Kisah, Sejarah, dan Asal Usul Valentine’s Day (Bagian 1)


Naviri Magazine - Meskipun bukan hari besar nasional—khususnya di negara kita—namun ada banyak orang yang merayakan Valentine’s Day atau Hari Valentine, khususnya cowok-cewek yang masih muda. 

Saling memberi hadiah, dari yang mewah dan mahal sampai yang berbentuk permen, cokelat dan kado-kado atau bingkisan-bingkisan kecil. Di berbagai negara, perayaan atau cara merayakan hari Valentine juga memiliki bentuk yang bermacam-macam.

Di Inggris, misalnya, Valentine’s Day mulai dirayakan dan dianggap sebagai hari bersejarah semenjak pertengahan abad ke-17. Memasuki abad ke-18, muda-mudi di Inggris mulai semarak merayakannya dengan cara bertukar hadiah atau catatan kecil, yang sekarang berubah menjadi kartu Valentine. 

Tradisi yang dimulai semenjak jaman kerajaan Prince William itu kemudian menyebar sampai ke belahan Amerika, lalu terus menyebar sampai ke seluruh daratan Eropa dan Asia.

Pada tahun 489, Pope Gelasius dari Prancis mendeklarasikan 14 Februari sebagai peringatan hari Valentine, karena masyarakat Prancis meyakini tanggal itu sebagai waktu pertemuan burung-burung, dan mereka menganggap pertemuan burung-burung sebagai sesuatu yang romantis; saat pasangan-pasangan bertemu dengan kekasihnya.

Sementara di Jepang, para cewek di sana merayakan Valentine’s Day dengan membeli hadiah-hadiah yang kemudian diberikan kepada pasangan, adik-adik, saudara ataupun kawan-kawan cowoknya. 

Yang paling menarik adalah perayaan Valentine’s Day di Italia. Setiap tanggal 14 Februari datang, cewek-cewek di sana akan bangun pagi-pagi sekali dan kemudian berdiri di balik jendela rumahnya dan memandang keluar untuk melihat cowok-cowok (lajang) yang kebetulan lewat dan berlalu-lalang. 

Mereka meyakini bahwa cowok yang pertama kali mereka lihat di pagi hari itu kelak akan menjadi suaminya, dan biasanya mereka memang akan menikah pada tahun itu juga.

Jauh-jauh hari sebelum semuanya itu terjadi, Romawi Kuno sudah menganggap dan menjadikan pertengahan Februari sebagai waktu yang suci, karena pada waktu itulah awal musim semi dimulai. 

Biasanya, pada waktu-waktu itu para penduduk di jaman Romawi Kuno akan membersihkan rumah-rumah mereka, menata ruang tamunya, sekaligus juga mengganti interior yang perlu diperbarui. Sementara anak-anak kecil akan membuat berbagai benda hiasan berbentuk hati (?) yang kemudian ditempelkan di pintu-pintu rumah, atau di tempat-tempat lain, semisal pada kunci pintu, yang kelak di kemudian hari dikenal sebagai “bandul kunci”.

Bagaimana sesungguhnya sejarah Valentine’s Day itu muncul, dan mengapa dirayakan pada tanggal 14 Februari?

Ada cukup banyak versi menyangkut sejarah yang satu ini, meskipun masing-masing literatur sejarah tersebut memiliki benang merah yang sama. Satu versi yang bisa dibilang paling valid—sekaligus juga paling romantis—adalah versi sejarah yang terjadi pada abad ke-3 di Romawi.

Pada waktu itu, Romawi dikuasai seorang raja yang bergelar Claudius II. Pada waktu itu pula, Romawi tengah menghadapi keadaan genting karena terus-menerus berperang dengan kerajaan-kerajaan lain, sementara kejayaan dan kehebatan Romawi semakin hari semakin runtuh seiring dengan makin berkurangnya jumlah tentara yang bersedia maju ke medan perang—karena menikah. 

Para lelaki pada waktu itu lebih memilih untuk tetap bersama keluarganya dan menjaga anak serta istrinya daripada mengenakan seragam tempur dan berperang mengadu nyawa.

Nah, pada waktu itu ada seorang pastur muda, bernama Valentinus, dan pastur inilah yang biasa dimintai oleh pasangan-pasangan yang tengah jatuh cinta untuk menikahkan mereka. Orang-orang pada waktu itu menyukai dinikahkan Valentinus karena pastur itu selalu bisa memberikan khutbah-khutbah yang menarik, menyenangkan, sekaligus romantis.

Sementara itu, peperangan demi peperangan terus berkobar dan Romawi semakin menuju jaman kehancurannya. Melihat keadaan ini, Raja Claudius kemudian mengambil kebijakan yang tidak bijaksana. 

Dia memerintahkan agar seluruh lelaki di Romawi tidak boleh menikah, dan semenjak peraturan itu diberlakukan maka pernikahan akan dianggap ilegal dan melanggar hukum. Tempat-tempat yang biasa digunakan untuk memadu kasih oleh pasangan yang tengah dimabuk cinta kemudian disegel dan dijaga para aparat, dan cowok-cewek yang terlihat berduaan akan langsung dilemparkan ke penjara.

Tentu saja peraturan itu bertujuan agar para lelaki di Romawi tidak lagi merasa ragu untuk maju berperang karena tidak memiliki keluarga, tetapi Raja Claudius tidak pernah memikirkan fakta penting yang satu ini; bahwa cinta tak pernah mati. 

Orang mungkin takut untuk menikah setelah adanya peraturan itu, pasangan-pasangan yang dimabuk cinta mungkin tak lagi bertemu secara terang-terangan, cowok ataupun cewek yang sedang kasmaran mungkin tak akan lagi berani menunjukkannya secara bebas, tetapi…cinta tak pernah dapat dikekang oleh hukum apapun yang diciptakan manusia…cinta tak pernah mati.

Baca lanjutannya: Kisah, Sejarah, dan Asal Usul Valentine’s Day (Bagian 2)

Related

Romance 8829838750489253770

Recent

item