Untuk Orang Tua, Ini Tips Mengajarkan Nilai Uang pada Anak (Bagian 1)


Naviri Magazine - Apabila pasangan suami-istri telah memiliki anak atau beberapa orang anak, mengajar anak-anak untuk mulai belajar tentang nilai uang dan bagaimana cara yang baik dalam mengelolanya adalah hal penting. 

Jika anak masih kecil, kita bisa cukup mengajarkan kepadanya akan nilai uang dan mengapa kita harus menghargai setiap uang yang kita miliki. 

Sedang untuk anak yang lebih besar, kita bisa mempercayainya untuk memberikan sejumlah uang yang akan digunakannya selama dalam satu bulan. Tujuannya adalah agar anak mulai belajar tentang bagaimana cara mengelola uang miliknya secara baik. 

Konsekuensinya tentu saja apabila si anak ternyata kekurangan uang dalam satu bulan itu dia harus menanggung kekurangannya sampai ia mendapatkan jatah untuk bulan berikutnya.

Selain itu, apabila anak meminta uang untuk suatu keperluan tertentu, ada baiknya kalau sewaktu-waktu keinginannya itu ditunda pemberiannya. Misalnya ketika si anak ingin memiliki suatu barang, kita bisa menyatakan bahwa kita bisa membelikannya, namun bukan sekarang karena uang yang sekarang masih akan digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih penting. 

Dengan begitu, si anak pun akan mulai belajar bahwa orangtua pun tidak mudah dalam mencari dan mendapatkan uang. 

Akhirnya, dengan adanya saling kepercayaan di dalam keluarga, maka masing-masing anggota keluarga pun akan lebih bisa memahami apabila sewaktu-waktu mengalami kekurangan uang, dan masing-masing akan ikut membantu mencari cara dalam mengatasinya.

Tak ada uang pribadi

Ada kalanya suami-istri sama-sama bekerja dan sama-sama menghasilkan pendapatan. Di sini pun tetap dibutuhkan saling keterbukaan dan saling percaya, meskipun bukan hanya suami saja yang menghasilkan uang untuk keluarga.

Salah satu bentuk keterbukaan dan rasa saling percaya menyangkut hal ini adalah dengan menanamkan pengertian pada masing-masing suami-istri bahwa di dalam keluarga tidak ada yang disebut ‘uang pribadi’. 

Maksudnya, terlepas apakah uang itu didapat dari pihak istri atau diperoleh dari pihak suami, keduanya tetap bertujuan untuk membiayai kebutuhan keluarga secara bersama-sama. Karenanya, hindari penyebutan ‘uangku’ atau ‘uangmu’ dan sebaiknya gunakan istilah ‘uang kita’.

Pengelolaannya tentu saja bisa dilakukan dengan sama-sama adilnya. Misalnya, kalau rekening tagihan listrik dibayar dengan menggunakan penghasilan milik suami, maka tagihan air PAM dibayar dengan penghasilan yang didapatkan oleh istri. Sedangkan untuk biaya hidup sehari-hari serta biaya sekolah anak-anak bisa ditanggung berdua.

Di dalam keluarga yang suami-istrinya bekerja secara bersama-sama seperti itu biasanya menggunakan dua rekening atau memiliki dua rekening yang berbeda untuk keperluan-keperluan pribadi. Tentu saja itu bukan masalah selama semuanya masih dilandasi dengan semangat keterbukaan dan kepercayaan.

Hindari kebiasaan konsumtif

Ketika kita masih hidup sendirian (lajang), maka kebutuhan hidup kita masih terbatas pada hanya kebutuhan pribadi. Di dalam hidup sendirian ini mungkin kita masih suka dan masih sering memanjakan selera konsumtif kita dengan memuaskan selera pribadi terhadap hal-hal yang mungkin berupa kebutuhan namun hanya bersifat keinginan semata-mata.

Namun gaya hidup seperti itu tentunya harus sudah berubah ketika kita mulai berkeluarga, karena tanggungan hidup yang harus kita biayai tidak lagi seorang diri, namun juga keluarga; istri dan anak-anak. Karenanya, hindari kebiasaan konsumtif dan hindarkan pula keluarga dari kebiasaan itu.

Nah, seringkali yang menjadi ‘cukup’ atau ‘tidak cukup’ dalam membelanjakan hasil pendapatan itu tidak diukur dari besar kecilnya penghasilan kita, namun lebih pada bagaimana cara kita mengatur dan mengelolanya, serta bagaimana kita memilih kebutuhan dan keinginan yang kita bayar dengan uang penghasilan. Di sini, yang paling berperan penting adalah skala prioritas.

Baca lanjutannya: Untuk Orang Tua, Ini Tips Mengajarkan Nilai Uang pada Anak (Bagian 2)

Related

Tips 7335379321498660794

Recent

item