Siap-siap, Harga Emas Diprediksi Akan Kembali Melonjak Naik

Siap-siap, Harga Emas Diprediksi Akan Kembali Melonjak Naik

Naviri Magazine - Harga emas dunia berakhir nyaris stagnan di pekan ini, bahkan jika melihat lebih ke belakangan logam mulia ini sebenarnya bergerak di situ-situ saja. Tetapi, pergerakan tersebut bisa menjadi "kuda-kuda" untuk melesat lebih tinggi ke depannya.

Melansir data Refinitiv, emas sepanjang pekan ini menguat tipis, 0,1% ke US$ 1.900,76/troy ons, meski di hari Rabu (21/10/2020) sempat menyentuh US$ 1.924,49/troy ons.

Isu stimulus fiskal di AS menjadi pemicu pergerakan emas dunia di pekan ini. Stimulus fiskal merupakan salah satu "bensin" bagi emas untuk menanjak, oleh karena itu cair atau tidaknya stimulus fiskal sebelum pemilihan presiden (pilpres) AS akan menentukan kemana emas melangkah.

Sayangnya, pilpres di AS tinggal menghitung hari, yakni pada 3 November mendatang, sehingga kemungkinan cairnya stimulus fiskal kian meredup.

Perundingan antara Nancy Pelosi, Ketua DPR (House of Representatif) Amerika Serikat (AS) dengan Menteri Keuangan Steven Mnuchin sudah berlangsung sejak awal pekan, dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan adanya kesepakatan kedua belah pihak.

"Kami menawarkan kompromi, masih ada yang harus dirundingkan lebih dalam dengan ketua DPR. Jika ia may berkompromi, makan akan ada kesepakatan. Tetapi kami sudah mendapat kemajuan di beberapa isu, dan masih ada isu signifikan yang harus kita selesaikan bersama," kata Mnuchin sebagaimana dilansir CNBC International.

Stimulus fiskal di AS kemungkinan tidak akan cair sebelum pilpres selesai, hal tersebut membuat analis memperkirakan pergerakan harga emas dunia masih akan sama, tidak akan kemana-mana di pekan ini, masih di dekat kisaran US$ 1.900/troy ons.

Hasil survei mingguan Kitco terhadap analis di Wall Street menunjukkan 41% memberikan outlook bullish (harga akan naik). Jumlah analis yang memberikan outlook neutral (harga tidak kemana-mana) juga sama sebesar 41%. Sementara yang memberikan outlook bearish (harga turun) sebanyak 18%.

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan akan ada "letupan" harga emas, sebab di pekan ini akan dirilis data pertumbuhan ekonomi AS kuartal III-2020, yang diprediksi akan tumbuh hingga 32,5% secara kuartalan yang disetahunkan (quarterly annualized) berdasarkan survei Refinitiv.

Kenaikan masif tersebut bisa terjadi akibat low base effect, dimana di kuartal II-2020 lalu pertumbuhan ekonomi AS mengalami kontraksi 31,4%.

Tetapi garis besarnya, emas tetap menanti stimulus fiskal di AS, serta hasil pilpres yang mempertemukan petahana dari Partai Republik, Donald Trump, dengan lawannya dari Partai Demokrat Joseph 'Joe' Biden.

Meski stimulus fiskal di AS batal cair di pekan ini, tetapi cepat atau lambat pasti akan terjadi, sebab memang diperlukan untuk memacu perekonomian. Hal tersebut tentunya menguntungkan emas dari 2 sisi.

Yang pertama saat stimulus fiskal cair, maka jumlah uang yang beredar akan bertambah, secara teori hal tersebut akan membuat nilai tukar dolar AS melemah.

Dolar AS dan emas memiliki korelasi negatif, artinya ketika dolar AS turun maka emas cenderung naik. Hal itu terjadi karena emas dibanderol dengan dolar AS, ketika the greenback melemah, harga emas akan lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, dan permintaan berpotensi meningkat.

Kemudian yang kedua, bertambahnya jumlah uang bereda berisiko memicu inflasi. Emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, sehingga akan diburu oleh pelaku pasar.

Pilpres di AS pada awal bulan depan juga akan menentukan seberapa tinggi emas akan terbang.

Bank investasi kelas dunia asal Swiss, UBS Global Wealth Management mengatakan, saat ini merupakan waktu yang pas menempatkan dana di instrumen emas.
Investasi di emas dinilai menjadi tempat yang sangat baik menjelang pemilihan Presiden Amerika Serikat, kata UBS kepada CNBC Internasional.

"Kami menyukai emas, karena kami pikir emas kemungkinan akan benar-benar mencapai sekitar US$ 2.000 per ounce pada akhir tahun," kata Kelvin Tay, Kepala Investasi Regional UBS.

"Dan emas memiliki lindung nilai tertentu," kata Tay.

"Jika terjadi ketidakpastian atas pemilu AS dan pandemi Covid-19, emas adalah lindung nilai yang sangat, sangat bagus. Dan kelemahannya baru-baru ini merupakan titik masuk yang bagus bagi investor," tambahnya, saat berbicara dalam acara Squawk Box CNBC.

Andy Hecht partner di bubbatrading.com, mengatakan investor seharunya menyambut penurunan harga emas karena akan membuka peluang untuk beli.

"Saya menyambut penurunan harga emas, saya ingin melihat harga emas turun, itu artinya saya akan membeli lebih banyak emas," kata Hecht sebagaimana dilansir Kirco.

"Saya melihat kita masih di tahap awal supercyle komoditas, itu artinya emas akan melesat tinggi, begitu juga dengan perak," katanya.

Terkait dengan pilpres di AS, siapa pun pemenangnya apakah petahana dari Partai Republik, Donald Trump, atau penantangnya dari Partai Demokrat, Joseph 'Joe' Biden, harga emas dikatakan tetap akan menguat.

Tetapi jika Biden yang memenangi pilpres akan lebih menungtungkan bagi emas, sebab menurut Hetch nilai stimulus yang akan digelontorkan lebih besar.

Hal senada juga diungkapkan Mike McGlone ahli strategi komoditas senior di Bloomberg Intelligence. Ia mengatakan emas saat ini sedang memulai tren penguatan 20 tahun lalu, atau yang disebut supercycle.

"Saya melihat emas saat ini memiliki kesamaan dengan tahun 2001 ketika memulai tren kenaikan. Emas saat ini memulai lagi tren bullish yang dimulai 20 tahun lalu," kata McGlone sebagaimana dilansir Kitco.

McGlone mengatakan selama periode pemerintahan Trump emas sudah melesat 50%, dan siapa pun yang memerintah di AS selanjutnya ia melihat emas akan kembali mencetak kenaikan 50%.

Sama dengan Hetch, McGlone juga menilai emas akan lebih diuntungkan Joe Biden dan Partai Demokrat memenangi pemilihan umum kali ini.

Related

News 8171601867180781799

Recent

item