Final Destination, Serial Horor Paling Laris dan Terkenal dari Hollywood


Naviri Magazine - Seri horor pertama Final Destination rilis pada tahun 2000 dan dibuka dengan sekuens tentang sekelompok murid SMA asal Amerika Serikat yang akan berangkat ke Paris untuk berdarmawisata. 

Namun, sebelum lepas landas, salah satu murid bernama Alex Browning (Devon Sawa) terlelap dan menerima wangsit (atau "vision" dalam bahasa Inggrisnya) bahwa pesawat itu akan meledak dan menewaskan seluruh penumpang termasuk teman-temannya.

Awalnya Alex mengira itu cuma mimpi biasa. Namun, ia mulai panik ketika hal-hal kecil dalam wangsit jadi kenyataan hanya beberapa menit setelah ia terjaga. Misalnya, ia didatangi dua cewek yang ingin bertukar tempat duduk. Meja lipat di kursinya tiba-tiba rusak, seperti dalam mimpi. Ia sontak tantrum tak karuan. “Pesawat ini akan meledak!” teriaknya.

Kawan-kawan Alex marah dan menudingnya macam-macam. Para pramugari pun mengusir Alex dan beberapa temannya dari pesawat karena telah membuat keributan.

Namun, tak perlu waktu lama untuk membuktikan kecemasan sang cowok berambut Tintin—sebuah tren akhir 1990-an. Pesawat VolĂ©e Airlines Flight 180 meledak tak lama setelah lepas landas.

Alex dan beberapa temannya selamat. Tapi, teror justru baru dimulai. Seperti yang disampaikan William Bludworth—petugas jenazah misterius yang selalu muncul di tiap Final Destination tapi tak jelas asal-muasalnya—para penyintas kecelakaan ini mustahil menghindari kematian. Menurut Bludworth, mereka seharusnya mati dalam kecelakaan pesawat. 

Namun, karena mereka selamat, maut mencari cara lain untuk menjemput. Jadilah satu per satu dari mereka mati dengan gantung diri di bathub, tertusuk belasan pisau dapur, kepala putus karena lempengan logam yang nyasar terinjak kereta api, tertabrak truk, dan kerubuhan plang toko.

Formula menyuguhkan kematian yang ganjil dan berdarah-darah terus diulang di Final Destination 2 hingga Final Destination 5 yang rilis pada 2011. Ada remaja yang kualat akibat selamat dari kecelakaan di jalan tol (Final Destination 2), roller coaster rusak dan mencelakai rombongan ABG (Final Destination 3), kecelakaan di arena balap mobil (Final Destination 4), hingga jembatan layang yang tiba-tiba putus (Final Destination 5).

Film ini juga terus menyuguhkan sosok yang percaya pada si penerima wangsit yang telanjur dianggap gila oleh orang-orang di sekitarnya. Di film pertama, sosok semacam itu bisa kita temukan pada Clear Rivers. Lalu ada Thomas Burke yang terlalu ganteng untuk ukuran polisi di film kedua, teman sekolahan (Ryan Merriman) di film ketiga, college sweet heart (Lori Milligan) di film keempat, dan Blake Lively (Molly Harper) di seri kelima.

Tapi ada pula mereka yang cuek terhadap peringatan yang diberikan si penerima wangsit, sehingga kematian langsung menjemput. Hal seperti ini lebih wajar ketimbang pakem film-film horor remaja Paman Sam: barang siapa tak disiplin ketika menghadapi situasi teror, niscaya akan mati duluan.

William Bludworth—legenda hidup Candyman—selalu memperingatkan remaja-remaja itu bahwa maut tak bisa dibodohi. Ia kembali hadir di Final Destination 2 dan Final Destination 5 untuk memberi petuah seperti “kematian hanya dapat ditukar dengan kehidupan baru” atau “kematian dapat ditukar dengan nyawa orang lain”.

Tapi "Wit and Wisdom of William Bludworth" ternyata lebih rumit dari kedengarannya—dan terbukti benar. Maut senantiasa mencari celah sehingga kamu mustahil selamat—sebuah alasan untuk plot twist dan sekuel-sekuel baru.

Dalam Final Destination 2, misalnya, ibu-ibu hamil tua yang dikira bakal mati rupanya bukan bagian dari serombongan korban selamat kecelakaan di tol—padahal geng penyintas maut sudah berusaha keras menyelamatkannya. Lalu, pekerja pabrik yang tewas di Final Destination 5 rupanya juga tak memberi kehidupan baru kepada Nathan yang tak sengaja membunuhnya.

Final Destination 1 merencanakan kematian tiap karakternya dengan luar biasa detail. Orang bisa mati karena kopi panas, gunting, peralatan dapur, kail pancing, dan benda-benda lainnya. 

Sayang, detail-detail yang dirancang dalam empat sekuel berikutnya malah bikin seri Final Destination seperti lelucon tentang dirinya sendiri. Adegan tewas umumnya dibuka dengan jendela yang tiba-tiba tertutup, angin yang membuat benda-benda bergerak dan membahayakan, air yang tumpah dan mengalirkan aliran listrik, dan berbagai keanehan lainnya. Klise, tapi mungkin begitulah maut mengetuk pintu rumah para remaja Amerika sejak tahun 2000 hingga 2011.

Coba bayangkan, betapa ngerinya tumbuh dewasa di Amerika dan dikejar-kejar maut setiap saat. Well, setidaknya inilah rumus paling umum dari genre "Dead Teenager Movies". Contohnya banyak: Scream 1-4, Friday The 13th, Halloween, dan I Know What You Did Last Summer, I Still Know What You Did Last Summer, serta I'll Always Know What You Did Last Summer.

Tapi, justru itulah yang dicari penonton dari film seperti Final Destination. Film-film ini memang dibuat sedemikian rupa sehingga penonton tak perlu berpikir keras mengapa ABG-ABG labil Amerika gampang tewas. 

Final Destination 5 mendapat rating tertinggi di Rotten Tomatoes (63%) dibanding seri lainnya, terlepas dari adegan-adegan mautnya tak masuk akal. Seri pertama justru mendapat rating jelek, hanya 35%. Kedua film ini juga meraup keuntungan paling besar hingga lebih dari USD110 juta.

Namun, Final Destination mendulang puja-puji para warganet Rotten Tomatoes lantaran membawa konsep abstrak tentang maut yang menjadi pembunuh itu sendiri—berbeda dari kebanyakan horor/thriller yang menjual cerita pembunuhan ugal-ugalan yang dilakukan psikopat, mulai dari Psycho, Texas Chainsaw Massacre, Disturbia, hingga House of Wax.

Mungkin Final Destination tak sepenuhnya bercerai dari kenyataan. Menurut CDC, kecelakaan adalah penyebab kematian terbanyak keempat di negara Paman Sam setelah penyakit jantung, penyakit serebrovaskular, dan penyakit saluran pernapasan pada tahun 2000 hingga 2010-an. 

Dan tentu, dalam semesta Final Destination, kematian bisa datang di mana saja: ruang publik, taman hiburan, pasar malam, salon kecantikan, hingga tempat fitnes.

Related

Film 99319270839107575

Recent

item