Mengungkap Kisah di Balik Misteri Makam di Tengah Jalan Raya Kota Purwokerto

Mengungkap Kisah di Balik Misteri Makam di Tengah Jalan Raya Kota Purwokerto

Naviri Magazine - Sebuah makam di tengah jalan, tepatnya di Jalan Ragasemangsang kota Purwokerto, memiliki kisah yang tak terduga. Misteri makam Ragasemangsang ini masih belum terungkap dengan jelas. Pasalnya, ada berbagai versi cerita yang beredar di masyarakat Banyumas secara turun temurun.

Berbeda dengan cerita masyarakat yang berada sebelah timur makam Ragasemangsang, masyarakat yang bermukim di sebelah barat makam memiliki latar belakang cerita yang berbeda, meski literasi berdasarkan pitutur sesepuh mereka.

Dari kisah yang ada, jauh sebelum masa kemerdekaan, ada seorang garong (penjahat) yang  sakti mandraguna. Penjahat tersebut memiliki ilmu kanuragan yang bisa menghidupkannya kembali dirinya, meski sudah mati, asal masih menyentuh tanah.

“Suatu ketika, dia datang ke wilayah sini untuk berbuat onar. Di wilayah sini ada sebuah Dukuh (pemukiman) yang dipimpin oleh seorang sesepuh bernama kyai Pekih,” kata mbah Sugeng (70), warga yang lahir di Jalan Pekih, Kelurahan Sokanegara.

Konon, menurut cerita dari sesepuh mbah Sugeng, pemukiman tersebut merupakan pemukiman yang antrem, tentrem dan kertoraharjo. Selain memiliki pemimpin yang arif, bijaksana dan ngayomi, kyai Pekih juga memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Karenanya, dia sangat disegani dan dihormati penduduk.

Ketenteraman warga pemukiman tersebut terusik setelah hampir setiap malam warga kehilangan benda berharga, seperti emas dan ternak. Warga menduga si maling memiliki ilmu kesaktian tinggi. Pasalnya, beberapa kali penangkapan, maling selalu berhasil lolos.

Kondisi tersebut tak dibiarkan berlangsung lama oleh kyai Pekih. Setelah meminta petunjuk dari yang Maha Kuasa, suatu malam dia mengelilingi pemukiman seorang diri. Garong atau maling yang terkenal sakti itu berhasil dia tangkap. Namun saat akan dibawa, maling tersebut melawan.

Terjadilah perkelahian di malam itu. Sang kyai, yang sudah mendapat petunjuk kelemahan ilmu kesaktian maling, akhirnya menang. Dengan kesaktiannya, raga (jasad) maling tersebut dilempar ke atas pohon, agar semangsang (tersangkut), dan dibiarkan hingga matahari terbit. Setelah itu, jasad si maling diturunkan, dan dimakamkan dibawah pohon yang membuat raganya semangsang.

“Kejadian pertarungan dua orang sakti itu menjadi perbincangan warga di mana-mana. Karena setelah itu tidak ada lagi warga yang khawatir,” kata mbah Sugeng.

Seiring waktu, makam dimana maling sakti itu dikuburkan, dikenal dengan nama Ragasemangsang. “Kenapa makam itu akhirnya ditembok, saya tidak tahu pasti. Tapi kemungkinan agar arwah penjahat itu tidak mengganggu warga, karena konon arwah orang jahat yang sakti tidak diterima di alam sana.” katanya.

Sarlan, Kasi Tradisi dan Sejarah Dinporabudpar Banyumas, mengatakan, sampai saat ini belum ada referensi yang pasti akan sejarah makam yang berada di tengah persimpangan jalan Ragasemangsang dengan Jalan Kabupaten tersebut.

Menurutnya, masing-masing versi cerita memiliki literatur hanya dari pitutur atau cerita dari masa ke masa, tanpa ada kejelasan dari saksi mata. “Meski belum termasuk cagar budaya, namun pemerintah dari masa ke masa tetap merawat kondisi makam itu.” katanya.

Perkembangan zaman yang terus maju membuat masyarakat acuh pada bangunan makam tersebut. Misteri makam ragasemangsang pun seolah tenggelam dan tetap tersimpan sampai masa yang akan datang.

Related

World's Fact 4590507185901143616

Recent

item