Kisah Inspiratif Orang Kaya yang Jatuh Miskin, Kaya Lagi, Jatuh, dan Bangkit Lagi (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Inspiratif Orang Kaya yang Jatuh Miskin, Kaya Lagi, Jatuh, dan Bangkit Lagi - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Di tengah perjalanan melalui kapal ke Amerika ini, Le Van Vu sempat merasa putus asa karena membayangkan bahwa dia harus memulai segalanya kembali dari nol ketika dia dan istrinya sampai di Amerika. 

Membayangkan hal itu, Le Van Vu merasa sedih dan putus asa, bahkan ia sampai berniat untuk bunuh diri dengan terjun ke laut. Namun istrinya membesarkan hatinya, dan Le Van Vu pun akhirnya menguatkan tekadnya.

Le Van Vu dan istrinya sampai di Houston, Amerika, pada tahun 1972 dengan tanpa uang satu sen pun. Mereka benar-benar miskin dan tak memiliki apa-apa. Lebih dari itu, mereka sama sekali tak bisa berbahasa Inggris, sehingga terjadi kesulitan setiap kali mereka mencoba berkomunikasi di tempat baru yang mereka datangi itu.

Untungnya, Le Van Vu memiliki seorang sepupu yang telah cukup lama tinggal di Amerika, dan Le Van Vu pun mencoba menghubungi sepupunya ini. Melalui sepupunya ini pulalah Le Van Vu dan istrinya bisa memperoleh pekerjaan sebagai pelayan di sebuah toko roti yang berada di sebuah pusat perbelanjaan. 

Karena berusaha untuk dapat hidup dengan sehemat mungkin, Le Van Vu dan istrinya tidak tidur di penginapan atau di rumah kos atau di rumah kontrakan yang memerlukan biaya. Sebagai gantinya, mereka memilih tidur di lantai gudang belakang toko roti tempat mereka bekerja, dengan berbantalkan karung berisi serbuk gergajian kayu. 

Mereka mandi dengan cara mengusap tubuh dengan spon di kamar mandi pusat perbelanjaan tempat toko roti itu berada, dan setiap malam mereka belajar bahasa Inggris dengan tekun dengan cara mendengarkan kaset-kaset percakapan bahasa Inggris. 

Upah mereka bekerja seminggu adalah 175 dolar untuk Le Van Vu dan 125 dolar untuk istri Le Van Vu. Mereka hidup dengan sehemat mungkin dan menabungkan penghasilan mereka secara teratur.

Si pengusaha toko roti tempat mereka bekerja itu kemudian berniat untuk menjual usahanya, dan menawarkannya kepada Le Van Vu serta istrinya. Harga yang diminta adalah sebesar 120.000 dolar. Tentu saja Le Van Vu dan istrinya tidak memiliki jumlah uang sebanyak itu. 

Namun si pengusaha toko roti kemudian menawarkan; Le Van Vu dapat membayar uang mukanya dulu sebanyak 30.000 dolar, dan sisanya akan dianggap sebagai hutang yang dapat dilunasinya dengan cara mengangsur.

Di sinilah hikmah dari menabung itu menunjukkan fungsinya. Dari hasil menabung yang selama ini dilakukannya bersama istrinya, Le Van Vu dapat membayar uang muka sebesar 30.000 dolar itu dan mengambil alih usaha toko roti tersebut. Namun mereka masih memiliki hutang sejumlah 90.000 dolar.

Sekarang Le Van Vu dapat menjalankan usaha toko roti itu sebagai pemilik. Dan tentunya ia beserta istrinya dapat mulai memikirkan untuk tinggal di rumah dan meninggalkan gudang toko roti yang selama ini mereka tinggali. 

Namun Le Van Vu berpikir, bahwa seandainya mereka mengontrak atau membeli sebuah rumah, maka itu akan membutuhkan sejumlah pengeluaran, padahal mereka masih memiliki tanggungan hutang yang cukup besar. Maka keputusan pun diambil; mereka akan tetap tinggal di gudang belakang toko roti itu sampai hutang mereka lunas terbayar.

Perjuangan yang gigih itu pun akhirnya menampakkan hasilnya. Dengan ketekunan untuk terus menabung dan menyisihkan uang penghasilannya, Le Van Vu dan istrinya akhirnya dapat melunasi hutang mereka dalam waktu tiga tahun, dan kemudian menjalankan usaha toko roti itu dengan tanpa hutang satu sen pun. Dan setelah itulah mereka mulai memikirkan untuk mengumpulkan uang lagi untuk dapat membeli sebuah rumah untuk tempat tinggal.

Yang terjadi kemudian adalah sejarah. Nama Le Van Vu adalah salah satu nama yang dikenal sebagai seorang jutawan di Amerika.

Related

Inspiration 51939668542116165

Recent

item