Bagaimana Panda Bisa Hidup Hanya dengan Makan Bambu? Ini Penjelasan Ilmuwan


Naviri Magazine - Panda memiliki tubuh besar. Tapi ia bisa bertahan hidup hanya dengan memakan bambu yang nutrisinya rendah. Mengapa?

Binatang bernama latin Ailuropoda melanoleuca ini ternyata mengembangkan perilaku hidup yang lamban dan 'malas' serta sistem metabolisme yang rendah. Ini membuatnya lamban seperti kungkang dan lebih malas dari koala. 

Hasil penelitian terbaru ilmuwan China dari Institut Zoologi di Beijing mendapati panda hanya menghabiskan energi 38 persen dibandingkan satwa lain yang berukuran sama. "Pengeluaran energi harian panda lebih rendah ketimbang koala, dan mirip dengan kukang," kata Fuwen Wei, dari institut itu.

Ilmuwan China mengukur energi yang dihabiskan lima panda di kurungan di Kebun Binatang di Beijing, dan tiga ekor yang ada di alam liar di Provinsi Shaanxi, China. Mereka melakukannya dengan menyuntikkan air yang diperkaya kandungan isotop dan oksigen pada hewan-hewan itu.

Mereka kemudian mengambil sampel darah dari hewan-hewan itu setelah dua pekan. Tujuannya untuk melacak sudah seberapa banyak kandungan air yang 'diperkaya' itu habis dalam tubuh hewan-hewan tersebut.

Hasilnya, seperti dilansir di jurnal Science, panda ternyata mengonsumsi rata-rata 4,6 megajoule energi per hari. Ini setara dengan membakar 1.100 kilokalori. Untuk hewan yang berbobot rata-rata 91 kilogram, konsumsi itu terbilang sangat rendah.

Untuk perbandingan, koala yang kelihatan lamban dan lesu, ternyata diketahui menggunakan 60 persen energi yang normal digunakan hewan seukurannya. Untuk penggunaan energi harian, panda bersaing dengan kukang yang dikenal pemalas juga, yaitu memakai 36 persen energinya dibandingkan binatang seukurannya.

Sejumlah hewan berukuran besar seperti panda menghemat energi dengan berhibernasi atau mengurangi metabolisme dan temperatur tubuh untuk waktu singkat, dengan memasuki keadaan yang disebut 'mati suri' harian. Tapi panda ternyata tak melakukan kedua-duanya. 

Untuk mengetahui apa yang dilakukan panda-panda itu, para ilmuwan memantau panda-panda di kandang setiap 100 menit, dan mencatat apakah si panda sedang makan, duduk, tidur, atau melakukan yang lain. Sementara panda di alam liar dilacak dengan GPS untuk mengetahui seberapa banyak mereka bergerak.

Ternyata sama saja. Panda itu tak banyak bergerak. Di alam liar, panda secara fisik hanya aktif 49 persen dari keseluruhan waktu. Ketika bergerak, kecepatan rata-ratanya hanya 26,9 meter per jam.

Panda di kandang lebih 'malas' lagi. Mereka hanya bergerak 33 persen dari waktunya. Tapi para ahli tak bisa melacak berapa kecepatannya karena mereka tak dipasangi pelacak aktivitas.

Faktor lain diduga berkontribusi pada metabolisme mereka yang sangat rendah. Para peneliti menekankan bahwa organ internal binatang memainkan peranan penting dalam mengetahui metabolismenya. Dan beberapa organ kunci panda berukuran kecil. Sebagai contoh, otak panda 17 persen lebih kecil dibandingkan mamalia plasental lainnya. Ginjalnya 25 persen lebih kecil, dan livernya 37 persen lebih kecil.

Peneliti juga mendapati level hormon tiroid pada lima panda dalam kurungan adalah 36-53 persen lebih rendah ketimbang mamalia lain seukuran mereka. Tiroid adalah kelenjar yang berfungsi salah satunya untuk mengatur kecepatan tubuh membakar energi. 

Sebuah analisis genetika menemukan satu perubahan kecil pada sebuah gen bernama DUOX2 yang kemungkinan menahan produksi hormon tiroid, yaitu tiroksin (T4) dan Triiodotironin (T3). Manusia yang mengalami ini biasanya disebut menghidap hipotiroidisme.

Dengan keadaan seperti itu, meski tubuhnya besar, jadi masuk akal mengapa panda bisa bertahan hidup hanya dengan memakan bambu. 

Related

Science 4946198687133676607

Recent

item