesak penggantian Terawan.

"Wujuduhu ka adamihi, artinya adanya Terawan seperti tiadanya. Atau sebenarnya (ada) tapi lebih buruk dari tiada," kata Najib lewat aplikasi bertukar pesan dari tempatnya bermukim di Singapura.

"Kalau gak diganti maka Kemenkes akan selalu lemah menghadapi wabah ini karena pemimpinnya nggak serius menangani."

Sampai akhir pekan 13 September 2020, sudah 115 dokter dan hampir 80 petugas medis lainnya meninggal dunia. Belum termasuk ribuan yang saat ini dirawat dan isolasi karena tertular covid.

Akhir Agustus dalam agenda dengar pendapat dengan DPR, Terawan dikutip mengatakan tenaga kesehatan tertular covid "... pasti karena tidak disiplin".

"Paling parah itu ya ketika dokter se-Indonesia berguguran, salah satu faktor utamanya kan keterbatasan APD termasuk untuk yang tidak spesifik menangani covid (yg kemudian tertular dari pasien OTG atau pasien yg belum tahu atau yang gak mau ngaku). Di saat yang sama anggaran Kemenkes minim terserap dan produksi APD menumpuk tidak terbeli dan tersalurkan," kata Najib jengkel.

Mengganti atau tidak posisi menteri menjadi hak istimewa Presiden. Dalam kasus Terawan, tak ada tanda-tanda sama sekali.

Sepanjang pekan pertama dan kedua September, Presiden sedikitnya sudah dua kali mengundang pimpinan redaksi media massa ke istana. Dalam dua kesempatan itu, muncul pertanyaan soal reshuffle kabinet. Belum lagi ditanya apakah Terawan akan dicopot, sudah dijawab bahwa tak ada rencana mengganti menteri.

Bahkan kalau Presiden ingin mengganti Terawan pun, pilihannya tidak akan mudah.

Mencopot pilihannya sendiri seolah membenarkan isi peringatan dan kritik banyak pihak dulu terhadap Terawan. Tetapi membiarkan menteri yang ada tapi terasa tiada, padahal presiden sedang sangat butuh dibantu di tengah pandemi, tentu juga merepotkan.

Baca lanjutannya: Mengapa Menkes Terawan Jarang Muncul Selama Pandemi Corona? (Bagian 2)

Related

News 2158630794202389099

Recent

item