Hustle Culture, Budaya yang Keliru dalam Memaknai Produktivitas Kerja


Naviri Magazine - Di dunia saat ini pastinya tak ada orang yang tidak butuh uang, kita berbondong-bondong melakukan apa pun untuk memperolehnya. Melakukan banyak hal agar bisa menghasilkan banyak uang untuk menyambung hidup. Bahkan aktivitas bekerja kini seperti kegiatan utama. 

Banyak waktu tersita hanya untuk bekerja, kita seakan-akan dituntut menyerahkan seluruh waktu untuk bekerja di mana pun dan kapan pun. Antara kebutuhan dan realistis, sekarang hanya memiliki batas tipis. Kita butuh uang namun kita juga butuh waktu beribadah, me time, makan dengan tenang tanpa harus memikirkan kerjaan, piknik, travelling dan lain-lain. Namun realisasinya kita kekurangan waktu untuk sekadar hangout bareng teman.

Sering kita mendengar ungkapan seperti imi, “Dulu pas mau main masih mikir-mikir tak ada uang, sekarang giliran ada uang susah nyari waktu buat main.” 

Banyak postingan orang yang memperlihatkan lagi kerja kantoran, kesibukan kerjaannya, dikejar deadline, ataupun kerja lembur. Memang itu tuntutan kantor, yang sekarang sudah menjadi gaya hidup, yang lebih dikenal dengan istilah Hustle Culture.

Hustle culture adalah gaya hidup dimana seseorang melakukan banyak hal, sibuk terus di mana pun dan kapan pun. Dengan gaya hidup itu, orang merasa puas, dengan merasa kerja keras dapat cepat sukses. 

Saat ini banyak orang mengansumsikan kalau hustle culture itu bagus, mengapresiasi orang yang sibuk kerja, sehingga bangga kalau dia sibuk kerja. Hustle culture dilakukan bukan karena kemauan, tapi karena kebutuhan.

Gaya hidup ini seperti menuntut kita buat selalu produktif, melakukan banyak hal dalam sehari. Kita tak boleh cuma tidur-tiduran, cuma nonton teve atau film terus. Bahkan untuk malas-malasan pun kita seperti merasa bersalah melakukannya. 

Kita merasa bangga kalau seharian bisa sibuk terus dan melakukan banyak hal. Padahal rebahan juga bagian dari pola hidup produktif lho, kita butuh waktu istirahat untuk dapat melakukan hal-hal baru, kreativitas, atau menemukan ide baru, atau sekadar rehat sejenak untuk aktivitas selanjutnya.

Kenapa hustle culture membuat kita salah dalam memaknai produktivitas?

Hustle culture menuntut kita untuk terus-menerus menghasilkan, menghasilkan, dan menghasilkan. Hustle culture tidak sepenuhnya bagus, justru karena tuntutan ini kita dipaksa untuk berpikir terus-menerus. Hidup di dunia yang kompetisinya sudah gila-gilaan sekali membuat kita mau tak mau bertahan dengan gaya hidup yang seperti ini.

Produktif menjadi sarana agar tetap bertahan hidup dan menghasilkan banyak uang. Tidak masalah kalau produktif ini tidak menyita waktu yang harusnya bisa digunakan untuk diri sendiri dan keluarga. Tapi akan jadi masalah dalam memaknai produktif apabila seluruh waktu dan hidup hanya untuk bekerja.

Produktivitas adalah kombinasi kegiatan produktif dengan faktor lainnya. Sehingga tidak salah kalau dalam sehari kita bisa bermalas-malasan, rebahan, atau sekadar menikmati hobi. Anggap saja itu reward terhadap diri sendiri yang sudah hustling selama berhari-hari. 

Hustle culture tidak menjamin cepat jadi sukses atau kaya. Kenapa? Dengan produktivitas dan kerja keras yang berlebihan, kreativitas justru akan menurun dan tingkat kebosanan pun akan cepat meningkat. 

Namun bukan berarti produktif dan kerja keras itu sia-sia dan tidak penting. Produktif dan kerja keras itu penting, apalagi di zaman yang kompetisinya sudah gila-gilaan seperti sekarang. 

Huslte culture juga yang memicu para milenials berpikir, “Kok aku masih gini-gini saja ya?” Padahal kenyataannya sudah banyak hal positif yang dilakukan dan dihasilkan. Kita hanya butuh me time untuk tidak terjebak oleh ambisi dan hustle culture. 

Menikmati segala prosesnya, mensyukuri apa yang sudah kita lakukan, memberi reward pada diri sendiri, adalah salah satu cara agar otak tetap sehat, lebih memacu kreativitas, dan tentunya tidak terjebak oleh kebosanan rutinitas. 

Related

Career 6528640421190774349

Recent

item