Ini Deretan Investasi yang Mudah, Murah, dan Gampang Hasilkan Keuntungan


Naviri Magazine - Investasi seharusnya sudah menjadi pos keuangan yang penting. Dengan berinvestasi, setidaknya bisa memberikan rasa aman untuk masa depan.

Produk investasi begitu banyak dengan karakter keuntungan dan risiko yang berbeda-beda. Buat kalian yang masih awam tentang investasi, ada sederet produk investasi yang bisa dipertimbangkan.

1. Emas

Emas bisa dibilang produk investasi yang populer. Siapa pula yang tidak tahu tentang logam mulia ini. Sudah cukup lama juga emas dijadikan sebagai produk investasi.

Memang harga emas bisa memberikan kenaikan yang setidaknya lebih tinggi dari inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Artinya, harta yang dimiliki tidak akan tergerus inflasi.

Rata-rata kenaikan harga emas bisa mencapai 5-10% per tahun. Namun di kondisi tertentu, emas bisa memberikan keuntungan berlipat ganda.

Seperti di masa pandemi yang membuat emas Antam sempat menyentuh level Rp 1.065.000, padahal di awal 2020 masih di sekitar Rp 600.000 per gram. Meskipun saat ini harganya sudah kembali turun, tapi setidaknya sempat memberikan keuntungan yang cukup besar.

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, mengatakan emas sangat cocok untuk semua kalangan. Apalagi saat ini Antam juga menyediakan pecahan emas yang lebih kecil lagi. Ada juga penjualan emas melalui e-commerce yang biasa dibeli dengan skema seperti menabung.

"Bahkan ada kepingannya 0,5 gram. Misalnya 1 gram sekarang Rp 900 ribuan, berarti sekitar Rp 450 ribuan. Bahkan kalau kita belinya lewat fintech, marketplace kan ada cicilan emas, punya duit nganggur berapa, masukin. Jadi lebih enteng lagi," tuturnya.

Perencana Keuangan Aidil Akbar juga mengatakan hal yang sama. Malah menurutnya emas memiliki keunggulan tersendiri karena sangat likuid, atau bisa dicairkan kapan saja jika si pemegang sedang membutuhkan uang.

"Emas itu yang paling mudah diakses dan likuid, bisa beli langsung dan sekarang ada pecahannya lagi. Return-nya juga lumayan, masih di atas deposito, masih 6-8% per tahun," tuturnya

2. Surat Berharga Negara Ritel

Pemerintah juga sering menerbitakan surat berharga ritel yang ditujukan untuk masyarakat umum seperti sukuk maupun ORI. Imbal hasilnya juga masih lumayan, sekitar 5,5%-6,5% per tahun, bahkan ada yang sampai 9% lebih.

"Bahkan pemerintah sudah menurunkan minimal penyertaannya, jadi bisa dari Rp 1 juta, dengan bunga yang lebih tinggi dari deposito," kata Andy.

Aidil menambahkan, ORI maupun sukuk ritel memang produk investasi yang terbilang aman karena dijamin negara. Namun likuiditasnya lebih rendah dari emas. Sebab ada ada masa tenor yang biasanya sekitar 3 tahun, artinya selama 3 tahun surat berharga itu belum bisa dicairkan.

3. Reksa Dana

Reksa dana merupakan produk investasi yang dikelola oleh perusahaan manajer investasi (MI). Perusahaan MI akan meramu produk-produk reksa dana dengan racikan kandungan investasi di dalamnya.

Ada berbagai jenis reksa dana, mulai dari reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, reksa dana saham, reksa dana terproteksi, reksa dana indeks, reksa dana dengan penjaminan, hingga Exchanged Traded Fund (ETF).

Jenis-jenis reksa dana itu tergantung dari pengelolaan dananya. Misalnya reksa dana saham, uang nasabah akan dikelola di pasar saham. Masing-masing MI memiliki racikan masing-masing.

Menariknya, sekarang perusahaan MI membuat berbagai produk reksa dana yang cukup terjangkau. Bahkan ada produk reksa dana yang bisa dibeli dengan harga Rp 100 ribu, tapi dengan konsep menabung.

"Risiko reksa dana ini tidak terlalu tinggi, tergantung jenisnya. Misalnya reksa dana pasar uang itu relatif hampir sama dengan deposito, rerturn-nya juga," kata Aidil.

Saat ini juga banyak fintech ataupun e-commerce yang menjajakan produk reksa dana. Artinya membeli reksa dana tidak ribet seperti dulu yang harus mendatangi kantor MI.

4. Saham

Berinvestasi saham di pasar modal saat ini semakin nge-tren terutama di kalangan milenial. Semakin mudahnya akses dalam pembukaan rekening saham menjadi salah satu pendorongnya.

Jumlah perusahaan yang mencatatkan sahamnya di pasar modal juga sudah sangat banyak, mencapai lebih dari 700 emiten. Saham-saham itu memiliki berbagai harga, mulai dari Rp 50 per lembar sampai puluhan ribu juga ada.

"Saham itu kan sekali beli 1 lot atau 100 lembar, misalnya harga saham Rp 1.000, berarti dengan Rp 100.000 kita sudah bisa beli saham. Ini bisa dibilang paling terjangkau," kata Andy.

Namun berinvestasi di pasar modal tidak bisa sembarangan. Andy menegaskan, diperlukan pengetahuan yang mumpuni sebelum terjun di pasar modal.

Aidil juga berpendapat hal yang sama. Menurutnya, saham merupakan produk yang bukan untuk semua orang. Ada risiko besar di saham. Jika tidak bisa memahami risikonya, dia menyarankan untuk tidak masuk ke pasar modal.

"Harus belajar dulu, apa itu saham, bursa efek itu apa. Ironisnya, sekarang banyak yang main saham tapi bursa efek saja mereka nggak ngerti. Bahkan mereka pikir bursa efek punya pemeirntah. Itu banyak tuh investor milenial seperti itu," tegasnya.

5. Waralaba

Menjalankan usaha bisa dibilang sama dengan berinvestasi, karena ada modal yang harus dikeluarkan. Namun tentu banyak pihak yang tidak siap untuk merintis usaha dari nol.

Nah, sekarang banyak peluang usaha dari pelaku usaha yang membuka peluang waralaba. Dengan membeli waralaba, setidaknya kita bisa langsung memulai usaha tanpa harus memikirkan konsep dan produk.

"Karena berbisnis juga masuk dalam kategori investasi juga. Waralaba mulainya ada yang Rp 10 jutaan, tergantung jenis bisnisnya. Kalaupun nggak ada modal sebesar itu, bisa dengan dropshiper atau reseller," kata Andy.

Namun Andy menegaskan, berbisnis waralaba memiliki risiko yang sama besar dengan investasi saham. Selain itu harus ada kemauan yang besar untuk menjalani bisnis itu.

"Beda dengan investasi lainnya ya, beli di awal terus kita tunggu itu berjalan. Tapi bisnis ini bisa memberikan keuntungan sangat besar. Misalnya jualan minuman teh, 1 box teh harganya mungkin sekitar Rp 10 ribu, tapi itu bisa jadi beberapa teko. Jual 1 gelas Rp 1.000 misalnya, itu untungnya bisa 100% lebih sehari. Besar sekali, tapi risikonya juga besar," tuturnya.

Related

Tips 6637409616864535860

Recent

item