Mengenang Nike Ardilla, Penyanyi Legendaris Indonesia yang Mati Muda (Bagian 1)


Naviri Magazine - Sejak lama, Bandung menjadi salah satu pusat kultural anak-anak muda. Tak heran jika industri musiknya tumbuh dengan baik. Kota Kembang menyumbang banyak musisi bertalenta, salah satunya Nike Ardilla. Namun sayang, penyanyi tembang "Bintang Kehidupan" ini pergi begitu cepat dalam kecelakaan pada 19 Maret 1995. 

Sehari sebelumnya, Nike Ardilla bersama manajernya, Atun, melakukan perjalanan dari Bogor ke Bandung menggunakan mobil pribadi. Nike saat itu baru selesai syuting. Mereka memulai perjalanan sekitar pukul 8 malam, dan sampai ke Bandung jelang tengah malam. 

Awalnya mereka mampir ke rumah keluarga Nike di Jalan Soekarno-Hatta. Setelah itu bertemu dengan teman musisi dan artis lain. Pertama ke Hotel Jayakarta untuk bertemu Gugun Gondrong, lalu ke BRI Tower untuk mengobrol santai bersama Titi DJ. 

Pada pukul 3 pagi, Nike dan manajernya merasa lapar. Keduanya memutuskan untuk makan di Restoran Kintamani. Lalu sempat mampir lagi ke Hotel Jayakarta untuk melanjutkan obrolan dengan Gugun Gondrong. Pada pukul 5.30 pagi, keduanya pamit kembali ke Bogor. 

Atun sempat menawarkan agar ia yang menyetir. Maklum, jadwal Nike padat. Belakangan juga lebih mudah kecapaian. Namun, Nike saat itu ingin tetap berada di belakang kemudi. Ia merasa tidak enak dengan manajernya. Atun akhirnya menurut. 

Perjalanan pagi itu agak terburu-buru. Nike harus segera kembali ke Bogor karena ada jadwal syuting pada pukul 08:00. Sesampainya di Jalan Raden Eddy Martadinata atau dikenal juga sebagai Jalan Riau, mobil Nike terhalang oleh mobil berwarna merah yang melaju dengan amat pelan. 

Pagi itu jalanan Bandung masih sepi. Karena sedang diburu waktu, Nike memutuskan untuk menyalip mobil merah tersebut. Tak disangka, dari arah berlawanan muncul mobil Daihatsu Taft yang melaju dengan kencang. Nike banting setir ke arah kiri. Mobil langsung menabrak sebuah pohon beringin, lalu terpental dan menabrak pagar beton bak sampah. 

Nike saat itu tak memakai sabuk pengaman. Ia dan Atun langsung dibawa ke rumah sakit. Atun selamat, meski sempat mengalami amnesia. Namun, pada pagi hari itu juga, Nike mengembuskan napas terakhirnya.

Penerus Nicky Astria 

Nike Ardilla lahir di Bandung pada 27 Desember 1975. Nama lengkapnya Raden Rara Nike Ratnadila Kusnadi. Bakat seninya sudah terasah sejak kecil. Di bangku sekolah, Nike diganjar banyak penghargaan dari kompetisi lokal maupun nasional. 

Nike yang masih amat belia pun didaftarkan oleh ibunya, Nining Ningsihrat, ke Himpunan Artis Penyanyi Musisi Indonesia, atau HAPMI. Awalnya ia memakai nama panggung Nike Astrina untuk bisa menyaingi Nicky Astria, penyanyi rock kenamaan era 1980-an. Namun, saat itu Nike belum punya lagu sendiri, sehingga ia sering menyanyikan lagu dari musisi lain. 

Nike diarahkan untuk bisa menguasai genre musik rock. Lagu langganannya antara lain "Hongky Ronk Woman" dari The Rolling Stones dan "The Final Countdown"-nya Europe. 

Nike mulai masuk dapur rekaman pada tahun 1986. Ia merilis single berjudul "Lupa Diri" yang dimuat dalam album kompilasi Bandung Rock Power. Ia juga sempat merilis album, tapi tidak laris karena usianya masih terlalu muda dan liriknya bertema percintaan. 

Nama Nike Ardilla baru benar-benar meledak setelah merilis album Seberkas Sinar. Album itu tercipta setelah Nike bergabung dengan Proyek Q Records pada Oktober 1989. Usia Nike saat itu baru 14 tahun. Tapi ia beruntung karena dikenalkan kepada Deddy Dores, sang maestro di balik lagu-lagu hits. 

Baca lanjutannya: Mengenang Nike Ardilla, Penyanyi Legendaris Indonesia yang Mati Muda (Bagian 2)

Related

Entertaintment 5645782913971369969

Recent

item