Tak Perlu Panik Hadapi Resesi Ekonomi, Ini 5 Tips yang Bisa Dilakukan

Tak Perlu Panik Hadapi Resesi Ekonomi, Ini 5 Tips yang Bisa Dilakukan

Naviri Magazine - Pemerintah memastikan Indonesia saat ini mengalami resesi. Tanda-tanda perlambatan ekonomi pun disebut muncul sejak awal tahun ini. 

“Kalau dilihat di kuartal I melambat di bawah 5 persen, kuartal II apalagi, dalam sekali. Kuartal III expect di kisaran minus 2,9 persen dan minus 1 persen, berarti sudah resesi, sudah perpanjangan perlambatan ekonomi kita,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio dalam konferensi pers daring. 

Saat resesi terjadi, apa yang seharusnya dilakukan masyarakat? Berikut sejumlah tips hadapi resesi ekonomi: 

Jangan Panik, Tetap Tenang  

Direktur Riset Core Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyebut, resesi Indonesia memang telah diprediksi sejak jauh hari. Pelaku bisnis pun telah mengambil ancang-ancang hal ini akan terjadi. 

Menurut dia, saat resesi terjadi yang harus dilakukan masyarakat adalah tetap tenang, tidak panik, dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa. 

"Masyarakat seharusnya jangan panik dalam menghadapi resesi. Jika kepanikan masyarakat terjadi, hal ini justru memperburuk kondisi resesi," kata Piter. 

Dia pun kembali mengingatkan masyarakat agar tak membeli barang secara berlebihan seperti yang terjadi di awal Maret, saat COVID-19 pertama kali masuk Indonesia. Panic buying ini menurutnya akan sangat merugikan masyarakat dan pelaku usaha. 

Jangan Tahan Konsumsi  

Menurut Piter, resesi ekonomi akibat pandemi virus corona sebenarnya adalah suatu kewajaran, yang hampir terjadi di semua negara. Bahkan menurutnya, resesi menjadi sebuah kenormalan baru. 

Piter mengatakan, yang perlu dilakukan saat ini adalah pemerintah mengencangkan 'sabuk pengaman'. Adapun andil utama dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) adalah konsumsi rumah tangga. 

Pemerintah juga perlu mendorong konsumsi, seperti bantuan sosial, program keluarga harapan (PKH), serta jaring pengaman sosial lainnya. Masyarakat juga diminta untuk tak menahan konsumsi agar daya beli kembali pulih.

Siapkan Uang Tunai Secukupnya 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menyatakan saat resesi ada jargon cash is the king. Sehingga semakin banyak simpanan berbentuk tunai, maka daya tahan rumah tangga di tengah resesi semakin besar.

“Disarankan simpanan yang bisa dicairkan kapan pun adalah instrumen terbaik. Kalau deposito yang tenornya sebaiknya deposito kurang dari 12 bulan,” ujar Bhima. 

Tunda Belanja Senang-senang 

Sejalan dengan saran Bhima, Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, menyarankan agar masyarakat menghindari belanja senang-senang. Yakni membeli barang semata karena keinginan, bukan kebutuhan.

“Apabila kondisi kita memang terbatas dalam hal pemasukan dan dana tabungan, bahkan bila mengalami pengurangan penghasilan atau terkena PHK, maka sebaiknya membelanjakan uang kita hanya untuk kebutuhan yang benar-benar penting dan diperlukan dulu,” kata Andy. 

Belanja Sesuai Kebutuhan, Jangan Boros  

Andy menyarankan agar belanja barang-barang yang tidak mendesak harus ditunda dulu apabila Indonesia masuk resesi.

Apabila kondisi pemasukan dan dana tabungan terbatas, bahkan bila mengalami pengurangan penghasilan atau terkena PHK, maka sebaiknya membelanjakan uang hanya untuk kebutuhan yang benar-benar penting dan diperlukan dulu. 

Andy menyebutkan beberapa kebutuhan penting yang tidak bisa ditunda adalah makanan, tagihan, sampai keperluan sekolah anak.

“Sementara kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya kesenangan ataupun keinginan sebaiknya ditunda terlebih dahulu,” ujar Andy.

Related

Tips 3941457279133068507

Recent

item