Studi: Anak yang Dibesarkan dengan Cara Buruk Cenderung Menderita Saat Dewasa


Naviri Magazine - Dalam sebuah studi yang dimuat di Journal of Family Medicine and Disease Prevention, dikatakan ada berbagai konsekuensi negatif yang bisa dirasakan seorang anak yang pernah menghadapi keluarga disfungsional. Ketika bertumbuh dewasa, ia bisa memiliki kecenderungan untuk berperilaku merusak diri seperti penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol sebagai bentuk pelarian dari trauma masa kecilnya.

Selain itu, ia mungkin saja memiliki penilaian diri yang rendah di kemudian hari, merasa terus menerus cemas dan gugup, kehilangan kendali, atau berulang kali menyangkal perasaan-perasaannya. 

Penumpukan emosi negatif dalam jangka panjang bisa berimbas penurunan kondisi mental seseorang. Ketika hal ini terjadi, produktivitas dan hidup yang sehat menjadi sulit diwujudkan olehnya.

Terkait hubungan antar-personal, anak yang tumbuh dalam keluarga disfungsional dapat mempunyai masalah kepercayaan terhadap orang lain hingga akhirnya sulit menjalin relasi. 

Seiring berjalannya waktu dan berulangnya perlakuan-perlakuan buruk dari keluarga, anak tersebut berpotensi melakukan kembali tindakan beracun yang pernah diterimanya kepada orang lain. Dengan kata lain, ia bisa saja tumbuh dan mengembangkan sikap-sikap toxic di kemudian hari.

Dalam konteks suami-istri, hubungan tak sehat yang terjalin akan berefek pada bagaimana mereka menjalani peran sebagai orangtua. Kecenderungan seseorang untuk menutupi perlakuan buruk pasangannya dari keluarga besar atau kenalan lainnya pada akhirnya dapat membuat ia semakin kesepian, terisolasi, bahkan jatuh sakit karena perubahan pola makan dan tidurnya.

Related

Psychology 8975353306865379333

Recent

item