Setahun Pandemi: Apa yang Kita Tahu dan Tidak Kita Tahu Soal Virus Covid-19 (Bagian 1)


Naviri Magazine - Salah satu tantangan untuk memahami Covid-19 adalah bahwa semua perkembangan sains terjadi dalam sorotan publik.

Biasanya, saat Anda membaca tentang penelitian ilmiah di situs berita, temuan sains itu telah melalui tahap pengawasan, pengembangan, dan evaluasi. Baik terobosan dalam pengobatan kanker, pemahaman baru tentang otak, ataupun penemuan air di Mars, berita sains itu sering kali didasarkan pada makalah di jurnal yang dikirimkan beberapa bulan sebelumnya. Dan temuan itu pun biasanya sudah melalui proses penelaahan sejawat sebidang.

Sains sebenarnya terjadi di laboratorium, di dalam mesin MRI, atau di permukaan planet jauh sebelum diketahui manusia. Sains sebenarnya bukan suatu rahasia, tapi orang jarang memperhatikannya sebelum temuan tersebut diterbitkan dalam jurnal.

Yang berbeda dengan Covid-19 adalah kita semua, sebagai entitas publik, baik politikus, hingga jurnalis, mengalami peristiwa sains ini di garis depan. Dalam batas antara yang diketahui dan yang tidak diketahui, penelitian menjadi berantakan, membingungkan, dan terkadang kontradiktif.

Bias dan tendensi manusia melakukan kesalahan mungkin mempengaruhi cara pandang kita terhadap penyakit ini.

Tapi begitulah cara kerjanya. Inilah cara kita mengetahui bagaimana hal-hal di dunia terjadi, dan bagaimana kita bergerak maju menuju pemahaman yang lebih baik sebagai makhluk hidup. Kita bisa percaya bahwa sains memiliki langkah koreksi diri di dalamnya, karena ini adalah upaya bersama.

Temuan diuji dan terus diuji ulang, baik direplikasi atau tidak. Beragam kajian yang bermunculan memberikan gambaran lebih jelas dan 'sedikit lebih benar' tentang fenomena di dunia. Kita hanya perlu beberapa saat untuk sampai ke sana.

Urgensi pandemi tidak memberikan kita kemewahan berupa waktu untuk mencapai konsensus, menyatukan perbedaan dan menghindari yang salah. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri.

Temuan yang belum pasti benar dan tidak melalui proses penelaahan rekan sejawat sebidang kini diberi bobot lebih dari biasanya. Alasannya, belum ada bukti yang lebih kuat. Dalam beberapa peristiwa, suara tunggal yang kontroversial bahkan digaungkan.

Ilmuwan dengan pandangan berbeda, bersuara agar kita semua dapat mendengarnya. Adapun sebagian dari yang kita pikir kita ketahui satu tahun lalu kini sudah berubah, berkembang, tapi sebagian lainnya masih belum jelas.

Sekarang, satu tahun sejak pandemi dimulai, saatnya menelaahnya secara hati-hati. Apa yang telah kita pelajari dan apa yang masih belum jelas atau tidak kita ketahui? Dan pertanyaan baru apa yang muncul?

Ventilasi di dalam ruangan makin penting

Seiring dengan berkembangnya bukti ilmiah, upaya menghindari penularan via udara di dalam ruangan semakin penting. Membersihkan permukaan benda, memakai masker, dan mencuci tangan tetap penting.

Ventilasi ruangan untuk mengalirkan udara segar memiliki derajat urgensi yang setara dengan sejumlah protokol tadi.

Masker melindungi

Karena awalnya tidak ada data pasti, pada awal pandemi beberapa negara seperti Inggris enggan merekomendasikan pemakaian masker. Di sisi lain, negara lain menganjurkannya.

Kebijakan dengan pendekatan kehati-hatian terbukti unggul. Masker terbukti menjadi cara sederhana dan efektif untuk mencegah penyebaran virus corona. Namun, hanya memakai pelindung wajah tetap bukan pencegahan yang efektif.

Mencuci tangan mungkin masih penting

Di tengah urgensi karantina wilayah dan prinsip jarak sosial, faktor penting lainnya dalam memerangi virus corona terancam dilupakan, yaitu mencuci tangan.

Meski penularan melalui permukaan benda mati sekarang dianggap relatif tidak mungkin, ada bukti bahwa virus dapat ditemukan di tangan orang yang terinfeksi. Jadi, ada kemungkinan mereka dapat menularkannya ke orang lain.

Manusia juga memiliki kecenderungan untuk tidak sadar menyentuh wajahnya sendiri.

Virus mempengaruhi orang secara berbeda

Selain perbedaan usia, ternyata virus corona lebih berdampak serius terhadap laki-laki pria ketimbang perempuan. Beberapa kelompok ras juga terbukti lebih rentan daripada yang lain.

Beberapa orang juga memiliki semacam kekebalan tersembunyi yang misterius, yang mungkin sudah mereka miliki jauh sebelum pandemi terjadi.

Dapat merusak organ

Meskipun Covid-19 adalah penyakit akibat virus pernapasan, kerusakan yang diakibatkan virus corona tidak terbatas pada paru-paru.

Sekarang para ilmuwan tahu bahwa virus corona dapat menginfeksi sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan mempengaruhi berbagai organ penting lainnya, seperti jantung, otak, ginjal, hati, pankreas, serta limpa.

Efek virus ini ditemukan bahkan pada orang muda yang berisiko rendah. Tidak ada yang tahu berapa lama dampak terhadap organ tubuh itu akan terjadi atau apakah mereka akan sembuh sepenuhnya.

Baca lanjutannya: Setahun Pandemi: Apa yang Kita Tahu dan Tidak Kita Tahu Soal Virus Covid-19 (Bagian 2)

Related

Science 4053694933798237501

Recent

item