Memahami 'Jokes Bapak-bapak' di Indonesia dan Negara-negara Lain (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Memahami 'Jokes Bapak-bapak' di Indonesia dan Negara-negara Lain - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Jika standarnya adalah respons dingin sang anak, dad jokes tidak hanya hadir dalam komunikasi antara ayah-anak di Amerika atau melalui percakapan WA seperti yang terjadi di Indonesia.

Masyarakat Jepang mengenal oyaji gyagu yang berarti “candaan orang tua”. Japan Times menerangkan langsung ke contohnya: “Dua orang laki-laki berusia sekitar 50 tahun masuk ke restoran sushi. Satunya memesan jas hujan, yang lain memesan garasi.”

Cara memahaminya adalah dengan membandingkan “jas hujan” atau kappa dan “garasi” atau shako. Keduanya mirip dengan kappa maki yang berarti sushi gulung mentimun dan shakko yang berarti garasi.

Dad jokes Jepang berbentuk permainan kata sederhana. Kesederhanaan inilah yang membuat oyaji gyagu dianggap sebagai guyon kurang berkelas di mata anak muda Jepang. Di sisi lain, kesederhanaan itu membuat oyaji gyagu sering dipakai dalam puisi atau penamaan produk.

Di Korea muncul sebentuk dad jokes yang menjadi tren sejak tahun 2015. Mengutip pembahasan Choi Jinsook di Jurnal Korean Anthropology Review (April 2018), istilahnya adalah ajae gaegeu.

Ajae gaegeu biasanya keluar dari mulut para pembawa acara komedi televisi yang berusia antara pertengahan 30-an hingga pertengahan 40-an. Bentuknya masih permainan kata yang multi-makna. Sayangnya, pemirsa muda Korea menilainya tidak lucu karena terdengar kuno dan dipaksakan.

Dad jokes boleh muncul dalam beragam bentuk di berbagai negara, tapi karakteristik dan respons yang dihasilkan pada dasarnya serupa.

Kegaringannya bisa menimbulkan rasa tidak nyaman (cringe). Namun, kegaringan dan ketidaknyamanan itulah yang justru kerap ditertawakan oleh si penerima lelucon.

Beberapa menggolongkannya sebagai anti-jokes, jenis lelucon yang punchline-nya sengaja dibikin tidak lucu. Seperti tragikomedi mengenai diri sendiri, para bapak kadang menyadari bahwa leluconnya berkualitas buruk.

Fenomenanya mirip karya seni yang “saking buruknya ia menjadi bagus” (so bad it's good). Ambil contoh film terburuk terbaik sepanjang masa, The Room (2003). Orang tidak tertawa pada isi leluconnya, tapi pada buruknya kualitas lelucon dan mengapa ia bisa dipertontonkan, bahkan sampai bisa jadi “karya seni”.

Kondisi tersebut boleh jadi makin merecehkan dad jokes. Tapi, di sisi lain, dad jokes berkembang menjadi lelucon yang merakyat.

Semua bapak bisa mengutarakannya secara rileks. Hal ini berbeda dengan komedian profesional yang harus memastikan guyonan eksklusifnya bisa mengundang tawa.

Kembali merujuk pada laporan National Post, komedian Paul Seven mengatakan pelawak menjamin tawa penonton melalui humor yang agresif. Para bapak, di sisi seberang, tidak mengusung beban apapun karena dad jokes bersifat kalem, netral dan minim risiko.

“Jika Anda melihat komedi zaman dulu, seseorang selalu jadi subjek atau korban lelucon. Dalam pikiranku, komedi tidak harus seperti itu. Ia juga perlu menimbulkan rasa nyaman, terutama untuk dirimu sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, komedian harus selalu tahu isu terkini untuk menjadi dasar leluconnya, sedangkan para bapak dianugerahi lelucon yang sifatnya abadi (timeless). “Ini genre yang menemani anak-anak tumbuh dan dapat merasa terhubung dengannya, dari mana pun mereka berasal.”

Dalam pandangan psikolog yang sejak lama meneliti urusan tawa secara serius, lelucon punya banyak fungsi.

Wall Street Journal pernah memaparkan bagaimana lelucon bisa memperkaya perspektif orang, membuat penyampaian sesuatu lebih efisien, hingga tentu saja, dapat mengurangi stres.

Yang paling menarik adalah manfaat humor untuk mengakrabkan hubungan antar dua orang. Dalam konteks dad jokes, biar pun garing, jenis lelucon ini rupanya bisa mempererat hubungan antara bapak dan anak.

Related

Humor 917204195646262957

Recent

item