Panduan Lengkap untuk Mengenal dan Memahami Musik Metallica (Bagian 1)


Naviri Magazine - Metallica sampai kini masih jadi barometer musik metal global, lantaran pengaruh band yang dibentuk pada 1981 ini tetap signifikan seiring meluasnya genre heavy metal. Layaknya Anthrax atau Slayer, sebelum jadi band metal paling besar sejagat, Metallica awalnya adalah sekelompok musisi thrash metal berseragam denim yang dipuja sekelompok anak muda gondrong.

Metallica baru bisa menyita perhatian audiens musik mainstream setelah berani mengeluarkan lagu-lagu yang lebih ramah media. Perubahan gaya musik Hetfield dkk ini yang akhirnya mengubah komposisi penggemar mereka. Jika sebelumnya Metallica cuma jadi panutan anak muda thrash metal underground yang gemar melakukan tape trading, kini Metallica digemari oleh generasi MTV. 

Hebatnya lagi, kepopuleran metal seperti tak bisa diusik. Di akhir milenium pertama, Metallica harus melalui perseteruan hebat antara anggota band. Belum lagi, mereka juga waktu itu tengah bersitegang dengan penggagas file sharing, Napster—sebuah aksi yang bikin nama Metallica coreng di kalangan pengunduh mp3. 

Nyatanya, memasuki milenium kedua, Metallica masih jadi band metal paling terkenal sejagat. Bahkan, sampai hari ini, Metallica masih mengeluarkan album dan manggung di venue-venue besar di depan ribuan massa mereka yang fanatik. 

Salah satu alasan kenapa Metallica selalu masuk Billboard dan tetap jadi band bestseller selama beberapa dekade pasti ada hubungannya dengan penemuan-penemuan akan katalog mereka. 

Dengan beragam rilisan deluxe remaster dan tur dunia tanpa henti, pendengar baru band ini makin antusias menjajal diskografi Metallica, sementara fan-fan casual mereka bisa terus menggali rilisan Metallica dengan mudah lewat bantuan internet—sebuah perkembangan yang awalnya sangat dibenci oleh Metallica. 

Sayang, mengingat Metallica punya 10 album studio, banyak album live resmi dan segepok album reissue, mengkhatamkan diskografi Metallica adalah sebuah pekerjaan yang berat. 

Sisi Thrash Metallica

Mengambil inspirasi dari band-band New Wave of British Heavy Metal (NWBHM) dan hardcore—varian punk yang waktu itu masih segar-segarnya, thrash metal muncul sebagai genre asli Amerika Serikat yang muncul di saat publik tengah mencari musik ekstrem yang segara. 

Dalam debut mereka, Kill Them All, yang dilepas pada 1983, Cliff Burton, Kirk Hammett, James Hetfield, dan Lars Ulrich berhasil menyuguhkan apa yang bisa kita sebut sebagai purwarupa thrash metal—dengan pengaruh NWBHM yang kentara di sana-sini. 

Masuk album kedua, Ride The Lightning (1984) pengaruh-pengaruh itu mulai luntur seiring naik pesatnya kemampuan songwriting James Hetfield. Dua album keren setelah itu, Master Of Puppets (1986) dan And Justice For All (1988), menegaskan status mereka sebagai dewanya musik thrash—kali ini dengan Jason Newstead mengisi kekosongan, selepas kematian tragis Cliff Burton. 

Sepanjang karir band ini, meski mereka melakukan bermacam eksperimen, Metallica selalu kembali ke estetika thrash metal 80-an—sebuah genre yang mereka ikut lahirkan. 

Seperti yang terlihat pada album Death Magnetic (2008) dam Hardwired… to Self-Destruct, Metallica—seperti band-band kugiran di abad 21 lainnya—dengan mudah menegaskan status mereka sebagai kolektif musik legendaris hanya dengan mengunjungi sound-sound awal mereka. 

Dua album tersebut juga menampilkan pengganti Jason Newstead, Robert Trujillo—bassist yang sebelumnya pernah memperkuat Suicidal Tendencies dan Ozzy Osbourne serta beberapa band lainnya. 

Sisi Mainstream Metallica

Kerap dikenal oleh fan sebagai The Black Album, album self-titled Metallica yang keluar pada tahun 1991 sampai saat ini masih menjadi album rock paling sukses secara komersil. Raihan platinumnya? 16 buah. 

Selain memperkenalkan heavy metal ke publik arus utama dengan beberapa video musik yang menyeramkan, The Black Album kembali mendefenisikan ulang rock arena empat tahun setelah Guns N’ Roses’ Appetite For Destruction mematok batas-batas rock mainstream. 

Album kelima Metallica ini memberi apa yang generasi sebelumnya dapatkan dari KISS dan AC/DC. Album ini sama saja nendangnya saat dimainkan lewat headphone Discman maupun speaker di stadion.

Pada masanya, The Black Album jelas lebih berat dan agresif dari apa yang didengarkan publik mainstream, tapi hook-hook chorus khas Hetfield dan produksi Bob Rock yang mulus bikin lagu-lagu di dalamnya gampang dicerna. Formula ini bakal menemukan puncaknya pada dua album setelah The Black Album, Load (1996) dan Reload (1997), yang punya lebih banyak koleksi lagu lamban dan ngerock. 

Sepintas, Metallica melakukan kompromi dengan memasukkan sound-sound nu-metal pada dua album ini. Padahal, kenyataannya, Metallica punya andil dalam lahirnya nu-metal—genre metal yang paling sering diejek. Lagi pula, dari mana Nine Inch Nails, Marilyn Manson, dan Korn mendapatkan inspirasi sound mereka kalau bukan dari The Black Album?

Tendensi untuk memuaskan publik mainstream ini pun masih kuat di album St. Anger (2003) yang kontroversial. Bahkan dalam lagu-lagu tersangar di album itu, Hetfield masih sempat menyisipkan hook-hook yang ngepop.

Baca lanjutannya: Panduan Lengkap untuk Mengenal dan Memahami Musik Metallica (Bagian 2)

Related

Music 2760019167835819771

Recent

item