The Wolf of Wall Street: Kisah Intrik, Keserakahan, dan Kegilaan di Balik Dunia Saham


Naviri Magazine - Jordan Belfort adalah mantan pialang saham sukses yang dijuluki The Wolf of Wall Street, dan kini dikenal sebagai seorang motivator. Leonardo DiCaprio, yang memerankan Belfort, menjadi sorotan utama, namun film ini tidak hanya memiliki DiCaprio. Ada Matthew McConaughey, Jonah Hill, Jean Dujardin, hingga Kyle Chandler. 

Jordan Belfort (Leonardo DiCaprio) mengawali karirnya di Wall Street dengan bekerja untuk firma milik Mark Hanna (Matthew McConaughey). Lewat bimbingan Mark, Jordan mulai belajar menjadi pialang saham yang "baik", lengkap dengan gaya hidup hedon, seperti yang diajarkan sang mentor. 

Setelah peristiwa Black Monday yang mengejutkan dunia saham, termasuk membuat bangkrut tempatnya bekerja, Jordan pindah ke sebuah perusahaan bisnis penny stocks di sebuah kota kecil di Long Island. Berkat bekal dan bakatnya merayu dengan tipuan licik pada para klien, perlahan Jordan pun meraup sukses di sana. 

Tidak lama, bersama dengan teman barunya, Donnie Azoff (Jonah Hill), Jordan membuka perusahaan kecil-kecilan yang dinamai Stratton Oakmont. Dengan mempekerjakan beberapa teman Jordan yang lebih banyak berurusan dengan marijuana daripada saham, mereka pun memulai usaha dari nol. 

Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Stratton Oakmont menjadi perusahaan besar yang mempunyai banyak karyawan. Tentu semua itu berasal dari kelihaian mereka merayu, dan akhirnya "membuang" para klien yang sudah berinvestasi. 

Keserakahan Jordan membuatnya tidak tahu bagaimana mengontrol diri. Kehidupannya semakin liar, bahkan ia berselingkuh dan akhirnya menikah dengan Naomi Lapaglia (Margot Robbie). Semuanya lancar, sampai seorang agen FBI, Patrick Denham (Kyle Chandler), mulai curiga dan menyelidiki perusahaan tersebut.

Kisah film ini memang berada di seputaran Wall Street, bisnis saham, serta tipu menipu dalam hal perekonomian, namun jangan khawatir akan tersesat dalam berbagai istilah ekonomi yang membuat pusing. Naskah yang ditulis Terence Winter ini berbaik hati untuk tidak banyak bermain dengan istilah asing, dan jika pun ada, semuanya akan dijelaskan sejelas mungkin. 

Scorsese dan Winter tahu benar hal tersebut, bahkan di sebuah adegan Leonardo DiCaprio berbicara pada penonton (breaking the fourth wall) dan berkata bahwa ia memahami bahwa percuma membawa berbagai istilah cerdas tersebut, karena penonton akan pusing dan malah kesulitan menikmati filmnya. 

Lagi pula, The Wolf of Wall Street memang bukan berfokus pada intrik sahamnya, melainkan segala keliaran dan gaya hidup gila yang dijalani oleh para karakternya. 

Rasanya sah-sah saja jika menyebut film ini gila, dilihat dari konten yang ada, termasuk kuantitas konten tersebut. Kekacauan terjadi dimana-mana, hingga pesta pora yang bising dan gila terjadi di dalam ruang kerja adalah contoh kekacauan dalam film ini. 

Filmnya memang kacau, ceritanya kacau, karakternya pun kacau, tapi semua kekacauan itu dalam konteks kualitas film yang positif. Meski membuat film penuh kekacauan dan karakter yang hidupnya kacau balau, Martin Scorsese mampu mengemas film ini dengan begitu baik lewat penceritaan yang enak diikuti, dan sama sekali tidak membosankan meski mendekati durasi tiga jam. 

Anda akan dibuat terkejut bahkan tertawa melihat bagaimana kegilaan setiap karakternya. Perilaku gila dan tidak terkontrol yang semuanya dipicu oleh keserakahan, kelicikan dan kepuasan akan uang serta kemewahan yang tidak pernah terpenuhi. 

Cara Scorsese menggambarkan semua itu sekilas memang terlihat berlebihan, namun memang film ini berkisah tentang segala sesuatu yang berlebihan. Temponya berjalan cepat, secepat kesuksesan yang diraih oleh Jordan dan teman-temannya. Sama cepatnya juga dengan bagaimana mereka menghancurkan diri ewat segala kegilaan dan keserakahan.

Related

Film 3983963220563869500

Recent

item