Sejarah dan Asal Usul Selebritas, dan Mengapa Kita Tertarik Pada Mereka (Bagian 1)


Naviri Magazine - Sosok Tara Basro sempat menjadi perhatian publik karena pernikahannya yang dinilai unik oleh sebagian orang. Selain mahar berupa bunga favorit Tara yang dikeringkan dan dikombinasikan dengan origami uang kertas dan disimpan di dalam dome, dekorasinya juga dianggap unik karena bertemakan rustic ala film Midsommar. 

Beberapa bulan silam, ia kembali menjadi buah bibir. Tara mengunggah dua foto diri yang sedang duduk dan menunjukkan lipatan lemak di perutnya sambil senyum lebar. Foto yang diunggah di Instagram itu bertujuan mengajak para pengikutnya di media sosial untuk mencintai tubuh mereka sendiri. 

Tara pun sukses menuai banyak pujian dari publik dan para selebritas lain. Sementara itu, pemerintah menganggap unggahan Tara sebagai konten pornografi.

Belakangan nama Tara Basro kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Awalnya ia membagikan ulang unggahan dari sebuah akun Twitter @AliBeckZeck soal teori konspirasi vaksin. Akun itu menuliskan bagaimana perusahaan farmasi sengaja memanfaatkan ketakutan masyarakat terhadap virus untuk mendulang keuntungan. Walhasil, Tara dituduh anti-vaksin.

Sosok Tara Basro selalu menjadi perbincangan dan pusat perhatian di media karena berbagai sikap dan tindakan yang diambilnya. Padahal, ada banyak sekali orang lain di sekitar kita yang bertindak seperti dirinya. Wajar, Tara Basro adalah seorang selebritas.

Tapi, apakah sebenarnya selebritas itu? Apa yang membedakan Tara Basro dengan tokoh yang juga beken seperti Einstein dan Stephen Hawking? Kemudian, apa pengaruh para selebritas di hidup kita?

Selebritas sering diasosiasikan dengan ketenaran. Ketenaran atau “fame” merupakan istilah yang berakar dari zaman Romawi. Dalam bahasa Latin, “fama” berarti “rumor” atau “perbuatan besar yang dikenal selama ribuan tahun”. Dengan begitu, status “fame” atau ketenaran ini hanya diperuntukkan bagi segelintir orang seperti Plato, Aristoteles, Leonardo da Vinci, dan seterusnya. 

Merujuk Celebrity (2001) karya professor sosiologi di City University, London, Chris Rojek, selebritas berasal dari bahasa Latin “celebrem”, sebuah kata yang berarti perayaan atau “sedang menjadi tontonan dan kerumunan”. Bahasa Perancis juga dikenal kata célèbre yang berarti “terkenal”. Di indonesia, selebritas kerap disebut “pesohor”, “selebriti”, atau “seleb”.

Lebih jauh, Rojek menyebut selebritas lahir pada abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan teknologi yang turut merangsang sarana komunikasi baru seperti budaya media cetak yang masif, kamera, urbanisasi dalam skala besar, dan komersialisasi waktu luang yang berlangsung di bawah revolusi industri. 

Pada era ini pula media cetak mulai perang rating dengan cara menampilkan kehidupan orang-orang terkenal.

Menurut Rojek, selebritas menjadi perhatian publik karena tiga proses sejarah utama yang saling terkait pada abad ke-17 dan 18, yakni demokratisasi dalam masyarakat, lunturnya dominasi otoritas agama, dan komodifikasi dalam kehidupan sehari-hari. Komodifikasi merupakan proses mengubah barang dan jasa menjadi komoditas dengan nilai tertentu berdasarkan kebutuhan pasar. 

Dalam hal ini, publik menjadi komoditas yang berfungsi untuk mengonsumsi apa yang dipasarkan oleh media setiap harinya, termasuk selebritas di dalamnya. Jadi, sebenarnya publik dan selebritas sama-sama menjadi komoditas atau barang dagangan dalam proses komodifikasi media.

Rojek memberikan contoh Revolusi Amerika yang “berusaha untuk menggulingkan tak hanya institusi kolonialisme [Inggris], tetapi juga ideologi kekuasaan monarki,” catatnya. 

Dalam konteks Revolusi Amerika, Rojek menyebut berbagai ideologi itu digantikan dengan ideologi alternatif, yaitu “the ideology of the common man” (“ideologi orang biasa”). 

Ideologi ini melegitimasi sistem politik dan bisnis serta industri yang berkelanjutan sehingga memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap komodifikasi selebritas. Dulu masyarakat menyanjung raja, ratu, dan bangsawan. Namun setelah “ideologi orang biasa” menyebar luas, mereka memuja para pesohor.

Disokong Teknologi

Lalu apa yang membedakan ketenaran dengan selebritas? Apa yang membedakan antara Stephen Hawking misalnya, dengan Keanu Reeves? Mereka sama-sama terkenal dan dibicarakan oleh banyak orang. Namun, Hawking tidak mengakumulasi perhatian media dan mendorong tingkat komodifikasi yang sama dengan Reeves. 

Tokoh yang pertama dibicarakan karena kontribusi keilmuannya, sedangkan yang kedua memicu kontroversi—entah baik maupun buruk. Tokoh yang pertama menarik perhatian, yang kedua menarik perhatian untuk hidup berdasarkan pembeda tertentu, entah kecantikan, aktivitas sehari-hari yang dianggap unik, dan lain sebagainya sehingga bisa terus terekspos media, tenar, dan mendatangkan penghasilan. 

Orang seperti Einstein memiliki potensi untuk dikenal selama berabad-abad lamanya karena kontribusi keilmuannya, sedangkan tokoh kedua paling lama hanya dikenal selama maksimal dua atau tiga dekade.

Baca lanjutannya: Sejarah dan Asal Usul Selebritas, dan Mengapa Kita Tertarik Pada Mereka (Bagian 2)

Related

History 5917033345761995803

Recent

item