Saat-saat Terakhir Kehidupan Rasulullah di Dunia (Bagian 2)



Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Saat-saat Terakhir Kehidupan Rasulullah di Dunia - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Lalu Rasulullah SAW berkata, “Wahai Ali, duduklah kamu, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.” 

Setelah itu Hassan dan Hussein bangun dengan berkata, “Wahai 'Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah SAW? Kalau kamu men-qishash kami, sama artinya dengan kamu menqishash Rasulullah SAW.” 

Mendengar kata-kata cucunya, Rasulullah SAW pun berkata, “Wahai buah hatiku, duduklah kamu berdua.” 

Lalu Rasulullah SAW berkata pada ‘Ukasyah, “Wahai 'Ukasyah, pukullah saya kalau kamu hendak memukul.”

Kemudian 'Ukasyah berkata, “Ya Rasulullah SAW, Anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.” 

Maka Rasulullah SAW pun membuka baju. Setelah Rasulullah SAW membuka baju, maka menangislah semua yang hadir. Setelah 'Ukasyah melihat tubuh Rasulullah SAW, ia seketika mencium beliau dan berkata, “Saya tebus Anda dengan jiwa saya, ya Rasulullah SAW, siapakah yang sanggup memukul Anda? Saya melakukan begini, karena saya ingin menyentuh badan Anda yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan badan saya. Dan Allah SWT menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu.” 

Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli surga, inilah orangnya.” 

Kemudian semua jamaah pun bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat mengharukan itu. Setelah itu para jamaah pun berkata, “Wahai 'Ukasyah, ini keuntungan yang paling besar bagimu, karena engkau telah memperoleh derajat yang tinggi, dan berteman dengan Rasulullah SAW di dalam surga.”

Ketika ajal Rasulullah SAW semakin dekat, beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah r.a dan beliau berkata, “Selamat datang kamu semua, semoga Allah SWT mengasihi kamu semua. Saya berwasiat kepada kamu semua, agar bertaqwa kepada Allah SWT, dan mentaati segala perintahnya. 

“Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua sudah dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT, dan menempatkannya di surga. Kalau telah sampai ajalku, maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air, dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. 

“Setelah itu, kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu, kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. 

“Pertama yang akan menshalatkan aku ialah Allah SWT, kemudian malaikat Jibril, diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir sekali malaikat lzrail berserta semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk bergantian secara berkelompok untuk menshalatiku.”

Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu, mereka pun menangis. 

“Ya Rasulullah SAW,” kata mereka, “Anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, dan selama ini Anda memberi kekuatan dalam hidup kami, dan sebagai penguasa yang mengurusi perkara kami. Apabila Anda sudah tiada nanti, kepada siapakah kami harus bertanya atas setiap persoalan yang timbul nanti?”

Rasulullah SAW menjawab, “Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan dua penasihat kepada kamu semua. Yang satu pandai bicara, dan yang satu lagi diam saja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran, dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada suatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadist-ku. Dan sekiranya hati kamu mengeras, maka lembutkan ia dengan mengambil pelajaran dari mati.”

Semenjak waktu itulah, sakit Rasulullah SAW bermula. Dalam bulan Safar, Rasulullah SAW sakit selama 18 hari, dan sering dikunjungi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa Rasulullah SAW diutus pada hari Senin, dan wafat pada hari Senin. 

Pada hari Senin itu, penyakit Rasulullah SAW bertambah berat. Setelah Bilal r.a menyelesaikan azan subuh, Bilal r.a pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. 

Sesampainya Bilal di rumah Rasulullah SAW dan mengucapkan salam, Fatimah r.a berkata, “Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan beliau.” 

Setelah mendengar penjelasan dari Fatimah r.a, Bilal pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah itu. Ketika waktu subuh hampir selesai, Bilal pergi kembali ke rumah Rasulullah SAW dan memberi salam seperti tadi. 

Kali ini salam Bilal r.a didengar oleh Rasulullah SAW, dan Rasulullah berkata, “Masuklah wahai Bilal. Sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, karena itu kamu mintalah Abu Bakar untuk mengimami shalat subuh berjamaah dengan mereka yang hadir.” 

Setelah mendengar kata-kata Rasulullah SAW, Bilal pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala sambil bergumam sendiri, “Aduh musibah...”

Setelah Bilal sampai kembali di masjid, dia pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya. 

Abu Bakar r.a tidak dapat menahan diri dari kesedihannya. Saat ia melihat mimbar kosong, Abu Bakar menangis sehingga ia jatuh pingsan. Hal ini diikuti oleh beberapa sahabat yang lain.

Baca lanjutannya: Saat-saat Terakhir Kehidupan Rasulullah di Dunia (Bagian 3)

Related

Moslem World 2696956100385419066

Recent

item