Panduan Menjalankan Investasi Obligasi agar Menguntungkan (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Panduan Menjalankan Investasi Obligasi agar Menguntungkan - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Nah, menyangkut obligasi yang digunakan untuk membayar hutang, ada kalanya perusahaan penerbit obligasi memang menggunakan penjualan obligasinya untuk menutup hutang yang berbiaya mahal dan mereka memang merencanakan untuk segera menutup hutang tersebut untuk kemudian melakukan pembangunan perusahaannya. 

Untuk kasus semacam ini, obligasi yang mereka terbitkan masih layak untuk dipertimbangkan dan perusahaan ini masih terhitung prospektif untuk diharapkan.

Hasil yang diperoleh

Perhatikan hasil yang diperoleh (coupon rate) dari obligasi yang kita beli tersebut. Semakin tinggi hasil yang diperoleh, maka artinya keuntungan yang kita dapatkan dari kepemilikan obligasi itu pun akan semakin besar. 

Namun, jangan lupa, bahwa di dalam dunia investasi terdapat hukum abadi yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat penghasilan, maka semakin tinggi pula tingkat risiko yang menyertainya.

Artinya, kalau kita ingin investasi kita aman dalam kepemilikan obligasi ini, sebaiknya kita memilih obligasi yang memberikan hasil ‘umum’. Maksudnya tidak terlalu tinggi, namun juga tidak terlalu rendah. Karena keuntungan yang bisa didapat dari kepemilikan obligasi ini tidak hanya dari pendapatan bunga saja, namun juga dari hasil keuntungan penjualan obligasi sebelum jatuh tempo.

Untuk mengetahui tingkat coupon rate ini kita bisa mempelajarinya dari tingkat atau peringkat obligasi tersebut. Semakin tinggi bunganya, biasanya tingkatannya pun akan semakin rendah. 

Obligasi yang diperjualbelikan di pasar biasanya memiliki peringkat yang tertinggi dimulai dari A- (A minus) sampai yang terendah, yaitu idD. Karenanya, kita mesti mengetahui peringkat obligasi yang kita beli dan kita miliki untuk menghindari obligasi yang memiliki peringkat rendah.

Waktu pelunasan

Apabila kita membeli obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah, maka jangka waktu jatuh tempo pelunasannya tidak menjadi masalah, karena kita tinggal melakukan penghitungan present value dari nilai obligasi itu dan membandingkannya dengan pendapatan bunga yang diperoleh. 

Namun, jika kita membeli obligasi yang diterbitkan oleh korporasi / perusahaan, maka kita harus memperhitungkan dan memperhatikan jangka waktu pelunasannya.

Mengapa? Karena semakin lama jatuh tempo dari obligasi yang mereka tawarkan itu, maka semakin tinggi pula tingkat risikonya karena di sini ada faktor ketidakpastian. Maksudnya, siapa yang akan menjamin bahwa perusahaan penerbit obligasi tersebut masih akan beroperasi ketika waktu pelunasan obligasinya jatuh tempo?

Karenanya, kalau kita ingin aman dalam investasi obligasi ini, pilihlah obligasi yang tidak terlalu lama jatuh tempo pelunasannya. Jangan terlalu berspekulasi dengan obligasi yang memiliki waktu pelunasan yang lama meskipun mereka menjanjikan hasil yang lebih besar. 

Tingkat jual-beli

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, keuntungan dalam memilih investasi obligasi adalah kita dapat memperoleh dua keuntungan sekaligus. Keuntungan pertama adalah hasil yang didapatkan dari obligasi yang kita miliki itu, dan kedua adalah keuntungan yang bisa didapat ketika kita menjual obligasi itu sebelum masa jatuh temponya.

Nah, jika kita memang mengincar keuntungan dari hasil penjualan obligasi sebelum jatuh tempo, maka pilihlah obligasi yang memiliki tingkat jual-beli yang tinggi atau frekuensi perdagangan yang sering. 

Obligasi yang sering diperdagangkan dalam jual-beli adalah salah satu tanda dari obligasi yang terpercaya, diminati oleh banyak orang yang melakukan investasi, dan biasanya juga mudah dicairkan.

Karenanya, sebaiknya pilihlah jenis obligasi yang memiliki frekuensi perdagangan tinggi atau sering ditransaksikan, karena selain aman, itu juga akan memberikan keuntungan yang berlebih.

Pilihan mata uang

Ada obligasi yang dijual dengan mata uang rupiah, namun ada juga obligasi yang dijual dengan mata uang dolar. Sekilas mungkin kita akan berpikir bahwa obligasi dalam mata uang dolar akan lebih terjamin kualitasnya dibanding obligasi dalam mata uang rupiah karena seringkali nilai mata uang dolar lebih kuat dibanding rupiah. Namun pertimbangan semacam itu tidak selamanya benar.

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, kita mesti memperhatikan kemana hasil penjualan obligasi itu digunakan oleh perusahaan penerbit obligasi. Apakah obligasi dalam mata uang dolar itu memang kemudian digunakan untuk ekspansi usaha yang juga menghasilkan dolar? 

Jika memang seperti itu kenyataannya, maka tentu saja obligasi dolar itu akan menarik dan prospektif. Namun jika penjualan obligasi dalam bentuk dolar itu ternyata hanya digunakan untuk membayar hutang perusahaan dalam jumlah dolar, tentu saja ini sama sekali bukan pilihan yang baik.

Kalau perusahaan penerbit obligasi tersebut menghasilkan keuntungannya dalam mata uang rupiah, kita tidak perlu tergiur untuk membeli obligasi yang mereka terbitkan dalam bentuk mata uang dolar, karena biasanya mereka nantinya justru akan kerepotan untuk membayar obligasi itu ketika masa jatuh temponya tiba.

Enam hal di atas menyangkut bagaimana memilih obligasi itu adalah saran-saran dasar yang bisa diperhatikan ketika kita ingin bermain di arena investasi yang satu ini. Secara mudahnya, jika kita membeli obligasi pada saat penawaran, maka yang paling penting adalah memperhatikan saran pertama. Namun jika kita membeli obligasi di pasar sekunder, maka kita perlu memperhatikan semua saran di atas tersebut. 

Terakhir, gunakan keyakinan pribadi kita ketika akan memilih obligasi mana yang ingin kita gunakan sebagai bagian dari investasi yang ingin kita miliki. Karena terlepas dari teori apapun menyangkut hal ini, selamanya investasi tetap membutuhkan keyakinan pribadi.

Related

Tips 1293971332410667938

Recent

item