Polemik Film Seaspiracy: Benarkah Ikan-ikan Akan Segera Lenyap dari Laut? (Bagian 1)


Naviri Magazine - Sebuah tayangan dokumenter mengenai dampak industri penangkapan ikan terhadap kehidupan bawah laut telah menghasilkan banyak perdebatan. Banyak penonton yang mengatakan bahwa mereka tidak akan mengonsumsi ikan lagi setelah menyaksikan film tersebut, dan mengaku terkejut akan skala industrial penangkapan ikan.

Sementara yang lainnya berargumen bahwa tayangan dokumenter itu terlalu menyederhanakan isu yang kompleks - banyak komunitas bergantung pada penangkapan ikan untuk mencari nafkah dan makan, dan faktanya mempraktikkan metode penangkapan ikan secara berkelanjutan.

"Jika tren penangkapan ikan saat ini terus berlangsung, kita akan melihat laut yang kosong pada tahun 2048," kata Ali Tabrizi, sang sutradara dan narator film.

Klaim ini datang dari sebuah studi tahun 2006 - film itu juga mengacu pada sebuah artikel di New York Times pada tahun yang sama, dengan judul "Studi Menunjukkan 'Keruntuhan Global' spesies ikan".

Namun, penulis utama kajian itu meragukan ketepatan penggunaan hasil temuan pada studi tersebut untuk menarik kesimpulan saat ini.

"Makalah tahun 2006 sekarang berusia 15 tahun dan hampir semua data di dalamnya hampir berusia 20 tahun," kata Profesor Boris Worm dari Universitas Dalhousie. "Sejak saat itu, kami telah melihat peningkatan upaya di banyak wilayah untuk membangun kembali stok ikan yang telah habis."

Banyak contoh dari penangkapan ikan berlebihan, penangkapan ikan yang tidak diperlukan dan hilangnya habitat bawah laut, juga berbagai isu terkait polusi dan perubahan iklim, kata Prof Boris Worm.

Tapi ia menggarisbawahi bahwa juga ada "banyak upaya yang tengah dilakukan untuk memperbaiki kerusakan yang telanjur dihasilkan."

Ada "ekstrapolasi (perluasan data) yang tidak realistis, jauh melampaui batas-batas data yang tersedia", kata pakar perikanan Michael Melnychuk dari University of Washington.

Dia mengatakan bahwa studi tersebut tidak diterima dengan baik oleh komunitas ilmu perikanan, dan prediksi ini "bertahan sejak saat itu".

"Penangkapan ikan berlebihan tentu merupakan masalah di berbagai wilayah di dunia, namun pada wilayah di mana regulasi penangkapan ikan didasarkan pada bukti-bukti ilmiah dan ditegakkan dengan tegas, maka sebagian besar stok ikan dalam kondisi baik," kata Dr Melnychuk.

Tema besar dalam tayangan dokumenter ini adalah dampak dari industri penangkapan ikan terhadap ekosistem laut, dan polusi yang disebabkan oleh sampah jaring ikan dan perlengkapannya.

Film tersebut menunjuk pada Great Pacific Garbage Patch - sebuah kumpulan besar puing-puing yang mengapung di Samudra Pasifik, yang terdiri dari banyak jaring.

"Kami banyak mendengar mengenai Great Pacific Garbage Patch (GPGP)... 46% diantaranya adalah sampah jaring ikan, yang lebih berbahaya untuk kehidupan laut daripada sampah sedotan plastik," kata seorang pecinta lingkungan, George Monbiot, yang juga kontributor untuk tayangan dokumenter ini.

Sebuah studi yang dikutip memang menyimpulkan demikian, namun memerlukan konteks.

"Perlengkapan pancing kebanyakan 'tebal' - lihat saja bola pelampung, keranjang ikan dan jaring," kata sang penulis kajian ilmiahnya, Boyan Slat. "Sampah ini terurai lebih lama dan mengapung; kandidat kuat untuk bertahan dan berkumpul di GPGP."

Plastik "tipis" lainnya, seperti kantong plastik dan sedotan, cenderung hancur dan tenggelam ke dasar laut.

Tabrizi berkata dalam film bahwa kampanye global pelarangan penggunaan sedotan plastik bagaikan "berupaya menyelamatkan hutan tropis Amazon dan menghentikan penebangan hutan dengan memboikot tusuk gigi".

Baca lanjutannya: Polemik Film Seaspiracy: Benarkah Ikan-ikan Akan Segera Lenyap dari Laut? (Bagian 2)

Related

Film 8917758869582480363

Recent

item