Mengapa Banyak Orang jadi Mudah Marah Selama Pandemi? Ini Penjelasan Ahli


Naviri Magazine - Pandemi secara tidak langsung mempersatukan umat manusia lewat aksi solidaritas dan gotong royong. Kita berdonasi, membantu sesama, dan kegiatan amal yang dapat meringankan kesulitan orang lain. Kita juga memberikan dukungan kepada orang-orang terdekat yang sedang membutuhkan. 

Akan tetapi, pandemi juga membangkitkan sisi terburuk manusia. Suasana hati kita mudah rusak, yang tak jarang berujung pada perilaku buruk.

Perkara lupa mematikan lampu atau menaruh kunci bisa merembet ke adu mulut dengan orang serumah. Masalah sepele pun bisa menjadi bahan untuk saling menyindir di Twitter, atau lebih parah lagi memancing keributan tak penting. 

Penulis Maya Kosoff menyinggung sikap gampang emosi ini, khususnya di dunia maya, dalam postingan blog Medium. Menurutnya, alih-alih meluapkan amarah pada orang dan sistem yang membuat kita kesal, kita justru mengarahkan kemarahan itu kepada keluarga dan orang-orang yang tidak bersalah. Kita melakukannya tanpa mengetahui seperti apa situasi mereka sebenarnya.

Pertanyaannya adalah, kenapa kita jadi pemarah dan mudah tersinggung? Terapis Ashley McHan yakin sebagian besar dari kita sudah capek. Seperti yang ditulis Kosoff, kita lelah dengan semua yang terjadi di luar kendali.

“Lama-kelamaan kita merasa capek,” McHan memberi tahu. “Jika situasi tak kunjung berubah atau membaik, kemampuan kita untuk mentolerirnya akan menurun… Kemampuan kita untuk menghadapinya akan berkurang.”

McHan menjelaskan, selama pandemi, kita telah menghadapi segalanya sejauh “jendela toleransi” yang kita miliki. “Jendela toleransi adalah kemampuan untuk mengatur emosi, menoleransi kesulitan, stres dan frustrasi, serta menanggapi masa-masa sulit,” terangnya. 

Dia mengibaratkannya seperti jendela yang terbuka sedikit. Kita bisa memasukkan apa pun selama ukurannya tidak melebihi celah. Begitu tekanan lebih besar berusaha untuk masuk, kita akan merasakan “rangsangan” yang tidak wajar.

Rangsangan itu bisa bersifat hypoarousal atau hyperarousal. Seseorang yang mengalami jenis pertama akan menutup diri sepenuhnya, sedangkan mereka yang merasakan hyperarousal akan bersemangat memperbesar emosi dan menyerang orang lain untuk melampiaskannya. 

Dalam keadaan hyperarousal, orang bisa sampai berteriak atau membanting pintu karena masalah kecil. McHan menyamakan sikap ini dengan kebiasaan mengamuk anak-anak, tapi yang melakukannya adalah orang dewasa.

“Hyperarousal secara positif membuat kita tersadar, tapi akan merugikan jika dibiarkan terlalu lama.”

Kalian bisa melihat seperti apa perasaan ketika melampiaskan emosi. Apakah kalian merasa lebih baik setelahnya, atau perasaan memburuk? McHan berujar, kalian bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri sendiri: “Apakah ini membawaku ke kondisi yang lebih diatur? Apa yang terjadi secara mental, fisik dan emosional ketika melakukannya? Apakah jadi lebih bijaksana dan tenang? Apakah merasa lebih gelisah?”

McHan mengingatkan pentingnya menenangkan diri secara privat agar tak perlu sampai mengamuk ketika marah. Kalian bisa menuliskan kekesalan yang dirasakan (lalu menyobeknya), berteriak sambil mendekap bantal, melempar bola tenis ke tembok, atau mandi air dingin untuk meredakan amarah yang meledak-ledak. 

“Sesuaikan intensitas perasaan, tapi jangan sampai membahayakan diri sendiri,” dia menyarankan. “Ketika perasaan sudah lebih tenang, kalian bisa menentukan bagaimana menanggapinya.”

Jujurlah pada diri sendiri apakah keluhan dan sindiran kalian di medsos akan membantu meluapkan amarah atau malah menyulut emosi yang lebih besar dan bertahan lama. Jika kalian tambah kesal, maka marah-marah bukanlah strategi yang tepat dan sehat. Perilaku ini takkan membuat siapa pun merasa lebih baik dalam jangka panjang.

Related

Psychology 7995543351689105378

Recent

item