Hal-hal yang Perlu Dipersiapkan Saat Menghadapi Tes Wawancara Kerja (Bagian 1)


Naviri Magazine - Menurut Weiner, wawancara adalah, “the term interview has a history of usage going back for centuries. It was used normally to designate a face to face meeting of individual for a formal conference on some point.” Sedangkan menurut Bingham & Moore, wawancara ialah, “conversation directed to define purpose other than satisfaction in the conversation itself.”

Dari kedua definisi tersebut, maka makna dari wawancara adalah pertemuan tatap muka, dengan menggunakan lisan (berbicara) dan memiliki tujuan tertentu. 

Berbeda halnya dengan tes tertulis atau tes ketrampilan lainnya yang mungkin masih bisa diprediksikan isinya, tes wawancara merupakan sesuatu yang bisa dibilang unpredictable, atau tak terprediksikan. 

Kita tak pernah bisa yakin siapa orang yang akan mewawancarai kita dalam tes wawancara kerja tersebut, bagaimana karakter orangnya, bagaimana sikap yang akan dibawakannya selama wawancara, dan yang paling penting; apa saja pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukannya selama sesi wawancara.

Karena ketidaktahuan semacam itulah yang menjadikan banyak pelamar kerja seringkali merasa ketar-ketir atau gugup ketika akan menghadapinya. Kadang-kadang kita sudah merasa siap dari rumah, telah berlatih selama berhari-hari, namun ketika hari H itu datang, kita jadi gugup tak karuan dan segala yang telah dipelajari pun seakan lenyap dari kepala.

Wawancara kerja diadakan dengan tujuan tertentu, yakni melengkapi tes tertulis yang telah dilakukan. Hal-hal yang tidak mungkin diperoleh dari tes tertulis biasanya akan digali melalui acara wawancara ini. 

Wawancara dilakukan bisa dengan tujuan spesifik, yakni untuk melihat bagaimana cara kita dalam menghadapi orang lain, atau bagaimana sikap kita dalam menghadapi suatu situasi dan kondisi tertentu, atau bisa pula untuk melihat sedalam atau seluas apa wawasan atau pengetahuan kita menyangkut pekerjaan yang kita lamar tersebut.

Di dalam acara wawancara, kita memang dituntut untuk dapat memberikan jawaban atau tanggapan yang memuaskan terhadap pihak perusahaan (si pewawancara), bukan saja pada pengetahuan kita akan pekerjaan yang kita lamar, namun juga terkadang tentang bagaimana sikap kita selama sesi wawancara. 

Sebenarnya, tes wawancara tidak jauh berbeda dengan tes tertulis, hanya saja tes wawancara dilakukan secara verbal. Artinya, kita harus mampu menjawab pertayaan-pertanyaan dengan lisan sebaik kita menjawab pertanyaan-pertanyaan melalui tulisan (tes tertulis). 

Mungkin inilah yang menyebabkan banyak pelamar kerja jadi merasa gugup, karena berbeda dengan tes tertulis yang dapat dijawab dengan santai (kita bisa memilih mana pertanyaan yang ingin kita jawab dulu), maka pertanyaan dalam tes wawancara harus dijawab secara langsung (tidak bisa dipilih-pilih).

Lebih dari itu, faktor lain yang biasanya menjadikan kita gugup dalam menghadapi tes wawancara adalah karena kita berhadapan dengan seseorang (orang lain) yang sebelumnya belum kita kenal, dan kita dituntut untuk dapat memberikan kesan yang baik kepadanya. Bagi orang-orang tertentu yang biasanya kurang mampu berkomunikasi dengan baik, sesi wawancara memang seringkali sangat merepotkan dan membuat deg-degan.

Namun harus diingat bahwa acara wawancara kerja bukanlah semacam acara interogasi. Walaupun keduanya sedikit serupa dalam hal menggali dan mencocokkan data, namun kedua hal itu berbeda, bahkan sangat berbeda. 

Yang pasti, cara yang digunakan dalam kedua hal tersebut berlainan. Interogasi lebih menekankan pada tercapainya tujuan, dengan berbagai cara dan akibat, baik secara halus maupun kasar, dan posisi interogator lebih tinggi dan bebas daripada pihak yang diinterogasi.

Nah, acara wawancara kerja jelas berbeda jauh dengan itu. Kedudukan antara si pewawancara dengan pihak yang diwawancarai sejajar dan seimbang, atau bisa dikatakan relatif setara. Kondisinya pun berbeda, karena di dalam acara wawancara tidak ada penekanan, dan juga tidak menggunakan kekuasaan. 

Bahkan dalam kondisi yang ekstrem, seorang pelamar kerja yang diwawancarai berhak untuk tidak menjawab pertanyaan yang diajukan, dan si pewawancara pun tidak punya hak untuk memaksa. Namun tentu saja hal tersebut akan sangat mempengaruhi penilaian dan pengambilan keputusan nantinya.

Baca lanjutannya: Hal-hal yang Perlu Dipersiapkan Saat Menghadapi Tes Wawancara Kerja (Bagian 2)

Related

Tips 5001148358959342508

Recent

item