Freelancer, Pekerjaan Lepas dan Bebas tapi Bisa Penuh Stres


Naviri Magazine - Menurut penelitian, 35 persen pekerja AS kini mengaku bekerja lepasan, dan 47 persen pekerja di rentang usia 18 hingga 24 tahun bekerja lepasan paruh waktu ataupun penuh waktu. Sempat ngetren promosi soal keuntungan gaya hidup seperti itu.

Bursa kerja digital lepasan, Fiverr, membuat iklan kampanye, yang mempromosikan fleksibiitas dan rasa pemberdayaan dari "hidup proyekan." Uber saat ini memasang iklan yang menampilkan orang sibuk berusia 20-an, dengan jins robek-robek, mendeklarasikan, "Hari gini, semua orang butuh sampingan." 

Meski rasanya membebaskan untuk bisa mengatur jadwal sendiri, menjadi pekerja lepasan tak lepas dari masalah. Poster-poster Foverr di stasiun kereta telah dicibir media, dan disebut sebagai "propaganda kapitalis", karena menyiratkan bahwa para pekerja sebaiknya rela bekerja 24/7 supaya bisa memiliki hidup enak di Amerika. 

The New Yorker mempertanyakan apakah orang-orang bisa bertahan hidup mengandalkan ekonomi proyekan, dan Uber menormalisasi anggapan bahwa orang-orang sebaiknya mencari pekerjaan sampingan, supaya bisa membayar tagihan bulanan.

Mengalah pada anggapan seperti itu mengancam keseimbangan kerja/hidup semua orang, dan bisa mengakibatkan peningkatan kecemasan dan stres. Kantor-kantor psikoterapi di New York City dipadati pekerja lepasan dengan stres tinggi. Salah satu terapis tersebut, Elizabeth Cobb, sepakat bahwa perjuangan mereka amat nyata: "Yang saya lihat adalah banyak fluktuasi," ujarnya. 

Dia telah merawat banyak pekerja lepasan, dan mencatat bahwa ketika klien-kliennya mendapat banyak pekerjaan dan upah, secara umum mereka merasa luar biasa. Namun tidak ada jaminan rasa aman—ketika mereka jatuh, mereka stres, dan ini bukan hanya berkaitan dengan uang. 

"Yang telah saya lihat adalah orang-orang mengaitkan identitas mereka dengan pekerjaan yang mereka lakukan," ujarnya. 

Konsekuensinya, menurut Cobb, adalah orang-orang "telanjur mengabaikan banyak aspek hidup, sehingga ketika mereka tidak bekerja dan menciptakan sesuatu, mereka menyadari bahwa mereka tak punya apa-apa."

Salah satu metode yang diajarkan Cobb untuk mengatasi stres macam itu dan membangun rasa percaya diri adalah membuat "daftar penghargaan," di mana klien menuliskan semua hal yang telah mereka lakukan selama seminggu yang, secara langsung maupun tidak, berkontribusi dalam pencapaian hidupnya. 

"Salah satunya ya berkonsultasi dengan terapis," ujarnya, "dan dengan begitu, ketika klien berkata 'saya sampah masyarakat, saya tak punya pekerjaan, kenapa saya bodoh begini?' mereka bisa melihat kembali daftar tersebut dan berkata, 'OK, wah, saya melakukan semua hal ini, bukti saya bukan orang tidak berguna.'" 

Taktik ini bisa dan sebaiknya dilakukan terus menerus. Para pekerja lepasan sebaiknya mengingat kembali di mana posisi mereka selama enam bulan belakangan, atau setahun belakangan, dan bertanya apakah mereka telah merasakan adanya perbaikan atau kemajuan kecil. (Kemungkinan besar jawabannya "iya.")

Pekerja lepasan seringkali percaya bahwa ada banyak kesempatan untuk mengeksplor dan mengaktualisasi diri dengan bekerja sendirian, ujar Jonathan Detrixhe, profesor psikologi di Long Island University dan terapis di Brooklyn. Detrizhe juga memiliki banyak pasian dengan hidup proyekan. 

"Namun hidup seorang freelancer bisa jadi amat kesepian, menakutkan, dan banyak kekurangan," ujarnya. Kecemasan ini adalah sesuatu yang perlu diperhatikan para pekerja lepasan—bisa jadi, kecemasan sedang memberi sinyal supaya kita menghindari suatu jalan, atau juga membawa kita ke pilihan-pilihan yang lebih baik, ujarnya. 

Hindari pengobatan tanpa anjuran dokter, karena minum obat memiliki efek sementara, dan tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Alih-alih, Detrixhe berkata pada klien untuk memprioritaskan menjaga tenaga—di luar bekerja lepasan—untuk memastikan mereka bisa pulang dan melakukan kegiatan kreatif yang mereka gemari.

Dari segi bisnis, Amy Werba, psikologis dan life coach dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di bidangnya, mengingatkan para pekerja lepasan bahwa kita tak hanya perlu menjadi marketer hebat, tapi juga advokat bagi diri sendiri. 

Dia menyarankan untuk menyisihkan sepertiga dari upah untuk ditabung, namun bukan hanya untuk alasan pragmatis—seperti makan, bayar kontrakan, dan lain-lain. Ketika seorang pekerja lepasan punya tabungan, "jadinya tidak terlalu desperate," ujarnya, "dan keputusasaan [bisa] berdampak pada pekerjaan jika kita tidak menyadarinya." 

Pekerja lepasan memiliki kecemasan yang cukup berbeda dengan orang kebanyakan. Dan untuk itu, kita membutuhkan strategi-strategi psikologis yang cukup berbeda pula.

Related

Career 147940069587877690

Recent

item