Mengenal Toxic Family, Sikap Buruk Anggota Keluarga yang Merusak Psikis


Naviri Magazine - Gambaran keluarga harmonis nan suportif antar-anggotanya menjadi idaman banyak orang. Begitu pula kehidupan pernikahan yang memompa kesejahteraan individu. Namun, kenyataannya, tidak semua orang beruntung mengecap hal-hal seperti itu.

Sejak masih kanak-kanak, beranjak dewasa, atau ketika membentuk rumah tangga sendiri, sebagian orang dihadapkan dengan anggota keluarga yang malah menghambat perkembangan dirinya. Situasi keluarga yang demikian dikenal sebagai dysfunctional atau toxic family. 

Sikap-sikap beracun dari anggota keluarga dapat ditemukan dalam relasi suami dan istri, orangtua dan anak, maupun antar-saudara kandung dan kerabat.

Ada sejumlah tanda suatu situasi berubah dari "drama" keluarga yang masih tergolong lumrah menjadi toxic family. Saat seseorang merasa cemas, sedih, dan marah setiap kali memikirkan akan berinteraksi dengan anggota keluarganya, atau saat tidak ada hal positif yang didapat dari interaksi tersebut, hal ini dapat mengindikasikan adanya situasi toxic family.

Secara umum, dalam sebuah hubungan termasuk relasi keluarga, situasi tidak sehat berakar dari permasalahan komunikasi dan penerapan batasan-batasan yang jelas. Di samping itu, hal ini dapat tersirat pula dari pola perilaku pihak-pihak yang terlibat.

Dilansir Science of People, orang-orang "beracun" terlihat suka mengatur hidup orang lain; gemar menonjolkan dan mengutamakan dirinya sendiri atau menunjukkan sikap narsisis; selalu berpandangan negatif dan membuat situasi jadi pesimis atau suram; senang menciptakan drama dan mencari-cari hal yang salah dari sesuatu; mudah cemburu dan menghakimi; suka memanipulasi atau berbohong; juga sering mengabaikan perasaan dan pandangan orang lain, serta selalu merasa paling benar.

Perlakuan Buruk Antar-Pasangan

Di samping gambaran umum orang-orang ‘beracun’ tadi, dalam konteks rumah tangga, hubungan tidak sehat dapat terlihat dari adanya pembatasan akses atau kebebasan oleh satu pihak terhadap yang lainnya. 

Sebagai contoh, seorang istri tidak diizinkan untuk beraktivitas di luar rumah oleh sang suami dengan alasan takut selingkuh. Contoh lain, seorang istri kerap curiga, sering mengecek gawai suami sebagai wujud rendahnya kepercayaan terhadap suaminya.

Menurut G. Stephen Renfrey, penulis buku The One Year Marriage: A Formula for Enduring Love, perasaan takut yang membuat seseorang mengontrol pasangannya berkaitan dengan ketidakamanan dan ketergantungan—baik ketergantungan secara finansial maupun emosional. 

Kecenderungan mengontrol akan semakin kuat ketika seseorang memiliki pasangan yang lebih suka mengalah atau tipe penghindar konflik.

Sikap mendahulukan pasangan agar dirinya terus bisa diterima menjadi pemicu situasi rumah tangga tak sehat, karena artinya seseorang mengorbankan hal-hal yang membentuk dirinya sendiri: nilai-nilainya, keinginan, relasinya dengan orang-orang lain, bahkan mungkin identitasnya.

Tidak semua orang memperlihatkan sikap mengontrol secara gamblang. Ada orang yang memilih sikap pasif-agresif untuk mewujudkan dominasinya terhadap pasangan. Di hadapan pasangannya, orang tersebut berkata ya, sementara tindakannya menunjukkan hal sebaliknya. Segala macam taktik halus bisa mereka lakukan untuk menyabotase keinginan, kebutuhan, atau rencana si pasangan.

Di lain sisi, ada orang-orang yang tidak terima dengan sikap mengontrol pasangan, tetapi masih saja bertahan dalam pernikahan. Alhasil, pertengkaran nyaris tak berkesudahan menjadi tidak terhindarkan. Menurut data Pengadilan Agama yang dikutip dalam CATAHU Komnas Perempuan, hal ini menjadi penyebab perceraian tertinggi pada 2018 dengan total 140.375 dari 335.062 temuan.

Related

Relationship 8489269448537997415

Recent

item