Kisah Kelahiran dan Kepunahan Kaset yang Pernah Mengubah Wajah Dunia (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Kelahiran dan Kepunahan Kaset yang Pernah Mengubah Wajah Dunia - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Dalam editorial koran Ettela'at, misalnya, pemerintah menyebut kaset rekaman Khomeini sebagai usaha "Imperialis Hitam dan Merah" menguasai Iran. "Imperialis Hitam" yang dimaksud adalah kaum muslim konservatif, sementara "Imperialis Merah" berarti Uni Soviet. Singkatnya, Shah Pahlevi berusaha menciptakan opini publik bahwa upaya Khomeini mendiskreditkan dirinya merupakan bagian dari usaha komunis menguasai Iran.

Tak disangka, editorial tersebut berbuah petaka. Beberapa hari usai terbit, atau tepat pada 9 Januari 1978, lebih dari empat ribu mahasiswa turun ke jalan memprotes editorial "Imperialis Hitam dan Merah" itu. 

Nahas, pemerintah Shah gagap menghadapi demonstrasi dan mengakibatkan banyak mahasiswa tewas terbunuh timah panas polisi. Peristiwa ini akhirnya menyulut berbagai demo anti-Shah di seantero Iran. Setahun kemudian, situasi benar-benar berbalik: Khomeini berkuasa dan Shah terusir.

Bermula dari kaset rekaman, empat bulan usai berkuasa, Khomeini mengubah wajah Iran yang sekuler menjadi Republik Islam.

Tentu, Khomeini tak sendirian memanfaatkan kaset untuk menyebarkan gagasan-gagasannya.

Andrew McGregor, dalam "Jihad and the Rifle Alone: Abdullah Azzam and the Islamist Revolution" (Journal of Conflict Studies, 2003), tokoh di dunia Islam lain yang memanfaatkan kaset untuk menyebarluaskan pemikirannya adalah Dr. Abdullah Azzam, sosok kelahiran Tepi Barat, Palestina pada 1941, yang menggaungkan konsep modern tentang jihad. 

Azzam, yang mengenyam pendidikan di Damaskus dan Kairo serta lama bermukim di Amerika Serikat ini percaya bahwa Islam harus dapat modern dan berdiri berhadapan dengan "sekularisme Barat" serta "sosialisme Timur".

Melalui kaset rekaman ceramah-ceramahnya yang direkam di Amerika Serikat, Azzam berusaha merajut solidaritas gerakan Islamis di seluruh dunia lewat gagasan "jihad universal" yang tak terbatas pada area sempit di mana kelompok-kelompok jihad beroperasi. Azzam tak hanya memproduksi kaset, tapi juga terlibat langsung di garis depan dalam perang Soviet-Afghanistan (1979-1989).

Kaset populer sebagai medium penyebaran gagasan sebab mudah digunakan. Merujuk studi yang ditulis Charles Hirschkind berjudul "The Ethics of Listening: Cassette-Sermon Audition in Contemporary Egypt" (jurnal American Ethnologist, 2001), kemudahan ini tak hanya terlihat pada cara-cara sederhana Khomeini atau Azzam menyebarluaskan ceramahnya, tetapi juga fakta bahwa kaset sangat mudah diakses audiens yang dituju. 

Lebih dari itu, penggunaan kaset di kalangan gerakan Islamis Timur Tengah saat itu dianggap sebagai bentuk "kebangkitan Islam" yang menepis mitos bahwa kaum muslim gagap teknologi.

Di Mesir, penggunaan kaset untuk menyebarluaskan ceramah-ceramah keagamaan (terbebas dari agitasi anti-pemerintah Khomeini atau doktrin jidah ala Azzam) lazim ditemui di tengah masyarakat pada dekade 1980-an dan 1990-an. 

Kala itu, masyarakat Mesir mendengarkan kaset-kaset keagamaan untuk "mendisiplinkan diri", agar mereka tetap memperoleh pengetahuan tentang Islam "tatkala berkendara, naik bus atau taksi, hingga sedang bersenda gurau bersama keluarga". Kaset keagamaan dipandang sebagai cara terbaik bagi masyarakat Mesir untuk tetap saleh di tengah kesibukan duniawi.

Yang menarik, bagi masyarakat Mesir, kaset dakwah juga sempat dianggap tren dan simbol kesalehan.

Ingat, kaset merupakan alat semata. Tatkala zaman menghadirkan teknologi yang lebih baru, konten dakwah pun masuk ke medium baru. Greg Fealy dalam Ustadz Seleb, Bisnis Moral, dan Fatwa Online: Ragam Ekspresi Islam Indonesia Kontemporer (2012) mengemukakan bahwa pada pertengahan 2000-an, SMS populer digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan dakwah. 

Fealy mencatat perubahan medium ini lebih disetir oleh bisnis. Dakwah melalui SMS, catat Fealy, merupakan salah satu cara inovatif yang para pengusaha muslim, yang selain menyebarkan konten agama, juga menyasar pundi-pundi besar.

Menurut Fealy, ada 500.000 pelanggan layanan SMS dakwah premium pada 2006, tahun puncak keemasan dakwah via SMS . Ustaz Jeffry Al Buchory alias Uje, Ustaz Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, dan Ustaz Yusuf Mansur, merupakan contoh dai-dai yang sukses memanfaatkan metode dakwah ini. 

Seperti halnya kepopuleran kaset dakwah di Mesir, SMS populer karena perilaku masyarakat perkotaan yang kian sibuk. SMS keagamaan pun dipilih sebagai jalan menjaga kesalehan.

Tatkala zaman menghadirkan Youtube, Facebook, dan Twitter, konten-konten keagamaan pun 'bedol desa' ke sana.

Related

Technology 2888613960067192780

Recent

item