Fakta-fakta di Balik Film Pinocchio, Animasi Terbaik Sepanjang Masa (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Fakta-fakta di Balik Film Pinocchio, Animasi Terbaik Sepanjang Masa - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Film ini juga tercatat membawa pergeseran signifikan dalam industri pengisi suara untuk film animasi. Sebelumnya, aktor pengisi suara sekadar bertugas mengisi suara karakter animasi tertentu. Disney berusaha untuk menggunakan pendekatan berbeda. Kali ini, teknik yang digunakan adalah menggabungkan karakter animasi dengan karakter aktor pengisi suara.

Christian Rub, misalnya, tidak hanya menjadi pengisi suara Geppetto. Ia menjadi basis visual dari karakter Geppetto itu sendiri. Geppeto memiliki aksen, bahasa tubuh, hingga referensi visual yang serupa dengan Rub. Hal yang sama diterapkan pada Evelyn Venable, pengisi suara sekaligus basis karakter dari Blue Fairy.

Pengisi suara karakter Pinocchio adalah Dickie Jones, anak laki-laki berumur 11 tahun. Suaranya mampu menghadirkan sosok Pinocchio yang otentik sebagai anak laki-laki naif yang baru mengenal dunia. Musisi Cliff Edwards dipilih mengisi suara Jiminy yang pada awal film menyanyikan “When You Wish Upon A Star”, sebuah lagu pengiring film ini.

Teknik ini dianggap membuat hubungan karakter animasi dan aktor menjadi lebih signifikan. Penggabungan fisik dan kepribadian aktor ke dalam karakternya membantu film terlihat realistis. Hasilnya, dunia fantasi pada film terasa lebih nyata.

Perkembangan signifikan dalam pembuatan efek animasi pada Pinocchio juga sangat jelas jika dibandingkan dengan film Snow White. Pinocchio dipenuhi sejumlah efek yang digambar tangan, yang belum pernah dicoba sebelumnya dan dieksekusi dengan baik.

Terkait pembuatan efek animasi, Disney juga mengedepankan hal serupa dengan pengembangan karakter, yaitu fokus pada bagaimana efek tertentu berfungsi pada keseluruhan cerita dan memicu respons emosional dari penonton. Efek animasinya mewakili sebuah pemikiran detail tentang apa yang membuat animasi terlihat hidup, tetapi bukan replika dari dunia sebenarnya.

Film Pinocchio juga membawa standar pemodelan karakter ke taraf selanjutnya dengan pemanfaatan model tiga dimensi. Sebelumnya, film-film animasi Disney masih menggunakan pemodelan dua dimensi yang digambar oleh beberapa animator. Kali ini, Disney menggunakan metode gabungan antara gambar tangan dan animasi komputer sehingga mampu menghasilkan model karakter tiga dimensi.

Sebagai tambahan, Disney juga membuat model miniatur dari kereta Stromboli, kapal Pulau Pleasure, dan sejumlah jam dinding di rumah Geppetto. Model tiga dimensi ini terus dikembangkan dalam film-film selanjutnya seperti Cinderella dan 101 Dalmatians.

Sebenarnya, sebagian besar elemen dan teknik yang digunakan dalam film Pinocchio tidak sepenuhnya baru. Disney sudah menggunakannya dalam film Snow White dan film animasi pendek seperti Bambi dan Fantasia. Tetapi, Pinocchio menjadi pencapaian tersendiri bagi Disney.

Film ini mewujudkan sebuah ambisi artistik yang belum pernah terwujud sebelumnya. Baik dari level makro, pembuatan karakter, hingga mikro, pembuatan detail efek animasi, film ini menampakkan kekuatan artistik tersendiri. Mungkin film Snow White yang mencatat rekor sebagai film panjang animasi pertama, tapi Pinocchio yang jadi gold standard.

Pencapaian Pinocchio

Animasi yang begitu indah dan memukau menuai decak kagum dan pujian kritikus film. Keberhasilannya dibuktikan dengan membawa pulang dua penghargaan Academy Awards pertama Disney untuk kategori film cerita pada nomor Best Score dan Best Song.

Pinocchio juga bertengger pada posisi kedua film panjang animasi terbaik versi American Film Institute pada 2008. Menurut institut yang sama, film ini mendarat pada nomor 38 daftar film inspiratif. 

Pada 1994, film ini diberi predikat “culturally significant” oleh Library of Congress dan dipilih National Film Registry Amerika Serikat sebagai national treasure atau warisan nasional untuk seni sinematik dalam sejarah Amerika.

Kritikus, sejarawan, hingga pengamat film, juga mengungkapkan penghargaan mereka atas film ini. Mengutip The Disney Wiki, situs milik penggemar berat Disney, The New Yorker menulis ulasan positif untuk film Pinocchio dan mengatakan sudah seharusnya kita mengingat karakter Pinocchio dengan rasa syukur dan bahagia.

“Apa (Pinocchio) lebih baik daripada Snow White and The Seven Dwarfs? Menurutku jauh lebih baik. Tidak terlepas dari, tetapi sebagian besar, karena tidak adanya sentimen yang berlebihan dan romansa,” kata Richard Mallet dikutip dari The Disney Wiki.

Related

Film 8206109976026836488

Recent

item