Biografi Lengkap Yap Thiam Hien, Tokoh Pejuang HAM Indonesia (Bagian 1)


Naviri Magazine - Yap Thiam Hien lahir di Koeta Radja, Aceh, pada 25 Mei 1913. Dia adalah pengacara Indonesia keturunan Tionghoa yang mengabdikan hidupnya untuk berjuang demi menegakkan keadilan dan hak asasi manusia (HAM). Namanya diabadikan sebagai nama penghargaan yang diberikan pada orang-orang yang berjasa besar bagi penegakan hak asasi manusia di Indonesia.

Yap Thiam Hien, yang biasa dipanggil "John" oleh teman-teman akrabnya, adalah anak sulung dari tiga bersaudara dari Yap Sin Eng dan Hwan Tjing Nio. Kakek buyutnya adalah seorang Luitenant yang bermigrasi dari provinsi Guangdong di Tiongkok ke Bangka, namun kemudian pindah ke Aceh. 

Ketika monopoli opium di Hindia Belanda dihapuskan, kehidupan keluarga Yap dan banyak tokoh masyarakat Tionghoa saat itu merosot. Ditambah lagi oleh kekeliruan investasi di Aceh berupa kebun kelapa, yang ternyata tidak memberikan hasil menguntungkan. Pada tahun 1920, kedudukan keluarga Yap digantikan oleh keluarga Han, yang datang dari Jawa Timur.

Thiam Hien dibesarkan dalam lingkungan perkebunan yang sangat feodalistik. Kondisi lingkungan feodalistik itu telah menempa pribadi cucu Kapitan Yap Hun Han ini sejak kecil bersifat memberontak dan membenci segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan.

Pada usia 9 tahun, ibu Thiam Hien meninggal dunia. Ia dan kedua adiknya kemudian dibesarkan oleh Sato Nakashima, seorang perempuan Jepang yang merupakan gundik kakeknya. Sato ternyata memainkan peranan besar dalam kehidupan Thiam Hien, memberikan kemesraan keluarga yang biasanya tidak ditemukan dalam keluarga Tionghoa, serta rasa etis kuat yang kelak menjiwai kehidupan Thiam Hien di masa dewasa.

Yap Sin Eng, ayah Thiam Hien, adalah figur yang lemah. Namun Sin Eng ikut membentuk kehidupan anak-anaknya, karena ia memutuskan untuk memohon status hukum disamakan (gelijkstelling) dengan bangsa Eropa. Hal ini memungkinkan anak-anaknya memperoleh pendidikan Eropa, meskipun mereka telah kehilangan status sebagai tokoh masyarakat.

Pindah ke Jawa

Thiam Hien belajar di Europesche Lagere School, Banda Aceh. Kemudian melanjutkan ke MULO di Banda Aceh. Pada tahun 1920-an, Yap Sin Eng membawa Thiam Hien dan adiknya, Thiam Bong, pindah ke Batavia. 

Thiam Hien pun pindah sekolah ke MULO di Batavia, lalu meneruskan ke AMS A-II dengan program bahasa-bahasa Barat di Bandung dan Yogyakarta, dan lulus pada 1933. Ia sangat tertarik pada sejarah dan fasih dalam bahasa-bahasa Barat, yaitu bahasa Belanda, Jerman, Inggris, Prancis, dan bahasa Latin.

Menjadi guru

Selesai dari AMS, dunia saat itu dilanda depresi ekonomi, dan Yap tidak dapat memperoleh pekerjaan. Karena itu, ia pindah ke Batavia, dan masuk ke Hollands-Chineesche Kweekschool (HCK), di Meester Cornelis. 

HCK adalah sekolah pendidikan guru yang berlangsung satu tahun, yang memberi kesempatan pada para pemuda peranakan yang ingin menempuh pendidikan profesional, namun tidak mempunyai biaya untuk masuk ke universitas. 

Setamat dari HCK, Yap menjadi guru selama empat tahun di wilde scholen (sekolah-sekolah yang tidak diakui pemerintah Belanda) Chinese Zendingschool, Cirebon. Berikutnya menjadi guru di Tionghwa Hwee Kwan Holl, China School di Rembang, dan Christelijke School di Batavia. 

Lalu, sejak 1938, Yap yang pernah menjadi pencari langganan telepon, bekerja di kantor asuransi Jakarta, dan di Balai Harta Peninggalan Departemen Kehakiman pada 1943, serta mendaftar di Rechsthogeschool (Sekolah Tinggi Hukum).

Berangkat ke Belanda

Pada awal 1946, Yap mendapat kesempatan untuk bekerja pada sebuah kapal pemulangan orang-orang Belanda, yang mengantarkannya ke Belanda untuk menyelesaikan studi hukumnya di Universitas Leiden. Dari sana, ia meraih gelar Meester in de Rechten. 

Sementara belajar di Leiden, Yap tinggal di Zendingshuis, pusat Gereja Reformasi Belanda di Oegsgeest. Selama tinggal di Zendingshuis, Yap banyak membaca buku teologi Protestan, dan berdiskusi dengan para mahasiswa Belanda yang mempersiapkan diri untuk menjadi misionaris. 

Yap semakin tertarik pada pelayanan gereja, dan Gereja Reformasi Belanda kemudian menawari kesempatan kepada Yap untuk belajar di Selly Oak College di Inggris, dengan syarat ia kelak mengabdikan hidupnya bagi pelayanan gereja di Indonesia. 

Yap setuju, dan sekembalinya dari Eropa ia menjadi pemimpin organisasi pemuda Kristen Tjeng Lian Hwee di Jakarta pada akhir 1940-an. Selama di Belanda, Yap berkembang menjadi seorang sosialis demokrat melalui pergaulannya dengan banyak mahasiswa Indonesia lainnya, yang terkait dengan Partij van de Arbeid (Partai Buruh) di Belanda.

Menjadi pengacara

Sekembalinya ke tanah air pada 1948, Yap menikah. Ayahnya, Yap Sin Eng dan Sato Nakashima, meninggal pada 1949. Yap mulai bekerja di gereja. Ia pun kemudian mulai berkiprah sebagai seorang pengacara warga untuk warga keturunan Tionghoa di Jakarta. 

Belakangan, ia bergabung dengan sebuah biro hukum kecil namun cukup terkemuka, dengan rekan-rekannya yang semuanya terlibat dalam masalah jauh lebih luas daripada sekadar masalah Tionghoa. 

Baca lanjutannya: Biografi Lengkap Yap Thiam Hien, Tokoh Pejuang HAM Indonesia (Bagian 2)

Related

Indonesia 7266617558460283919

Recent

item