Resesi Ekonomi di Depan Mata, Lebih Penting Menabung atau Investasi?

Resesi Ekonomi di Depan Mata, Lebih Penting Menabung atau Investasi?

Naviri Magazine - Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati soal proyeksi perekonomian di kuartal ketiga tahun ini bakal mencapai minus 2,9 persen secara implisit menegaskan bahwa resesi sudah pasti terjadi dalam waktu dekat. Lalu bagaimana masyarakat seharusnya menyikapi hal tersebut?

Sejumlah ekonom menyarankan masyarakat untuk mengelola keuangan pribadi dan keuangan secara konservatif dan tetap memperhatikan profil risiko tiap individu.

Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Perbanas Aviliani, misalnya, mengatakan pendapatan masyarakat yang turun selama pandemi butuh sistem yang konservatif. "Tahun ini memang sangat berat. Secara general pola pengaturan keuangan yang konservatif dan lebih teliti pada tahun ini sangat diperlukan," katanya.

Ia menyarankan kelompok masyarakat yang sangat tertekan yakni masyarakat kelas menengah bawah karena pendapatannya bisa turun hingga 2 persen, harus lebih teliti dalam menyusun semua anggaran dan lebih fokus hanya pada belanja primer.

"Semua jenis cicilan berat khususnya kredit pemilikan rumah, harus secara proaktif meminta pihak perbankan untuk restrukturisasi," ucap Aviliani.

Bila hal itu masih belum cukup meringankan, solusi subsidi gaji dari pemerintah dapat menjadi pilihan untuk dapat menambal defisit anggaran tahun ini.

Selain itu, yang juga penting adalah tidak terlalu mengandalkan pinjaman jangka pendek seperti kartu kredit atau bahkan dari fintech yang bunganya tinggi.

Sedangkan untuk kelas masyarakat kelas menengah atas yang pendapatannya masih tumbuh meski tipis, Aviliani meminta kebiasaan menabung tetap dilakukan. Meski begitu, instrumen tabungan atau investasi harus tetap harus sesuai dengan kebutuhan konsumsi selama pandemi.

Jika tidak ada rencana konsumsi besar, tabungan dapat dialihkan ke simpanan berjangka yang bunganya berkisar 4,5 persen per tahun. "Bahkan jika prediksi tentang idle money masih besar, maka penempatan pada surat utang negara bisa jadi lebih relevan. Atau bisa memilih instrumen di pasar modal, yang mana banyak saham perusahaan bagus sedang diskon," kata Aviliani.

Sementara itu, Executive Vice President Head of Wealth Management and Premier Banking Commonwealth Bank Ivan Jaya mengungkapkan langkah yang paling bijak adalah memastikan bahwa portofolio investasi telah terdiversifikasi dengan baik sesuai dengan profil risiko investasi tiap investor.

Untuk nasabah dengan profil risiko balanced atau berimbang, Ivan menyebutkan, porsi investasi bisa ditempatkan di kelas aset saham dan kelas aset pendapatan tetap atau obligasi.

“Investasi di obligasi negara Republik Indonesia dengan tenor pendek cukup menarik karena relatif tidak mengalami volatilitas tinggi,” ujar Ivan. Ia mencontohkan Obligasi Negara Ritel (ORI) ke-18 yang ditawarkan oleh pemerintah pada Oktober 2020 mendatang bisa jadi pilihan.

Ivan menyebutkan, investor bisa memilih reksa dana dengan strategi investasi saham berkapitalisasi pasar jumbo atau big caps. Underlying dari reksa dana itu lebih baik menghadapi goncangan pergerakan pasar.

Yang penting, kata Ivan, pilihan portofolio investasi harus sesuai dengan profil risiko tiap investor. Tujuannya, agar dapat berinvestasi dengan nyaman terutama apabila pergerakan pasar tengah volatile seperti saat ini.

Related

Tips 9000132611127496131

Recent

item